Rabu, 27 November 2024

Hotel de Catalunya


“Kurasa terlalu terlambat untuk bilang maaf", katanya sambil termenung.
“Untuk maaf kamu ngga terlambat, tapi untuk kembali, kamu kelamaan”, sahutku.

Kalimat itu bergema dikepalaku seusai aku terbangun dari mimpi dipagi hari, seseorang yang selama ini mati-matian berusaha untuk ku lupakan malah hadir pada waktu dan tempat yang terduga. Aku sama sekali tak menginginkan mimpi ini, terlepas dari bagaimana pola tidurku yang akhir-akhir ini memang kurang sehat, tidur nyenyak dengan adegan mimpi yang menyenangkan sangat ingin aku harapkan. Tentunya.

Pagi ini aku memutuskan untuk membeli segelas kopi latte tanpa krim dengan kadar gula yang tak terlalu banyak, demi memperbaiki suasana hati yang cukup tidak mengenakkan setelah mimpi berbau nostalgia itu. Ingatan akan adegan percakapan itu masih berbekas. Aku masih dapat mengingat jelas bagaimana gerak bibirnya dalam merangkai kata menjadi kalimat, bahkan kedua bola mata berwarna coklat tua yang sedikit sayu tergambar jelas dalam pikiranku. Ini terasa aneh. Seakan semesta memberikan kode bahwasanya sedang tidak terjadi hal yang beres pada dunia ini.

Lamunanku seketika buyar tatkala ku mendengar panggilan suara yang menyebut namaku dengan lantang dari arah kasir. Seketika itu pula aku beranjak untuk bangun mengambil pesanan kopiku yang sudah dibuat. Namun tak lama berselang langkah kakiku terhenti mendapati handphoneku yang sedang bergetar, menandakan ada pesan masuk. Kucoba meraihnya dari saku kanan celanaku kemudian membacanya melalui notifikasi.

"Halo" tulis pesan itu. Aku tidak mengenali siapa pengirim pesan itu. Sebuah nomor baru dengan profil kosong didalamnya membuatku bingung dan mengira-ngira siapakah dalang dibalik keisengan dari pesan ini. Aku kembali melanjutkan langkah.

Suara hatiku mulai menggerutu. "Ah mungkin saja hanya seorang kawan lama yang nomornya telah usang kemudian berganti dan mulai mengirim pesan siaran untuk menambah jumlah kontak pada handphonenya". Terlepas dari hal itu, aku memang tidak begitu menyukai membuka pesan dari seseorang yang belum kukenal. Acap kali kejadian serupa datang bergantian seiring waktu, beberapa kawan lama kerap mengirimi pesan untuk memberi kabar kalau ia telah memakai nomor baru. Biasanya aku hanya sekedar membaca lalu menghiraukan sambil langsung menyimpan nomornya, tanpa basa-basi, tanpa respon berarti.

"Kamu apa kabar?" sambung pesan itu. Tepat dimeja kasir aku kembali terhenti.

"Siapa ini?" tanyaku bergumam. Selain bertanya-tanya siapa yang mengirimi pesan sapaan itu kepadaku, aku terdiam melihat foto profil dari nomor tersebut. Mengherankan! foto profil yang tadinya kosong sekarang berganti dengan wajah seseorang yang sangat aku kenali.

Aku diam terpaku, bahkan kopi latte yang sedari tadi berada diatas meja tidak segera kuambil, sampai pada akhirnya seorang kasir menegurku untuk memastikan apakah aku sedang baik-baik saja. Ini menyebalkan, tidak seharusnya hal ini terjadi. Aku membencinya, namun sialnya rasa benciku tidak sebesar perasaanku yang lama tertinggal.

Selasa, 26 November 2024

Associate's Degree

Untuk seseorang yang telah lama tidak menjalani hubungan sepertiku tentu saja mempunyai impresi berbeda tentang sebuah perhatian kecil yang bagi sebagian besar manusia takkan menganggap itu hal yang luar biasa. Mengesalkan memang, namun tetap harus diakui bahwasanya saat ini aku merupakan orang yang paling lugu dalam menyimpulkan kebaikan hati dari orang lain.

Wajar saja jika aku tersipu, sebuah gelak tawa takkan terpicu bilamana syaraf otak tak mendapati rangsangan hal menyenangkan. Begitu pula dengan ukiran senyum yang meleburkan segala macam permasalahan dunia. Meski aku telah lama mengenalmu baru kali ini kau hadir dalam bentuk istimewa, kendati begitu aku belum mengerti maksud tujuanmu memberi pertanda. Jikasanya kau memilih berteduh dalam satu nauangan yang sama bersamaku, aku dapat menyediakan tempat. Demikian halnya proses sembuhku yang berangsur membaik, memperoleh partner bertualang terdengar cukup manis tuk diimpikan, setidaknya begitu.

