Selasa, 19 Desember 2023

high quality of the best egg yolk


“Mungkin terlalu terlambat untuk bilang maaf, aku tahu kamu nggak mungkin nerima aku lagi”, katamu sambil termenung.

Awalnya kukira semua akan berjalan sesuai rencana. Kau sudah menyimpan konten tentang cara asuh anak yang baik. Sudah menentukan kota mana yang lebih seru untuk dijadikan tempat bermukim. Dan sudah berjanji kepada ibuku untuk segera menemui beliau.

Terdengar klise, memang. Pengakuanmu yang terlambat— yang baru kau lakukan, setelah berkali-kali kamu menutupinya. Setiap aku bertanya tentang bagaimana perasaanmu, kau terlihat sangat gusar. Menjawab pertanyaan dengan pernyataan yang tidak menjawab. Kalau saja aku tau isi hatimu bahwa kau masih tidak mengerti dengan sesuatu yang kau lakukan, aku akan memaafkan. Lagi pun siapa yang menyangka perasaan lam selalu bertahan dan tidak akan pernah memudar? Beberapa hal membosankan tentu dapat untuk memicunya, sedangkan kebiasaan yang kita lakukan tidak jauh dari itu. Wajar saja bilamana kuanggap kau akan berkata demikian; cepat atau lambat.

Kau merasa bersalah dalam mengambil keputusan; sebagai pasanganku. Terbayang wajah yang entah siapa. Menderai waktu yang entah dimana. Bahkan kau sempat berfikir untuk mengizinkanku bertemu dengan perempuan yang lain. Bukankah menjawab pertanyaanku jauh lebih mudah daripada berkata bahwa kita akan baik-baik saja. Padahal kau tahu bahwa kita, tidak?

"Tak ada kata terlambat untuk meminta maaf, tapi untuk kembali aku rasa tidak perlu", sahutku.

Rasanya setelah ini aku perlu mengasingkan diri. Menjauh sesaat sembari memperbaiki diri agar tak selalu salah menjalin hubungan. Maklum saja, untuk menghasilkan hidangan utama yang lezat tentu memerlukan bahan-bahan berkualitas. Oleh karenanya aku ingin fokus memperbaiki diriku. Bukan untuk merubah stimulus melainkan tuk mengganti silabus, terdapat bagian-bagian tak terpakai yang perlu ditanggalkan. Ada baiknya rehat sejenak dari irai bising yang meremukkan kepala. Kurasa.

Ketidakbijaksanaan mengakibatkanku tidak becus dalam berbagai hal. Salah diantaranya adalah terlalu lama bermain perihal cinta yang memuakkan. Betapa mudahnya kubiarkan luka datang dalam kurun waktu berdekatan.

"Sudah cukup, kita tidak perlu melanjutkannya lagi", ujarku sekali lagi.

Minggu, 17 Desember 2023

Erotomania


Tidak ada satupun ingatan yang dapat menggantikan ingatan yang lain. Terlalu gegabah jika aku berkesimpulan waktu akan membantu untuk melupakan sesuatu. Aku tidak akan lupa. Seperti manusia yang akan datang dalam hidupku pada hari ini, tidak akan menggantikan siapapun yang sudah datang terlebih dahulu. Tapi sayang sekali, pada akhirnya disinilah kita berhenti sekarang. Kembali menjadi asing yang yakin kalau kehidupan satu sama lain sudah tidak lagi penting.

Di titik ini walau penuh kekesalan, aku sedikit mengambil nafas lega. Meski sadar hatiku sekarang mengalami fase genting, aku tak ingin sedikitpun bergeming. Memang ternyata akulah yang telah melebih-lebihkan segalanya. Mengira kau adalah rumah, padahal bagimu aku hanyalah bahan uji coba. Akulah orang yang terlalu mudah terbang oleh delusiku sendiri, sebelum akhirnya terbanting ke tanah tanpa aba-aba; penuh luka-luka, bermandikan darah-darah. Momen-momen indah yang selama ini kuimpikan akhirnya jadi nyata tanpa adanya balasan. Aku yang terlalu berlebihan dengan lancang telah menuduhmu sudah memberi harapan tanpa serapahku. Pelukan hangat yang kau tawarkan waktu itu adalah murni sebuah pertolongan, bukan bermaksud menaruh perasaan, begitu katamu.

Namun aku tidak semudah itu untuk dibohongi. Gelagat demi gelagat mencurigakan dari dirimu telah kupelajari sejak musim panas lalu. Apakah kau tau, setiap manusia memiliki kebiasaan aneh setiap kali berbohong? Selepas dengan berhasilnya misimu, kau memunculkan suatu sikap yang kurang menyenangkan, menyebabkan semua praduga yang kukaji selama ini dirasa benar.

Aku tak mengira bahwa kau telah merencanakan ini sejak awal. Tadinya, perselisihan kecil diantara kita hanyalah debat biasa. Permasalahan-permasalahan ringan yang dibesar-besarkan kuanggap sebagai keinginanmu untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersamaku. Ternyata aku salah. Penghianatan secara terang-terangan merupakan sesuatu yang sangat tidak aku tolerir. Aku mulai mengerti mengapa kau begitu mencemburuiku dan melarangku untuk meladeni orang baru, rupanya hal-hal yang pernah kau tuduhkan secara tak mendasar merupakan cerminan atas perlakuanmu sendiri. Dimana polemik kau ciptakan agar tak merasa bersalah dikemudian. Keterlaluan.

Bukan perpisahan yang disesali tapi mengapa kau memilihku seakan semua ini tak berarti. Atas dasar apa kau berani menjadikanku sebagai objek membalas dendam. Mengapa pula harus terjadi dalam lingkup waktu sesingkat ini? Aku sedang berusaha mencari presepsi, namun lagi dan lagi, aku tak menemukan bahwasanya kau benar-benar mencintaiku. Faktanya menang tidak pernah ada kata kita untuk saat ini dan juga nanti. Faktanya memang aku yang jatuh cinta sendiri.

Ternyata, selain harapku menuju ke arah yang salah, kau memang berniat menghancurkanku secara sengaja.

Rabu, 13 Desember 2023

www.idx.co.id


Tidak, tidak, tidak.
Tidak lagi, tidak mungkin terjadi lagi. Apa ini? Sebuah penghinaan.

Bagaimana bisa aku dimanfaatkan dengan begitu mudahnya tanpa disadari. Sebuah konspirasi dimana aku tak mengira dapat dipermainkan, dengan bodohnya tertipu akan bualan yang kukira sungguhan. Memalukan.

Luar biasa, memang!

Manusia sangat penuh dengan tipu daya, tak heran jika berbagai persepsi yang dinyatakan berbanding terbalik dengan watak yang disembunyikan. Seperti halnya data intern perusahaan yang tersebar diberbagai platform sosial media. File-file penting tidak akan disebar-luaskan, yang mana pernyataan-pernyataan tertentu merupakan sebuah informasi yang tidaklah valid. Persis seperti perkataanmu sewaktu lalu, penuh omong kosong.

Seharusnya sedari awal aku menyadari bahwa menjatuhkan hati pada seorang manipulator yang tak pernah melegalkan janji dalam kamusnya merupakan suatu kebodohan. Aku mengira rangkaian kisah dari kita berdua dapat dinikmati sebagai satu-kesatuan. Agaknya belum cukup waktuku untuk membalas segala aduanmu. Lantas jika bagimu tadinya aku adalah seorang pemenang, pada akhirnya malah orang lain yang kau ajak berpesta dengan riang, padahal ia tidak ikut andil dalam berperang. Dasar penipu.

Aku takkan memikirkan ini secara berlarut. Walau bagiku kau begitu menyebalkan, akan kusimpan peristiwa ini sebagai bentuk dendam. Biarpun ingin kutumpahkan secangkir teh panas agar wajahmu melepuh. Akan tetapi, tidak mungkin aku melakukan itu. Waktuku terlalu berharga untuk menemui dirimu yang begitu rendah.

