"Kalau saja kita tidak berteman sejak dulu mungkin aku sudah menaruh rasa ke kamu". Kalimat itu merupakan kalimat yang tak sengaja terlontar dari mulutmu kala aku sedang menemanimu membeli cappuccino dingin pada hari yang cukup terik di kota ini.
Untuk sejenak aku tertegun, apa karena itu selama ini kau tidak mau untuk menjalani hubungan lebih denganku sekalipun aku telah meminta? Apa karena itulah yang tidak menjadikan kita menjadi kata, kita. Semua orang telah mengetahui bahwa tidak ada seseorang yang jauh menyayangimu lebih dari aku. Hanya saja karna situasi menyebalkan ini. Kita terperangkap bak aliran air yang tak tau kearah mana ia harus bermuara.
"Seandainya memang begitu mengapa tidak mencoba saja?", ujarku demikian. Aku sama sekali tidak keberatan kalau kita menjalin suatu hubungan. Terlebih lagi itu merupakan suatu keuntungan bagiku dimana aku tak harus memulai kisah dengan seseorang yang baru.
"Sejujurnya untuk saat ini.. Kamu udah ngasih semuanya buat aku, kamu udah jadi apa yang aku mau, apa yang aku butuhkan. Terlepas dari status kita yang hanya sekadar teman tapi aku mengerti bahwa perlakuanmu tidak seperti itu. Aku pun turut menyadari bahwa apa yang sedang kita lakukan saat ini bukanlah suatu kegiatan yang sering dilakukan oleh beberapa manusia dalam hubungan pertemanan. Aku tahu kita lebih dari itu. Akan tetapi untuk berandai-andai hubungan kita berjalan lebih dari ini terus terang sangat mengkhawatirkan. Aku rasa aneh tuk menjalaninya. Mengetahui bahwa nanti aku akan terlalu mencemburuimu, juga kamu yang akan memarahiku atas ketidaksukaanmu terhadap apa kuperbuat, itu terlalu berlebihan. Berucap kata sayang satu sama lain tidak menggelikan kah bagimu?".
Mendengar hal itu aku sedikit pesimis dengan situasi yang terjadi. Memang benar aku berharap bahwa hubungan bisa disiasati untuk beranjak lebih. Karna mau sehebat apapun ia bersikeras dalam menyanggah, aku tetap tahu bahwa sebenarnya ia juga mencintaiku.
"Lalu apa kamu dapat memastikan suatu saat nanti kita takkan berpisah?", sambungmu.
"Sudah terlalu lama kita bicara hingga aku lupa bahwa kita pernah membicarakan tentang rasa. Sejujurnya aku tidak tahu saat ini hatimu milik siapa, tapi kamu selalu bilang bahwasanya kamu selalu merasa nyaman saat bersamaku. Kita ini apa? Kita sedang melakukan apa? Tidak bisakah seluruh yang kita jalani ini memiliki arti dan sebuah nama? Aku tidak siap jika harus kehilangan", ujarku.
Sejenak ia terdiam, menarik nafas panjang kemudian menatap kearah depan. Aku mulai berfikir, mungkin sebentar lagi ia akan melontarkan kata-kata tak pantas dengan sedikit nada tinggi. Namun selama beberapa saat berselang ia tak mengucap sepatah kata, dan tanpa sadar air matanya menetes perlahan kala ia mulai bersuara.
"Kamu tidak mengerti seberapa khawatirnya aku jika hal itu terjadi. Apa kamu pikir hanya kamu saja yang takut kehilangan? Itu salah besar! Kamu tau apa alasanku menolakmu saat kamu menyatakan perasaan tuk pertama kalinya. Berkali-kali kamu selalu bertanya dan jawabanku tetap sama. Aku pikir kamu akan mengerti, tapi sepertinya kamu tak sepintar yang kukira. Kalau kamu bertanya hatiku milik siapa, sudah jelas sedari awal itu memang milikmu", ujarnya dengan lantang.
Jantungku berdegup kencang mendengar pernyataan yang sangat tidak terduga itu. Kendati begitu aku mulai menyadari maksud dibalik perkataannya. Jawaban atas mengapa ia menolak tuk kali pertama adalah keterikatanku dengannya yang terlalu kuat. Kita sama-sama telah tau. Baik masing-masing dari kita tak ada yang benar-benar sembuh. Lantas itulah yang menjadi kekhawatirannya selama ini, bahwa diantara kita berdua akan sama-sama saling menyakiti.
"Mungkin terdengar naif apabila aku terus memaksamu dalam keadaan ini. Aku mengerti bahwa hubungan kita tak cukup istimewa. Kamu lebih bangga memilikiku sebagai temanmu, tak mengapa. Aku paham, kamu tidak ingin menyakitiku bukan? Kebisingan, pertikaian, perdebatan, bukanlah sesuatu yang kamu sukai. Lantas karna itu pula kamu tidak ingin menyaksikan proyeksi itu bersamaku. Namun sedikit yang bisa kusanggahi atas semua yang telah terjadi. Aku tetap mencintaimu, terlepas dari suatu saat nanti kamu akan menjadi kekasihku atau tidak, itu bukan urusanku". Aku berkata demikian karna telah menemukan jawaban, memang jalan terbaik adalah memilih opsi paling sederhana. Tidak salah satunya, tidak diantara keduanya.
"Aku lebih menyukaimu sebagai temanku", air matanya kian mengalir dengan deras. Hal ini menandakan bahwa betapa besar ketakutannya akan kehilanganku. Menjalin hubungan lebih akan semakin memperbesar peluang tuk tersakiti, ia tidak ingin mengalaminya, juga ia tidak ingin membuatku terluka.
"Sudah, tidak apa. Maaf telah merepotkan perasaanmu", memang alangkah baiknya kita tidak beranjak atas apa yang telah kita pijak. Semestinya.