Berada dalam posisi seperti ini sebenarnya membuatku sedikit dilema. Bagaimana jika salah satu diantara kita menjatuhkan perasaan? Bagaimana jika aku menaruh hati lebih dulu padamu? Atau bagaimana jika terjadi hal tak terduga diluar prediksi? Jujur saja aku belum siap dengan segala kemungkinan dengan probabilitas tak pasti seperti ini. Hatiku belum cukup tegar untuk menerima serangkaian agresi. Sungguh.

Aakhh sial. Rasanya ingin ku bumi-hanguskan seluruh isi semesta. Kehadiranmu bukan sama sekali sebuah ekspektasi yang kuharapkan. Maksud terselubung apa dibalik ini semua? Karna sebenarnya aku benar-benar tidak ingin kembali terdiktraksi pada kalimat "aku mengagumimu sejak lama". Tidak, aku tak ingin begitu.

Ada baiknya hubungan pertemanan ini tetap terfraksi sesuai dengan porsinya. Entah bagaimana caraku menanggulangi perasaanku, biarlah bersimbur dalam kesunyian. Sebab kita bukan orang awam tuk menjalani situasi seperti ini. Biarlah semua berjalan sesuai rencana, tanpa tersengah, tanpa tergesa.

Rabu, 20 November 2024

深い


Tidak ada orang lain yang mengenalmu sebaik diriku, dan tidak ada pula orang lain yang mengenalku sebaik dirimu. Namun bilamana diharuskan salah satu diantara kita mengungkap perasaan, kita takkan sejalan.

Hari demi hari opini itu terus mencuat. Tak heran jika beberapa teman memberikan tanggapan agar kita bisa kembali mempertimbangkan, bahwa menyatukan hati dari sebuah hubungan yang bermula dari kata teman tidak terlalu buruk untuk dicoba. Tapi seperti halnya batu karang keras di seberang lautan, masing-masing dari kita memiliki presepsi terbaik dengan pemikirannya. Baik aku ataupun kau, sama-sama mempunyai alasan jelas mengapa hubungan ini sebaiknya tak beranjak lebih.

Katamu aku memang adalah seorang yang paling menyenangkan. Bagimu pula aku adalah sebagian dari duniamu. Lalu apakah pantas aku disejajarkan dengan berbagai macam pilihan yang sedang kau bimbangkan saat ini? Sekiranya jika aku harus ikut dalam sebuah perlombaan, mungkin aku akan menyerah pada fase pertama. Sejak awal aku tak memiliki optimisme berlebih untuk mendapatkanmu. Kau tahu itu kan?

"Apa benar begitu?" tanya seorang teman, menyeletuk.

Memang benar, manusia penuh rencana sepertimu tidak layak untuk tidak diperjuangkan. Mungkin dari 10 tingkat cerminan baik dari sifat seorang perempuan didunia, kau mendapati salah 9 diantaranya. Kendati begitu aku tidak terlalu bernafsu membersamaimu membangun koneksi. Meskipun beberapa kali dewi fortuna menggelitik cercah harapannya pada binar bola matamu, aku tak bergeming. Bagiku kita sudah cukup seperti ini, seperti ini.

Aku sangat dipenuhi dengan ketidak-keyakinan, mengetahui banyaknya pesaing diluar sana yang saling menunggu giliran untuk mencoba masuk dalam ruang hatimu mungkin cukup menjadi alasan. Rasa pesimisku berjalan beriring dengan realitas bahwasanya tidak akan mungkin kau kan menjatuhkan hati padaku. Sekiranya kesempatan itu datang, maka aku akan cenderung menghindarinya. Untuk apa aku mencoba sesuatu yang bahkan aku sendiri belum tahu apakah kau akan setuju.

Sesiapapun diantara seorang pangeran, kesatria gagah ataupun badut penghibur serupaku yang berhasil mencuri hatimu pasti adalah manusia yang paling beruntung. Hanya saja jika diperkenankan aku tidak ingin ikut berpartisipasi dalam kompetisi ini, aku terlalu lemah untuk percaya diri. Entah seperti apa halnya nanti, bagiku kita sudah cukup seperti ini. Terlepas apakah nanti kau kan memilihku, ku pertaruhkan semua pasrahku pada waktu. Seimbang ataukah tidak semoga Tuhan menunjukkan jalannya.