"Selamat", kataku.

Sekarang kusiapkan perasaanku tuk memudar. Aku kan memperkecilnya untuk mencintai diriku sendiri, sewajarnya saja. Rasa mencintai yang terlalu besar membuatku kehilangan hal-hal indah disekitarku, termasuk empati pada orang lain sepertimu. Darimu aku belajar bahwa yang selalu bersama belum tentu diajak selamanya. Setiap memori indah harus siap dilepaskan begitu saja. Selaksana bunga mawar yang telah layu meninggalkan duri, kau merupakan kenang yang tidak ingin kuulang kembali. Setiap orang memiliki masanya, dan setiap masa memiliki akhir cerita.

Selasa, 12 Desember 2023

25+


Bagi seseorang yang telah menggadaikan hampir separuh hidupnya sering kali berkata bahwa umur hanya angka. Namun kurasa pemikiranku sedikit berbeda.

Aku bercita-cita menikah pada usia muda, karena dalam pandanganku, menikah adalah suatu hal yang harus disegerakan. Diluar dengan kebiasaanku yang sangat menyukai anak kecil, tentu datangnya buah hati dapat menambah tingkat kegemasan pada hidup yang sedang dijalani. Memang begitulah tujuanku, keinginan yang cukup sederhana tetapi memerlukan proses yang sulit untuk memperolehnya. Dalam berbagai aspek saja contohnya dapat menciptakan kegagalan. Salah satunya adalah cerita kemarin, lebih dari dua kali aku telah mempersiapkan diri untuk melaju ke jenjang pernikahan, ternyata takdir berkali tak sepakat dengan itu. Bahkan aku sempat salah dalam memilih seseorang. Faktor yang justru sangat-sangat vital.

Menarik untuk dikata, beberapa dari kerabatku rupanya juga pernah mengalami kisah cinta yang hampir serupa. Bahwa mereka pernah merasakan tergelincir dalam nestapa. Maka tak heran jika aku mendapati giliranku kali ini. Semacam tongkat estafet yang ditukar secara berurutan. Berganti-gantian.

Akan tetapi ada sedikit pembelajaran yang dapat kupetik, bahwa hidup tak melulu soal percintaan. Ada kalanya periode waktu bisa merubah jalannya cerita. Bahkan terkadang semesta menunjukkan bahwa ia juga ikut andil dalam melukis kehidupan. Manusia bisa berspekulasi, namun semesta berhak memberi interupsi. Hal-hal bersifat fasis juga patut dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Terkadang sebagian besar manusia lupa akan hal tersebut, beberapa diantaranya pernah terjerumus akibat keegoisan, termasuk aku kala itu. Maklum saja, mimpi ditengah tidur siang sangat menyenangkan untuk dilanjutkan.

Saat ini aku tidak begitu menggebu mengerjar sesuatu. Meski tidak sedikit dari temanku yang perlahan telah menemukan orang baru menyarankan untuk aku segera menyegerakan. Ya walaupun mereka berpikir aku berhak untuk mendapati kebahagiaan. Akan tetapi bagiku yang jauh lebih mengetahui hidupku sendiri daripada orang lain sangat tidak berkeinginan untuk ikut berpartisipasi dalam perlombaan. Sebab, aku beranggapan masih banyak benda berserakan yang perlu dibereskan. Selama aku belum mampu sembuh sendiri, aku takkan berani membuka hati. Biarkan saja berlalu untuk waktu yang tak menentu.

Apabila suatu hari nanti aku mempunyai kekasih. Tidak menutup kemungkinan aku akan mengiyakan perkataan mereka. Karna cepat ataupun lambat. Aku perlu untuk menyusul. Mengejar ketertinggalanku yang telah tertunda berkian taun.

Jumat, 08 Desember 2023

Sweet Corn ≤ Eggplant


Setelah perkenalan kita aku harap semuanya kembali normal. Kau menjalani aktivitasmu sedang aku dengan rutinitasku. Juga beberapa hal yang terbiasakan aku harap segera dilupakan. Karena padanya, sungguh, aku tak bermaksud menjadikanmu tujuan.

Bukan perkara hal yang mudah untuk kembali menulis cerita pada lembar yang telah lama ditanggalkan. Melainkan, aku hanya perlu memastikan bahwa kelak aku tidak salah dalam menentukan pilihan. Mungkin sebagian dari temanku telah menyetujui bahwasanya hidup tidaklah pasti. Ada beberapa bagian perjalanan yang memang bekerja sebagai batu loncatan. Tentu saja, menggantungkan sebujur asa dimasa depan pada seseorang yang baru dikenal seperti berjudi dengan taruhan paling sedikit. Resiko kalah itu pasti, menang pun tiada arti. Seakan semua itu dapat dilalui tanpa memperoleh pelajaran apapun dalam kehidupan. Begitu perkiraanku.

Mula-mulanya kau menengadahkan hatiku secara terbuka. Menabur benih setiap kali menambatkan langkah, mengatur irama, membagi rasa secara seksama. Tadinya kukira vas bunga yang kau berikan padaku merupakan sebuah cinderamata selepas kepulanganmu dari pulau Dewata. Rupanya kau bermaksud lain. Ada tujuan terselubung yang tidak kuketahui. Namun seiring dengan insting perasa yang sejak dulu makin terasa, kepekaanku kian sensitif. Aku mulai mengerti mengapa begitu sering kau memintaku untuk berkunjung ke pemukimanmu. Alih-alih menyanggah pernyataan, nampaknya ajakan tak biasa itu merupakan alibi agar sebagian dari kerabat dekatmu mengetahui keberadaanku.

Tetapi, tunggu!
Kau tidak bisa semena-mena seperti itu.

Kau luput dalam satu hal yakni, ketertarikanku. Aku tidak semudah itu untuk dimenangkan. Sekonyong-konyong membumi-hanguskan hatiku dengan cinta adalah perilaku yang konyol. Meski kau menarik dari berbagai aspek dan versi, tapi tetap saja ada ruang yang membatasi. Perkara yang sulit untuk dirubah ialah fakta bahwa kau terlalu muda. Untuk seorang sepertiku yang telah  menghabiskan waktunya mengagumi perempuan dewasa sebagai kriteria idaman, kau nampak kalah telak dalam penilaian. Bukan maksudku mendiskriminasikan. Namun sedari awal, aku tak tertarik untuk mengauli seseorang yang dibawah batas usiaku. Secara tidak langsung aku tidak ingin memiliki hubungan, beberapa stigma membenarkan jikalau fakta dilapangan memang berkata demikian. Bagiku untuk menanggapi hal serupa yang menghabiskan energi berkepanjangan tidak layak dipertaruhkan. Aku tidak cukup tenaga untuk membentengi diri dari banyolan-banyolan yang menuntut untuk dimengerti. Sudah, tidak lagi.

Rasanya cukup bagiku untuk merangkum isi kepala. Setelah berbagai macam stimulasi yang sudah dijalani, kenyataannya kau tidak berhasil membuat pintu hatiku terbuka. Walaupun alam bawah sadarku terpecah menjadi dua antar pikiran dan logikaku. Pikiranku percaya bahwa kau dapat menjadi pengganti untuk meredakan malam-malamku yang muram. Sedangkan logikaku berkata, bersamamu takkan mendapati hal-hal baik. Pada akhirnya logikaku berada dibarikade paling depan, menjaga para koleganya agar tak merasakan kepahitan. Meski tidak ada yang sempurna didunia ini, aku tidak berani berspekulasi. Diantara ragam opini yang memulai peperangan, ideologiku tentang kedewasaan masih menjadi pemenang dalam sayembara. Aku kurang memadai dalam menyediakan banyak waktu untuk menghadapi sisi manja yang menyebalkan. Sepertinya.

Barangkali membersamaimu cukuplah menjadi sebuah kenangan, yang perlahan ditelan waktu; menjadikannya kian pudar. Karena sekarang yang terpenting adalah mengatur siasat agar posisi kita kembali berimbang.

Tak peduli kau sejauh langit atau sedekat langit-langit. Aku tidak ingin terdistraksi.

Kamis, 30 November 2023

Tic Take Two

 

Seperti halnya sebuah romansa klasik telenovela, jatuh cinta pada seseorang yang tak terduga adalah suatu perjudian.

Entah karna terlalu terlena atau aku yang tak pandai membaca rambu-rambu. Sesekali selipan senyum tipis pada tawamu membuat hormon oksitosin dalam tubuhku berpencar ke segala penjuru. Memaksa jantungku tuk berdetak lebih cepat, memacu adrenalin kembali mencuat. Aku berani bertaruh bahwa sesiapapun dari 7 milyar manusia yang ada di dunia takkan sanggup bertahan 5 detik menatap wajahmu. Karna sungguh, aku pun begitu. Menyadari bahwa kau memiliki daya pikat yang begitu magis sampai kiranya mampu tuk menghipnotis seluruh penghuni alam semesta. Mereka bilang, langit malam dengan ribuan bintangnya mengakui bahwa kau tak kalah indah. Begitu katanya.

Padamu lah aku berani berlabuh. Meski sewaktu-waktu ombakmu yang keras itu dapat membentum secara sporadis, aku tetap mendaratkan jangkar. Bagiku, tak peduli jika harus membayar mahal untuk kehilangan sebuah kapal. Harga yang cukup pantas mengingat apa yang bisa kau tawarkan dan sajikan sebagai obrolan ditengah santap malam. Sebuah perjudian dengan taruhan yang cukup besar adalah suatu kewajaran. Sebab, nadamu sanggup membeli bahagia. Sedang tawamu mampu membuatku hidup berkecukupan.

Aku tidak ingin menjadi sebuah paragraf kecil dari bagian cerita pendek yang kan berlalu dan terbuang. Melainkan aku ingin dirimu tuk selalu mengingat bahwa ada seorang laki-laki yang siap menjemputmu kapan pun kamu mau, dengan tulus, bagaimana pun resikonya, tanpa batas, juga tanpa banyak harapan. Laki-laki yang bahkan menyukai rasa itu, sebuah perasaan suka tanpa harus memilikimu.

Biarpun akan ada banyak persepsi-presepsi tidak menyenangkan yang kan bermunculan. Tentu tak mengherankan jikalau aku meminta kau kembali bersiap membangun rumah. Memperbaiki bagian-bagian yang hampir usang agar nampak seperti baru. Beberapa hal yang terdapat disudut ruangan diantaranya perlu tuk diganti. Terus terang aku tidak ikhlas membiarkan sepasang bola matamu yang sangat indah itu memandangi hal-hal yang mempunyai sifat keburukan.

"Kamu benar-benar yakin?", tanyamu.

Tenang saja, aku takkan terburu menderai sesuatu. Hiduplah seperti biasanya dan sebagaimana mestinya. Biarkan kilas balik yang terjadi belakangan ini sebagai pembelajaran untuk mensiasati waktu. Siapa tahu, mungkin di massa selanjutnya. Kita berbagi cerita.

Senin, 27 November 2023

lakuna


Beberapa orang mengatakan, akan ada masa dimana detik-detik dalam hidupmu adalah momentum ketika semua kenangan kembali diputar satu persatu. Mungkin bagi sebagian besar manusia telah mengalami kejadian serupa. Dimana rasa sepi berimplikasi menjadi bagian puisi yang biasa disebut dengan rindu. Tentu saja, hal semacam itu tak luput untuk seorang sepertiku.

Sebuah notifikasi Google Drive membangunkanku dari bunga tidur. Sekilas sejumlah foto dengan tempat ikonik pada sebuah film yang berlatar tahun 1990 muncul diberanda paling atas. Aku mengamatinya. Dalam beberapa saat, diriku seolah mematung. Ingatan masa lalu menyusup seperti suara yang mengganggu. Teringat saat betapa lugunya aku tersipu malu ketika pertama kali mendapati pesan darinya. Tiba-tiba semua alasan itu tersebar memutar dikepala. Tentang apa yang membuatku menyukainya. Tentang bagaimana perasaanku mendadak bergerak tidak beraturan ketika sedang memikirkannya. Tentang dirinya yang masih sama padahal harusnya ia tampak berubah.

Aku masih ingat dengan suasana pagi saat kami berjalanan beriringan, pakaian yang ia kenakan, raut wajahnya ketika mengucap sapaan, bahkan aroma parfum yang ia pakai hari itu masih membekas dalam ingatan. Ya bilamana waktu bisa diulang lagi, aku akan tetap memilih untuk jatuh hati padanya, karena aku sungguh menyukai tahun itu.

Ia datang bersama bahasa baru yang membuatku takjub. Kemampuannya membalut hening dengan senyuman yang teduh; mampu membuatku luluh. Tutur katanya begitu manis. Hingga tanpa sadar aku semakin dalam mencintainya.

Dulu ia pernah bertanya, mengapa harus ia yang kujatuhi perasaan? Dan, aku pun tak pernah merasa memiliki jawaban. Aku beranggapan bahwasanya kita sendiri tidak dapat memilih hati kita jatuh untuk siapa. Kemanakah ia akan berlabuh? Dimanakah ia memutuskan tuk bertandang? Kesemuanya itu hadir tanpa alasan. Sebab, hal-hal seperti itu tidak dapat diprediksi atau ditentukan seenak jidat, karena pada dasarnya hati akan memilih bilamana ia telah terpilih. Ia pun bertanya kembali, sehebat itukah ia dimataku? Kurasa aku tak perlu menjawab pertanyaan itu. Lihat saja bagaimana ia selalu mampu membuatku tersenyum sebelum beranjak tidur.

Kita memang berasal dari dua suku yang berbeda. Lantas kala itu, aku pun sempat meragu. Apakah mungkin seorang prajurit biasa dari kerajaan Blambangan dapat merebut hati seorang tuan putri dari tanah Pasundan? Dimensi tentang kami saling berbenturan. Ia yang terbiasa menata barang secara perfeksionis berbanding terbalik denganku yang tergesa-gesa dalam melakukan banyak hal sekaligus. Namun saat pertama kali mata kami saling menatap, juga genggaman kami saling mengerat. Aku sadar saat itu kami dapat mengguncang dunia bersama. Ketika senja sedang menguning dijalanan, ikrar janji kami sedang dilantunkan.

Walau kini aku tak menemukan jejak dirinya dimanapun, nyatanya aku tetap bersyukur karna setidaknya ia telah menjadi seseorang yang pernah kusebut dengan rumah. Meskipun hanya sekedar mengira, aku tetap merasa beruntung karena pernah dibahagiakan olehnya sehebat itu. Biarpun secarik kata, kisah kami tak berakhir abadi. Perjalanan dengannya akan selalu menjadi cerita terhebat yang kan kusimpan diufuk cakrawala bersama dengan bagian menyenangkan pada tiap halaman dalam petualangan hidupku.

Jumat, 24 November 2023

(flightless-angel)


Kudengar kau akan pergi jauh meninggalkan kota. Selepas dua kali pertemuan tak disengaja mungkin sebaiknya aku tak menatap wajahmu untuk berkian kalinya. Karena bagaimanapun, bertemu kembali denganmu bukanlah sebuah anugerah. Aku tak ingin membiarkan wajahmu bersemayam lama dimemori, kemudian terlarut dalam kenang yang menghadirkan delusi. Mengakibatkanku harus bekerja lebih ekstra menyapu semua ingatan itu kedalam tempat sampah yang akan segera kubuang. Selayaknya sebuah reuni akbar dengan perhelatan besar, hal yang kita lalui takkan berakhir manis sesuai dengan rencana. Rupanya semesta telah mempersiapkan situasi tak terduga, yang tadinya kuharapkan hal tersebut merupakan sebuah hadiah terindah, ternyata justru sebaliknya.