Selasa, 19 November 2024

Mogu Mogu

Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi tempat dimana kita sering bercengkrama menghabiskan waktu sehabis mengelilingi kota; pada suatu ekowisata lokal kita pernah membagi cerita.

Ditempat duduk ini semua terasa dingin, entah karena aroma hujan yang menyengat atau aku yang datang terlalu pagi membuat suasana terasa lebih sedikit menabuh peluk.

Seperti biasa tempat ini mengingatkanku akan aroma bakaran ikan pada malam tahun baru. Maklum, sebagian besar penduduk lokal disini berprofesi sebagai nelayan yang mayoritas diantara mereka juga memiliki kedai dan restoran yang menjual aneka masakan. Untuk beberapa kesempatan, kau selalu membujukku berhenti di tepian, menikmati air kelapa muda ditemani suara desiran ombak yang saling bersambutan. Ahh menyebalkan rasanya mengingatmu dalam sepucuk rindu.

Tidakkah semua kenang ini sedikit terlintas dalam benakmu? Beberapa hal yang terlampau manis dari perjalanan kita berdua sangat jelas terlukis pada tiap ruas jalan selama ku menapaki langkah demi langkah menyusur tempat ini. Bukankah kita pernah berjanji untuk tidak saling menyakiti? Seingatku kau begitu bahagia bersamaku. Setiap lembar halaman cerita yang kita lewati selalu gemilang dengan luar biasa. Ditempat ini, aku sama sekali tidak lupa bagaimana kau menabur senyum dengan sumringah, merajut waktu dengan penuh kebahagiaan, memeluk sedih agar tak kembali berlarut. Dunia seakan berhenti manakala kau tiada henti melempar kejutan. Kau selalu berhasil menjadikan hal-hal kecil terasa lebih berkesan, menjadikan semua ingatan itu tak mudah tuk dilupakan.

Aku kembali menyambung langkahku. Pada momen ini, relung hatiku benar-benar terasa seperti sedang dilanda gundah-gulana. Jikalau tidak terjadi hal menyebalkan yang menimpa hubungan kita, mungkin pada detik ini; kita saling bertukar tawa. Betapa indahnya impian dulu yang seharusnya kita bangun kala itu. Andai kejadian tak elok itu bisa kucegah; mungkin kita telah bersama. Mungkin.

Sial. Begitu sesal rasanya mendapati semua yang terjadi tak bisa lagi dirubah. Aku hanya berharap suatu saat Tuhan mengetuk hatimu tuk kembali padaku. Kita pernah seindah itu; dulu. Apa kau tidak merindukan masa dimana setiap hiruk piruk dunia dikikis dengan gelak tawa seperti halnya yang pernah kita bagi bersama, karna aku pun merasa begitu.

Selasa, 09 Januari 2024

familiar lyrics from MT's song, that's will be part 3 isn't it?


"Menurutmu, apa benar laki-laki hanya mencintai seseorang sekali dalam seumur hidup?"

"Sepertinya, mungkin"

"Lalu, apa yang akan dia rasakan jika suatu saat orang yang ia cintai pergi meninggalkan? Maksudku tidak semua kisah cinta berakhir manis bukan?"

"Dia akan tetap menunggumu dengan harapan suatu saat kamu bisa kembali bersamanya. Walaupun pada akhirnya akan kembali terabaikan, dia akan terus mengulang dengan harapan yang sama. Tidak seperti orang-orang kebanyakan yang mempunyai cinta sesaat. Baginya menunggumu adalah sesuatu hal yang menyenangkan meski yang ia rasakan hanya hempasan angin kerinduan."

"Lantas apakah benar perasaan cinta milik laki-laki jauh lebih besar dari seorang perempuan?"

"Aku rasa iya. Laki-laki yang cintanya tulus akan selalu menjadikan pasangannya sebagai tempat untuk pulang. Tempat yang kan ia datangi untuk menghilangkan lelah dan berkeluh kesah. Dan, ketika tiba saatnya orang yang ia cintai pergi meninggalkan, dia kan merasa kehampaan dalam dunia seakan-akan kehancuran sudah di depan mata."

"Berarti jika dapat kusimpulkan, setiap laki-laki pasti mempunyai perasaan terhadap seseorang yang tak dapat hilang dalam hidupnya?"

"Kurasa begitu."