Aku telah mencintaimu selama semusim dan akan bertambah perkara jumlah waktu bermukim. Sementara kau pun pernah mencintaiku untuk waktu yang tidak pernah diketahui. Sebab ketika aku mencoba mencari tahu, aku malah semakin percaya, bahwa kita memang tidak ditakdirkan bersama. Kau dengan sikap otoritermu sedang aku dengan rasa empatiku merupakan dua senyawa yang tak akan menyatu dalam satu larutan yang sama. Ketika harap dalam langitmu mulai memutuskan untuk pergi, hanya kemungkinan kecil ia akan kembali. Sebagaimana derai hujan yang telah usai. Mempertahankanmu sulit dicapai.

Memang hukuman paling adil dan sebaik-baiknya keadaan adalah demikian. Walau tak luput dari sedikit penyesalan, hati kecil yang sudah kupelihara sejak masa remaja ini harus tetap teguh menerima kenyataan. Meskipun terkadang sikap positifme menghancurkannya perlahan dari dalam. Terkadang keputusan-keputusan tidak relevan berdampak sangat merugikan. Menciptakan ruang semu yang membelenggu suatu ingatan. Seperti halnya rindu yang tercipta untukmu, hal semacam itu tak seharusnya diperlihatkan.

Aku mengerti alasanmu menjauhi kota ini adalah untuk menghindari berbagai macam pertanyaan penuh spekulasi yang tiada henti dilontarkan oleh mereka-mereka yang penasaran. Maklum saja beberapa diantara mereka tak sengaja mengetahui perihal apa yang pernah kau lakukan. Akan tetapi sebagaimana tokoh dalam cerita dengan watak penuh tipu daya, kau bertingkah seolah-olah tiap kalimat itu adalah ucapan yang mengada-ada. Kepandaianmu dalam mengelak membuat mereka percaya bahwa kau tak sepenuhnya bersalah. Lantas tanpa menaruh curiga kau berbahagia bersama kekasih baru yang kau temui ditengah pesta. Tak mengapa. Lagipula sejak dulu kau tak pernah bersungguh-sungguh kepadaku.

Dapat dikatakan kemampuanku untuk bangkit saat ini telah habis. Aku tidak akan tertipu hawa nafsu dengan mengikuti jejakmu. Sesegera mungkin berkencan dengan seseorang yang baru kukenal terdengar sedikit menjengkelkan. Melibatkan orang lain untuk mengobati luka lama akibat permasalahan sendiri merupakan sifat dari seorang pengecut. Walau sesaat aku mengakui, aku tak dapat melalui ini (sendiri). Kesendirian mempercepat rasa sedih dalam hati berfluktuasi. Kehadiran orang lain memang cukup membantu tuk melupakan, sebagaimana yang kau lakukan. Kau dengan cepat memperoleh pengganti sedangkan aku secara alam bawah sadar masih mengharapkanmu kembali.

Terlalu naif memang ketika berfikir bahwa kepergian adalah hal biasa. Karena dalam cerita ini, meski kau menyakiti, aku tetap gagal membenci.

Selasa, 14 November 2023

a song whose written by meghan trainor part 2


"Kalau saja kita tidak berteman sejak dulu mungkin aku sudah menaruh rasa ke kamu". Kalimat itu merupakan kalimat yang tak sengaja terlontar dari mulutmu kala aku sedang menemanimu membeli cappuccino dingin pada hari yang cukup terik di kota ini.

Untuk sejenak aku tertegun, apa karena itu selama ini kau tidak mau untuk menjalani hubungan lebih denganku sekalipun aku telah meminta? Apa karena itulah yang tidak menjadikan kita menjadi kata, kita. Semua orang telah mengetahui bahwa tidak ada seseorang yang jauh menyayangimu lebih dari aku. Hanya saja karna situasi menyebalkan ini. Kita terperangkap bak aliran air yang tak tau kearah mana ia harus bermuara.

"Seandainya memang begitu mengapa tidak mencoba saja?", ujarku demikian. Aku sama sekali tidak keberatan kalau kita menjalin suatu hubungan. Terlebih lagi itu merupakan suatu keuntungan bagiku dimana aku tak harus memulai kisah dengan seseorang yang baru.

"Sejujurnya untuk saat ini.. Kamu udah ngasih semuanya buat aku, kamu udah jadi apa yang aku mau, apa yang aku butuhkan. Terlepas dari status kita yang hanya sekadar teman tapi aku mengerti bahwa perlakuanmu tidak seperti itu. Aku pun turut menyadari bahwa apa yang sedang kita lakukan saat ini bukanlah suatu kegiatan yang sering dilakukan oleh beberapa manusia dalam hubungan pertemanan. Aku tahu kita lebih dari itu. Akan tetapi untuk berandai-andai hubungan kita berjalan lebih dari ini terus terang sangat mengkhawatirkan. Aku rasa aneh tuk menjalaninya. Mengetahui bahwa nanti aku akan terlalu mencemburuimu, juga kamu yang akan memarahiku atas ketidaksukaanmu terhadap apa kuperbuat, itu terlalu berlebihan. Berucap kata sayang satu sama lain tidak menggelikan kah bagimu?".

Mendengar hal itu aku sedikit pesimis dengan situasi yang terjadi. Memang benar aku berharap bahwa hubungan bisa disiasati untuk beranjak lebih. Karna mau sehebat apapun ia bersikeras dalam menyanggah, aku tetap tahu bahwa sebenarnya ia juga mencintaiku.

"Lalu apa kamu dapat memastikan suatu saat nanti kita takkan berpisah?", sambungmu.

"Sudah terlalu lama kita bicara hingga aku lupa bahwa kita pernah membicarakan tentang rasa. Sejujurnya aku tidak tahu saat ini hatimu milik siapa, tapi kamu selalu bilang bahwasanya kamu selalu merasa nyaman saat bersamaku. Kita ini apa? Kita sedang melakukan apa? Tidak bisakah seluruh yang kita jalani ini memiliki arti dan sebuah nama? Aku tidak siap jika harus kehilangan", ujarku.

Sejenak ia terdiam, menarik nafas panjang kemudian menatap kearah depan. Aku mulai berfikir, mungkin sebentar lagi ia akan melontarkan kata-kata tak pantas dengan sedikit nada tinggi. Namun selama beberapa saat berselang ia tak mengucap sepatah kata, dan tanpa sadar air matanya menetes perlahan kala ia mulai bersuara.

"Kamu tidak mengerti seberapa khawatirnya aku jika hal itu terjadi. Apa kamu pikir hanya kamu saja yang takut kehilangan? Itu salah besar!  Kamu tau apa alasanku menolakmu saat kamu menyatakan perasaan tuk pertama kalinya. Berkali-kali kamu selalu bertanya dan jawabanku tetap sama. Aku pikir kamu akan mengerti, tapi sepertinya kamu tak sepintar yang kukira. Kalau kamu bertanya hatiku milik siapa, sudah jelas sedari awal itu memang milikmu", ujarnya dengan lantang.

Jantungku berdegup kencang mendengar pernyataan yang sangat tidak terduga itu. Kendati begitu aku mulai menyadari maksud dibalik perkataannya. Jawaban atas mengapa ia menolak tuk kali pertama adalah keterikatanku dengannya yang terlalu kuat. Kita sama-sama telah tau. Baik masing-masing dari kita tak ada yang benar-benar sembuh. Lantas itulah yang menjadi kekhawatirannya selama ini, bahwa diantara kita berdua akan sama-sama saling menyakiti.

"Mungkin terdengar naif apabila aku terus memaksamu dalam keadaan ini. Aku mengerti bahwa hubungan kita tak cukup istimewa. Kamu lebih bangga memilikiku sebagai temanmu, tak mengapa. Aku paham, kamu tidak ingin menyakitiku bukan? Kebisingan, pertikaian, perdebatan, bukanlah sesuatu yang kamu sukai. Lantas karna itu pula kamu tidak ingin menyaksikan proyeksi itu bersamaku. Namun sedikit yang bisa kusanggahi atas semua yang telah terjadi. Aku tetap mencintaimu, terlepas dari suatu saat nanti kamu akan menjadi kekasihku atau tidak, itu bukan urusanku". Aku berkata demikian karna telah menemukan jawaban, memang jalan terbaik adalah memilih opsi paling sederhana. Tidak salah satunya, tidak diantara keduanya.

"Aku lebih menyukaimu sebagai temanku", air matanya kian mengalir dengan deras. Hal ini menandakan bahwa betapa besar ketakutannya akan kehilanganku. Menjalin hubungan lebih akan semakin memperbesar peluang tuk tersakiti, ia tidak ingin mengalaminya, juga ia tidak ingin membuatku terluka.

"Sudah, tidak apa. Maaf telah merepotkan perasaanmu", memang alangkah baiknya kita tidak beranjak atas apa yang telah kita pijak. Semestinya.

Selasa, 31 Oktober 2023

Mr. Wick Programs


Sial. Kabar mengejutkan datang bertamu ke teras rumah.

Yang benar saja si penghianat itu menemukan bahagianya lebih dulu? Sungguh tidak adil. Kenyataan bahwa ia telah menyakitiku masih belum selesai. Kemana keadilan itu pergi? Kapan karma akan datang? Bukankah sudah seharusnya iblis dihukum atas perbuatan yang telah ia lakukan. Aku semakin membenci situasi ini.

Selayaknya bara api yang melahap suatu lahan tanpa redam, hatiku penuh akan dendam. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa ia berbagi tawa bersama pria lain dengan begitu cepat? Apa tidak pernah sedikitpun rasa menyesal terbesit dalam dirinya? Keterlaluan. Dasar manusia biadab. Untuk kali ini rasa ingin melenyapkanmu dari bumi semakin tinggi. Sebagaimana pembunuh berdarah dingin yang ketenangannya telah direnggut, kau akan bersiap menghadapi sisi tergelap dari jiwa seseorang. Andai saja perbuatan keji didunia tidak dilarang aku akan sangat menikmatinya. Membayangkan diriku adalah sosok pemburu bayaran dari abad ke 20, membunuhmu merupakan tugas termuliaku.

Jika seandainya negara ini tak memiliki dasar hukum, aku akan mencarimu ke segala penjuru dunia. Bermodalkan pistol glock model terbaru, aku siap tuk memburu. Tenang saja aku takkan menyakitimu secara membabi buta. Akan kuhabisi nyawamu dengan cara yang lebih istimewa. Kau tidak akan menyangka kala dirimu sedang asik menghapus rias make up pada wajahmu, aku telah bersiap menunggu. Bersembunyi dibalik kegelapan, mendekatimu secara perlahan. Lalu membunuhmu dari belakang tanpa mengeluarkan suara kegaduhan. Memastikan peluru dari senapanku menembus tubuhmu agar kau merasa kesakitan. Kejam? tentu saja. Aku bercita-cita membunuhmu secara sporadis, membuatmu merasakan sakit yang sama seperti yang kuderita. Lalu aku akan tertawa merayakan atas luka yang telah kuberikan. Seperti halnya dirimu yang tengah berbahagia bersama pria baru itu. Kau berhak tuk dibunuh.

Aku semakin membencimu kali ini.

Siapapun yang menggores luka padaku layak menderita sakit yang sama. Aku belum rela kalau kau tidak juga menderita. Ingin sekali kudengar bahwa hatimu telah hancur berkeping-keping. Setelahnya akan datang seseorang yang berpura-pura tuk mengobati, kemudian bergegas meninggalkanmu pergi. Aku tidak terima kau masih menikmati hidup tanpa terbalut sepi. Sedangkan aku tersungkur seorang diri bak hidup diatas peti mati.

Sabtu, 21 Oktober 2023

take*shi


Kesendirian menjadi introduksi kala hujan mengajakku bermain nostalgia mengenang episode terindah kemarin. Menumpahkan sedih agar tak terlihat oleh dunia. Menipu diri seakan goresan luka silam telah tak bercela. Namun sebagaimana manusia pesimis pada umumnya, aku tidak dapat membohongi diri sendiri. Kenyataan bahwasanya aku belum bisa move on dari seseorang membuatku terlihat seperti pecundang. Manusia yang mempunyai akal normal pun takkan habis pikir. Bagaimana mungkin setelah berbulan lamanya menerima fakta menyakitkan, aku masih menyimpan perasaan.

Beberapa temanku pernah mencoba menghibur seraya mengatakan "Ahh kali aja karna kau tak mencari pengganti". Mungkin mereka ada benarnya, waktuku cukup sering dihabiskan untuk mengingat-ingat kisah lalu. Aku yang seorang penyendiri lebih banyak disibukkan mencari sisa-sisa serpihan dari cercahan hati. Tentunya berharap ada sebagian kecil dari mereka yang bisa aku selamatkan untuk kupungut kembali menjadi fondasi. Puing demi puing, bagian demi bagian, potongan demi potongan. Aku kumpulkan. Namun selayaknya benda mati yang telah hancur berkeping-keping, sesuatu yang telah rusak takkan berbentuk lagi.

Selagi kepalaku mengotak-atik isi memori, aku menatap diam pada sebuah bingkai foto yang telah lama kubeli dari bazar kerajinan tangan anak mahasiswa. Sejenak aku berfikir, untuk apa aku membeli barang itu dulu? Bukankah rumah yang sedang kuhuni saat ini tak terdapat hiasan sama sekali? Otakku mencoba mencerna situasi. Kemudian, aku teringat akan suatu kejadian. Dahulu kau memintaku untuk mengabadikan setiap momen bahagia. Tak ayal dalam setiap kesempatan yang ada, kau akan melancarkan rayuan manis padaku untuk menjadikanmu sebagai objek pemotretan. Sedikit informasi, boleh dikatakan aku merupakan seorang pemotret yang handal. Yaa walaupun pujian itu hanya datang dari dirimu, aku merasa telah menjadi yang terhebat. Maka pada tiap gambar yang kuambil, selalu ada dirimu sebagai mahligai karyaku. Tak mengherankan dari keseluruhan isi  pada kalimat kapasitas ruang penyimpanan anda hampir penuh, selalu ada dirimu.

Sial, aku semakin terlarut dalam nostalgia.

Bingkai foto itu merupakan hadiah yang akan kuberikan untuk merayakan pesta hari kelulusan. Katamu, sesuatu yang memiliki kenangan indah patut dirayakan. Melihat beberapa perjalanan dengan foto terkini, beberapanya perlu untuk dipilih. Tak terkecuali foto kita berdua yang memancarkan raut gembira. Membayangkan dua orang pasangan serasi memakai baju toga terpampang di dinding ruang tengah samping jendela terdengar menyenangkan. Setidaknya, itu yang kita pikirkan.

Ratusan foto yang membeku dalam galeri menjelma menjadi rindu. Sesuatu yang sangat tidak ingin kuharapkan, singgah diingatan. Aku pernah mencetak foto kita kala sedang merayakan wisuda. Katamu itu akan sangat indah bilamana diletakan diatas meja. Perlu waktu lama memberanikan diri melenyapkan foto itu. Nyatanya beberapa benda memang mampu berbicara, seakan mereka mempunyai nyawa yang tak berhak atas kematiannya. Dan aku, semakin terpojok dengan pertanyaan-pertanyaan tabu. Lantas membuat air mata ini kembali terjatuh. Mengingatkanku akan mimpi yang belum tercapai, dan cerita yang belum usai. Semua yang kulakukan menjadi sia-sia. Setiap hal yang kubangun sedemikian rupa telah hancur porak-poranda. Sebagaimana bingkai foto yang sedang kupegang, hal seperti ini tak pantas lagi tuk dikenang.

Mungkin sudah sewajarnya aku berfikir mencari pengganti. Paling tidak aku dapat menyibukkan diri dengan hal yang kusenangi. Menangkap potret kehidupan sebagaimana menjalani sebuah profesi. Hingga pada suatu saat nanti, bingkai foto itu dapat segera aku isi.