"Lalu apa yang kan terjadi jika orang yang ia cintai adalah teman atau sahabatnya sendiri, apakah ia akan tetap mencintai orang itu meski resiko yang kan dihadapi cukup besar? Dimana semua pasti mengerti bahwa dalam suatu hubungan perasaan tidak baik untuk melibatkan perasaan. Ada kemungkinan setelah mengungkapkan, persahabatan tidak lagi menyenangkan."

"Pertanyaan yang bagus. Seperti yang kukatakan, mau sejauh apapun orang itu pergi, apabila ada kemungkinan tuk kembali dia kan tetap bertahan. Berdiam diri dan tak bergerak 1 Ichi pun untuk menjaga hatinya tetap baik-baik saja"

"Bagaimana ia bisa hidup dengan cara seperti itu?"

"Dia harus mengorbankan salah satunya, mengambil langkah yang tepat sebelum menentukan keputusan untuk memilih mana yang lebih utama, pertemanan atau perasaan"

"Jika demikian, maka mana yang lebih baik untuk dikorbankan?"

"(Sebaiknya) Perasaan"

Minggu, 07 Januari 2024

Era, Luna & Helianthus

Berdasarkan garis waktu yang ditetapkan, manusia-manusia yang dilahirkan ke dunia takkan lepas dari takdirnya masing-masing. Begitu pula dengan tanggung jawab yang kan mereka hadapi tak merubah apapun atas apa yang terjadi, meski beberapa diantaranya tidak senang atas apa yang sedang ia lalui. Serupa manusia penuh kejutan yang pernah kutemui selama periode tahun lalu, meski kedatangannya bersanding baik dengan keluh, kehadirannya cukup menghibur; sewaktu-waktu.

Ia merupakan gadis energik yang tidak pernah merasa lelah pada saat bercerita. Kegemarannya mengkonsumsi opini serta kemampuannya dalam berasumsi tak ayal membuatnya terlihat seperti pendongeng handal dari negeri seberang. Meskipun begitu, pada masa tertentu ada kalanya ia juga teramat sangat menjengkelkan.

Aku cukup lama tidak lagi menghubunginya. Terakhir kudengar ia sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang telah ia anggap spesial. Kendati demikian, kita tetap berteman seperti biasa. Walau, terkadang.. ia menyapaku hanya untuk meminta potret bulan purnama yang sering kubagikan dalam platform sosial media pribadiku. Mungkin baginya aku adalah album foto berjalan yang mengkoleksi begitu banyak potret objek pemandangan dalam berbagai bentuk dan juga versi. Kurasa ia berfikir seperti itu.

Satu hal yang cukup menggelitik adalah kehadirannya yang sangat mudah ditebak. Contohnya ketika kebiasaanku yang rutin membagikan berbagai objek yang sempat kuabadikan pada lensa kamera selagi melakukan perjalanan. Kemudian tak lama berselang, ia selalu datang mana kala aku memiliki gambar yang ia sukai. Bak seorang tersangka kasus dugaan pembunuhan, gerak gerikku seperti dipantau. Wajar saja bilamana kuanggap ia selalu muncul tatkala suasana hatinya sedang gembira.

"Ihh bunga mataharinya cantik mas, aku boleh minta gambarnya gak?", begitu ucapnya yang tertera melalui notifikasi WhatsApp yang belum terbaca dari layar handphoneku.

Memang kuakui ia merupakan gadis yang cukup menyenangkan, disamping rasa percaya dirinya yang terlalu tinggi, bagiku ia mampu memberi warna tersendiri ditengah hitam putihnya dunia.

Aku menyadari bahwasanya, pertemuan kita diawal tak memberikan kesan. Antar kita satu sama lain tidak memiliki kesamaan, ia yang terlalu sibuk bergelut dengan moodnya sendiri sangat jauh berbeda denganku yang lebih detail dalam memperhatikan sesuatu. Meskipun kuanggap gadis satu ini cukup unik. Untuk pertama kali, si penyuka bulan ini mematahkan stereotipe dari kelompok manusia pada umumnya; termasuk asumsiku sendiri.

Yaa jika saja waktu dapat berhenti, aku ingin lebih memperhatikan tingkah lakunya yang sedikit berbeda dari kebanyakan. Sikap yang ia tunjukkan cenderung mengagumkan, seakan kemampuan dan daya tarik manusia ini diatas rata-rata. Mungkin saja pada saat Tuhan menciptakan ia mengambil lebih banyak hak kepemilikan. Salah diantaranya adalah kedigdayaannya yang menyebalkan.

Namun seperti yang kukatakan, bertemu dan mengenal baik dirinya merupakan takdir yang tidak dapat kuhindari. Selagi tidak menciderai, aku cukup menikmati.


2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...