Rabu, 27 September 2023

c


Kala itu, pukul 2 dini hari. Aku sedang asik berselancar di Instagram untuk mencari informasi terkini tentang kehidupan. Maklum saja duniaku sedang disibukkan akan rutinitas untuk mengalihkan pikiranku sejenak dari ingar sebuah penyesalan. Kejadian memilukan kemarin masih belum dapat membuatku bangkit dari keterpurukan. Aku yang masih dalam proses penyembuhan ini masih saja merangkai bising pada kepala setiap hari.

Jemariku kian apik mengeser postingan demi postingan. Menjadikanku yang kian malam makin terbuai akan konten-konten jenaka yang menggelakkan tawa. Sampai akhirnya aku terhenti melihat notifikasi pada sebuah instastory. Ku bukalah isi cerita itu, tak lama kemudian; aku terpaku. Seseorang yang ku kagumi sejak dulu telah memutuskan untuk (kembali) menjalin ikatan dengan orang yang baru. Kudengar memang dia berkeinginan untuk menjalin hubungan yang mempunyai arah tujuan. Namun satu hal yang luput dari kronologi sebenarnya. Ia.. masih saja ku damba. Rupanya perasaan yang kusimpan selama bertahun tak memudar sedikitpun. Bahkan dihari setelah perpisahanku, aku masih berharap ia menoleh kebelakang untuk barang sejenak. Melihatku kembali; menunggu momen tuk menghampiri.

Kalau boleh diingat, aku merasa cukup beruntung lebih dekat mengenalnya melalui program kuliah kerja nyata. Membuat interaksiku yang sebelumnya tak pernah ada sama sekali, menjadi rutin bertukar kabar setiap hari. Aku yang tadinya hanya menatap dari jauh, menjadi seseorang yang sering membuatnya tersipu. Namun saat itu aku belum berani untuk mengungkapkan perasaan. Bagaimana mungkin seorang badut penghibur dari desa terpencil sepertiku mengharapkan cinta dari putri seorang ratu. Insecure.. mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaanku masa itu.

Mungkin saja semesta berfikir, kita memang tak ditakdirkan untuk saling jatuh cinta. Meskipun dalam beberapa keadaan, aku berkesimpulan bahwa ia juga menaruh rasa kepadaku. Hanya saja kita saling menikmati momen berbagi tawa, memasrahkan waktu berjalan dengan cepat hingga Tuhan mempertemukan lagi di keesokan harinya. Aku tidak keberatan dengan hal itu. Bagiku menjadi salah seorang yang mengukir secarik senyum pada bibirnya merupakan sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Dirinya yang lebih indah dari sinar mentari mampu memberi hangat ditengah situasi kelam menjadi terasa menyenangkan.

Namun setelah ku perhitungkan sambil memandangi instastory yang belum beranjak dari tatapan. Kenangan itu membuyar seiring dengan realita yang menampakkan kuasanya. Melihatnya memakai gaun putih bersama orang lain memang diluar prediksiku. Pada akhirnya seorang pria dewasa dari wilayah utara yang akan menemaninya menjelajahi samudra untuk kali kedua. Ia nampak senang karna seseorang telah berhasil memenangkan hatinya. Pipinya terlihat memerah, wajahnya pun kian sumringah. Hingga senyuman paling riak yang sangat ku kenal itu ia lihatkan kembali pada dunia. Seakan mengisyaratkan, bahwa kebahagiaan telah terlukis pada rias yang ia kenakan. Hal itu tentu menjadikanku harus sadar diri, bukan aku yang dia pilih.

Sangat tidak mudah untuk menerima kenyataan pahit untuk sekali lagi. Setelah aku gagal akan pilihanku sendiri.. Kini, aku harus melihatnya berbagi pelangi dengan orang lain. Aku tidak pernah mengerti cara semesta dalam membentuk alurnya. Apakah tiap sakit yang kurasakan akan terobati dikemudian, ataukah tiap tangis yang menyesakkan hati akan berganti tawa dilain hari. Sungguh, aku tabu akan semua itu. Andai saja aku mempunyai kesempatan untuk memutar waktu, aku akan lebih berani mengutarakan perasaanku. Untuk sejenak aku ingin berpaling dari muka bumi, kemudian membuka portal menuju dimensi lain, mencari tempat sunyi untukku berdiam diri. Kepalaku terlalu banyak memupuk penyesalan Menengadah fakta yang kurang menyenangkan memang merupakan hal yang kurang menyenangkan.

Yahh.. menarik nafas panjang memang sebuah alternatif pilihan, meskipun tidak menyembuhkan, setidaknya membantuku sadar bahwa inilah kenyataan. Memang memuakkan, tapi apa mau dikata; mengikhlaskannya pergi sudah jadi keharusan.

Rabu, 16 Agustus 2023

Bulbasaurus


"Aku ingin bertanya sesuatu", ucapnya sembari meneguk susu rasa coklat dalam kemasan kotak. "Kalau saja semua jenis hewan dimuka bumi ini tidak dilarang untuk dipelihara. Kamu ingin memelihara hewan apa?"

"Pertanyaanmu aneh sekali", ujarku.

"Ayolah, aku ingin tahu, cepat katakan"

"Mungkin.. aku akan memelihara kupu-kupu"

"Kupu-kupu?", ia terheran.

"Iya. Aku membayangkan mempunyai rumah kaca dengan taman penuh bunga mawar ditengahnya, lalu pada tiap kelopak bunganya dihinggapi seekor kupu-kupu cantik yang sedang menghisap madu dari putik bunga itu"

"Terdengar menyenangkan, tapi tidak untukku hehe"

"Kalo kamu, ingin memelihara apa?"

"Aku ingin dinosaurus!"

"Dinosaurus?"

"Yups, dinosaurus dengan tinggi 15 meter dan juga leher panjang yang menjulang. Aku akan kasih nama dia Bulba."

"Kenapa harus Bulba", tanyaku

"Entahlah nama itu terdengar keren, terus juga bisa cocok dengan segala gender. Jantan bisa, betina pun bisa. Bulba.. nama yang bagus bukan?", ia tersenyum ringan seakan obrolan ini merupakan obrolan yang menyenangkan baginya.

Aku tidak mengerti mengapa ia harus menamai seekor dinosaurus dengan nama Bulba, yang kutahu Bulba merupakan singkatan tongkrongan semasa ku kecil. Bulba (Bulu Babi) begitu mereka menyebutnya. "Tapi kamu tahu kan kalau dinosaurus itu sudah punah dari muka bumi ini"

"Issh kamu mah membuyarkan kesenanganku, semua itu kan masih bisa direkayasa genetik dalam uji laboratorium. Siapa tahu ada yang benar-benar berhasil menghidupkan dinosaurus dan juga dapat dikembang-biakkan dengan baik bukankah itu suatu evolusi yang bagus bagi dunia ini? Maksudku.. bahwa tidak akan ada hewan yang akan benar-benar punah oleh teknologi dan ilmu sains"

"Kamu ini terlalu banyak menonton film", aku tertawa kecil.

"Ih kamu tuh emang gabisa ngeliat orang lain bahagia. Pokonya aku ingin melihara dinosaurus. Dannn, nama dia B-U-L-B-A. BULBA"

"Iya iyaa sang penjinak dinosaurus". Ia terdiam, memasang wajah murung dengan kerut alis diwajahnya.

Aku telah cukup lama mengenal manusia ini. Sering kali ia selalu menciptakan hal-hal luar biasa yang orang lain takkan pernah terfikir untuk melakukan hal yang sama. Ia selalu bisa menghadirkan bingar pada setiap tawa. Membuat hari-hariku yang kelabu kembali berwarna, seakan ia selalu berhasil menghibur alam semesta. Aku mengakui berada bersamanya cukup menyenangkan, disaat aku masih terpuruk dengan penghianatan seseorang dari masa lalu; untuk sejenak ia dapat membuatku lupa. Tingkah konyol dan hal menakjubkan yang sering ia lakukan cukup memberi daya magis untuk mengobati lukaku. Membantuku sembuh.

Namun aku belum dapat menentukan pilihan. Mengenai kedekatanku dengannya; aku rasa masih biasa saja. Meskipun ia sangat bisa menjadi sosok pengganti, namun aku tidak seterburu itu untuk menaruh hati. Yang ku ketahui.. seorang gadis penuh percaya diri yang sangat ingin memiliki dinosaurus sebagai hewan peliharaannya ini adalah orang yang baik. Semoga aku tidak menyakiti hatinya suatu saat nanti.

a song whose written by meghan trainor


Kali ini aku tidak dapat mengelak.. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini mulai berlabuh, sejak kapan ia mulai menjatuhkan diri dari tepian nestapa untuk mengais sedikit harapan bernama cinta? Yang lebih mengherankan lagi, perasaan ini justru tumbuh pada seseorang yang tak pernah ku tuju. Memang, perihal cinta tidak ada yang tahu. Ia tak pernah bijak dalam menentukan pilihan.

Menyebalkan! Perasaan ini bagaikan imigran gelap yang harus selalu bersembunyi kala kita saling bercengkrama tentang nostalgia, seakan aku tidak ingin membuatnya terlihat. Karena sejauh ini yang kupikir, pertemanan bisa rusak apabila salah satu diantara keduanya memiliki perasaan lebih untuk memiliki. Dan saat ini, hal itu terjadi. Bagaimana mungkin dari kebiasaan kita bertegur sapa hingga saling bertukar cerita mengakibatkan bom waktu yang sejatinya tertidur, meledak menghacurkan pintu hati yang tak seharusnya terbuka pada teman sendiri. Sungguh ironis, sial sekali. Entah bagaimana caraku menanggulangi realita. Bahwa sebenar-benarnya aku telah jatuh cinta pada seseorang yang tak seharusnya ku cinta.

Lagi-lagi isi kepalaku kembali memberontak, tatkala dirimu menyemangatiku sebelum aku menaiki podium untuk mengikuti lomba debat antar universitas. Timbul suatu pertanyaan "Apakah kamu selama ini memiliki perasaan yang sama denganku?". Begitu besar harap ini untuk mengetahui jawaban, namun aku tidak berani menanyakan. Hal tersebut sangat bisa meniadakan semua hal menyenangkan antara kita; semasa dalam status teman.

Mungkin sebagian dari kawan seperjuangan kita menyadari, bahwa kita lebih dari ini.

Teman tidak melakukan hal seperti yang kita lakukan. Serupa kutipan lagu yang dinyanyikan Meghan Trainor. Semua orang telah berprasaka, kamu mencintaiku, dan aku mencintaimu. Sedang kita sibuk saling menyanggah satu sama lain. Opini demi opini yang kian menyeruak, dibantah sebelum menjadi riak. Kita berdua bersekukuh; kami tidak lebih dari itu.

Biarpun dalam benak aku mengiyakan segala hal yang mereka katakan, tentang perasaanku yang telah memilih kemana ia harus berlabuh. Tentang dirimu yang kujadikan tujuan setelah pulang meramu. Juga tentang kisah yang perlahan mulai menemukan titik temu.

Melalui cerita-ceritamu lah aku mulai menimbulkan rasa, rasa yang seharusnya bagiku tak pernah ada. Tidak etis rasanya mencintai teman sendiri, terlebih lagi setiap hari harus berbohong pada dunia bahwa aku tidak jatuh hati; sedang hatiku tak berkata demikian.

Sebuah studi psikologi dari Amerika juga ada benarnya, hubungan pertemanan yang terlalu intim sangat rawan dengan yang namanya jatuh cinta. Meski hati telah berhati-hati. Ada kalanya ia mendekap sunyi kemudian bertengger dalam sanubari. Mungkin sebaiknya tidak perlu aku ungkapkan, biarlah perasaan ini tumbuh seiring hubungan kita yang semakin jauh. Chapter demi chapter dari kisah ini akan selalu ku nikmati. Tiap percakapan antara kita akan selalu menjadi dongeng favoritku saat sebelum tidur. Aku tidak akan memaksakan perasaan ini, tak perlu. Bagiku, aku telah merasa cukup dengan status kita; alangkah baiknya memang tak harus ada yang berubah. Mengedepankan ego untuk menyatakan perasaan dengan resiko kehilangan merupakan harga yang terlalu mahal untuk ku korbankan. Biarlah perasaan ini begini adanya. Tak apa, aku menyukainya.

Mungkin suatu hari aku akan menemukan kekuatan tuk mengatakan "Kau lebih dari sekadar teman".

Minggu, 30 Juli 2023

Green Latte


Sore yang cukup melelahkan untuk sebuah rutinitas pekerjaan. Tak terasa hari berganti begitu cepat membuatku lebih mudah menghapus penat dalam ingat. Suara bising kendaraan lalu lalang menandakan akan segera tiba waktu petang. Dan perutku, sejak tadi pagi belum terisi penuh. Tak ayal lambung seperti mengaduh meminta segera dijamu.

Aku menghentikan laju motorku sejenak, melihat adakah tempat yang cukup nyaman untukku beristirahat seraya sebentar. Berselang kemudian aku memutuskan untuk singgah pada kedai coffeeshop yang bertuliskan kata 'Buka'. Tak jauh dari tempatku berhenti tadi. Namun seperti ada yang tidak asing dengan kedai ini. Romansanya membuatku devaju akan sesuatu. Dekorasi, tata letak, cahaya lampu, bahkan tanaman hias kecil diatas meja membuatku takjub hingga tanpa sadar; aku semakin lama berselancar dalam nalar. Lalu kemudian, ditengah lamunan, aku kembali mengingat kejadian. Entah kenapa vibes coffeeshop ini membawaku bergerilya pada momen saat pertamaku berjumpa dengan perempuan dari bumi utara. Aroma ini.. aroma matcha. Yaa masih dapat kuingat dengan jelas, selain coklat dan vanilla kamu juga menyukai matcha. Matcha merupakan rasa yang kurang familiar di lidahku. Sejumput rasa yang hampir mirip seperti ketidaksengajaanku memakan rumput semasa kelas 3 SD dulu, membuatku mengira bahwa rasa itu takkan pernah berubah. Namun kupikir rasa-rasanya untuk memesan secangkir minuman favoritmu terdengar tidak terlalu buruk.

Segelintir penyesalan datang kemudian selepas aku memesan minuman. Aku berjalan perlahan menuju bangku sembari menggerutu, apakah mungkin perpaduan rasa antara kopi dengan teh hijau khas jepang itu menghasilkan rasa yang enak? Kurasa mereka tidak akan bersimbiosis dengan tepat dalam mulutku. Ah sudahlah.. tidak ada salah mencoba.

Berada di kedai ini kembali membuatku mengetuk memori. Aku teringat kala aku dan kamu sedang kepanasan, lalu memutuskan untuk berteduh sembari memesan minuman di cafe seberang jalan. Kau datang memesan rasa favoritmu, sedang aku bereksperimen dengan mencari rasa yang belum pernah kutahu. Namun seperti kebanyakan, seorang laki-laki memang selalu beruntung saat percobaan.

"Aku boleh coba punyamu ga?" ia meminta sedikit minumanku.
"Ah lebih enak punyamu" sambungnya sambil tersenyum hambar.

Selepas percakapan ini aku telah menebak dalam hati, "Kau pasti akan menukar minumanmu dengan kepunyaanku" pikirku 

Selagi sedang asik berkutat dengan isi pikiranku, kau mengagetkanku dengan kembali menyodorkan minumanku ke arahku. Mengembalikannya tanpa meminta untuk menukar; tersenyum tanpa memasang muka datar. Suatu hal yang amat jarang terjadi. Disaat perempuan lain akan menukar minumannya dengan milik pasangannya, kau malah tetap ingin memilikinya dan membiarkanku menghabiskan minuman yang kupunya.

Ah sial, nostalgia ini harus segera dihentikan.

Latte berwarna hijau itupun datang. Sempat terjadi keraguan dalam benak terkait apakah rasa ini akan benar-benar enak. Setelah mencobanya, aku menarik semua ucapanku. Rupanya perpaduan rasa aneh ini menghasilkan sinergi bak hulu ledak nuklir yang menghancurkan semua persepsi tentang teh hijau khas jepang ini. Tak kusangka, aku mulai jatuh cinta. Pantas saja kau begitu gila dengan apapun yang berbau matcha. Kini aku mulai enjoy dengan rasa matcha, bertemankan secarik kisah lama yang mendobrak isi kepala juga lagu Sheila on 7 yang terputar tanpa sengaja. Kenangan bersamamu akan selalu menjadi ingatan indah selamanya.

Selasa, 18 Juli 2023

ciao


Yang membuat hubungan tidak nyaman yaitu karna tidak sama-sama. Yang satu ingin komunikasi, yang satu terlalu sering pergi. Yang satu ingin dipedulikan, yang satu tak memperhatikan. Yang satu kerap menunggu, yang satu tak nampak butuh. Sehingga hubungan terasa begitu jauh.

Aku tidak perlu lagi hipotesis untuk melucuti kenyataan. Bukti yang kuperoleh sudah lebih dari cukup. Selama ini ternyata dibelakangku kau telah menyimpan banyak hati, bermain-main diatas bara api. Membuatku pada akhirnya menyadari; kau tak pernah serius dalam hubungan ini. Sialan! Dasar perempuan tak punya nurani. Manipulatif mungkin telah berteman denganmu sejak lama. Ketika aku sedang terombang-ambing dengan kecemasan yang kupunya, kau malah sibuk berkelana dengan orang lain menulis sebuah buku cerita. Biadab.

Kau pernah mengatakan bahwa perasaanmu takkan pernah berubah. Nyatanya perasaanmu berubah; tepat setelah ku kuras habis semua perasaanku tanpa sisa. Pada saat itu aku meringkas semua pertanyaan menjadi “Kenapa?”. Dahulu, kita selalu mengucap kata sayang di penghujung malam. Berbagi cerita masa kecil di telfon hingga berjam-jam. Meski semua hal itu menjadi ingatan yang ingin ku lupakan, aku tetap mengakui bahwa semua hal itu terasa menyenangkan. Tapi biarlah tiket bioskop baris ketujuh juga tiga eksemplar fotomu yang kian berdebu, menjadi benda-benda yang kehilangan nyawa. Semua hal itu tidak ingin aku kenang. Aku tidak ingin lagi semakin hari semakin mengharapkanmu. Tidak apa kisah ini tidak berujung dengan happy ending. Aku merasa bodoh jika harus memikirkan untuk takut kehilanganmu. Sangat tidak penting! Tak ada gunanya memaksakan penjelasan atau memalsukan perasaan. Rasa sakit ini sudah lebih dari yang dibayangkan. Hati dengan luka yang masih basah ini sudah lelah bertanya kenapa, kenapa, dan kenapa. Segala kejadian ini takkan pernah bisa dirubah. Untuk apa hubungan ini masih ada?

Ketidakpercayaan menjelma mercusuar yang membuatku semakin memantapkan diri untuk melangkah pergi. Aku tidak menyesal berjuang seorang diri, bagiku hidup adalah serangkaian repetisi. Patah hati ini tidak seharusnya membuatku takut untuk jatuh hati lagi. Tidak perlu tergesa-gesa dalam hubungan yang salah. Tidak perlu terburu-buru untuk kembali sembuh. Akan tiba masanya kita menertawakan rasa yang teramat sakit, atau menangisi rasa manis yang kini terasa pahit. Beberapa hal memang tercipta dibiarkan membeku dalam waktu bukan untuk terus mengalir bersama kau dan aku. Tuhan membentuk dua representasi dirimu dalam bentuk kenangan. Kenangan manis yang membuatku menghargai arti kehidupan, dan kenangan buruk yang mengajarkanku arti kekecewaan. Ketidakpastian ini harus segera dipastikan, kali ini aku memilih meninggalkan.

“Bukan aku yang kurang, kau saja yang merasa tidak cukup punya aku”, ucapku terakhir kali sebelum memblokir nomornya kala itu.

Selasa, 11 Juli 2023

"..in the name of God"


Apakah semua proses perjalanan cinta seseorang selalu hadir dengan ritme dan pola yang sama? Apakah Tuhan telah menggariskan setiap manusia mempunyai kisah yang hampir serupa? Sedikit banyak yang kuketahui tiap insan di muka bumi akan mengalami patah hati. Seperti halnya lirik dalam lagu atau bait pada puisi. Luka selalu menginspirasi. Bagiku tidak akan ada kebahagiaan tanpa pengorbanan. Entah itu nantinya akan berbuah manis, atau malah menjadi tragis.

Setiap hal yang kita lalui merupakan proses dalam menjalani hidup. Selalu ada makna tersirat dalam sepucuk surat. Tak ada manusia yang tak punya kisah pelik, karena dibalik ujian selalu ada pembelajaran yang dapat dipetik.

Malam ini aku tak lagi menangisimu sepanjang hari. Berkutat dalam memori memutar kenang dalam delusi. Tidak.. tidak lagi. Aku hanya sedang berdamai dengan kehendak Tuhan, sebab kemarin aku terlalu memaksa memintamu kembali ke pangkuan. Kenyataannya hidup bukan hanya tentang kehendak kita saja, melainkan kehendak-Nya lah yang lebih utama. Mengetahui rencana Tuhan adalah yang terindah, meskipun menyakitkan; harus diterima. Aku tahu ini merupakan bagian dari perjalanan menuju pelaminan. Mitosnya menang banyak pasangan yang diberi cobaan terlebih dahulu untuk menguji kesetiaan. Mungkin sekarang tiba waktuku, kendati tahu kau masih menyimpan nama lain di ruang hatimu. Tak masalah bagiku sebab aku menyayangimu secara menyeluruh..

Aku menyadari kata-katamu kemarin adalah kebohongan. Suatu detonasi yang menjelma pagi menembus kegelapan. Tipu daya yang penuh kepalsuan menggiringku merapihkan halaman tuk menjatuhkan perasaan (lagi). Meski sempat terfikir kenapa harus aku mati-matian menjaga janji? Hatimu telah terbagi; membelah diri. Untuk apa aku mempertahankan hubungan ini setelah dikhianati. Bodoh jika tetap dilakukan. Membayangkan apa yang telah kamu lakukan membuatku muak. "tanpa perasaan", begitu bualku dalam lamunan.

Mereka bilang kepercayaan ibarat benang rajut dari bulu domba, yang sekali kusut takkan kembali ke bentuk semula. Katanya lebih baik sendiri tapi punya seseorang yang peduli, dari pada punya pasangan tapi merasa kesepian. Betapa saat ini aku berharap menemukan persimpangan jalan. Betapa aku sangat ingin merubah keadaan. Aku ingin kembali ke masa lalu mencegah dia datang kembali di kehidupanmu. Atau lebih bagusnya aku memutar waktu saat kita bertemu kemudian memutuskan untuk tak lagi menjatuhkan hati padamu.

Ini menyakitkan. Dan maaf, kata "maaf" tidak cukup menyembuhkan.

Kini aku pasrah akan pilihan Tuhan. Akan ku jalani tiap prosesnya sembari mengantungkan harapan. Meski luka telah menyayat hati, aku tidak dapat berbohong bahwa aku masih menyayanginya. Mencoba memulai kembali bersamanya dari awal terdengar tidak terlalu buruk. Biarlah garis takdir Tuhan yang pada akhirnya memberi jawaban. Urusan nanti apakah kita akan tinggal satu atap bersama, sekecil apapun peluangnya, itu lain cerita.

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...