“Untuk maaf kamu ngga terlambat, tapi untuk kembali, kamu kelamaan”, sahutku.
Kalimat itu bergema dikepalaku seusai aku terbangun dari mimpi dipagi hari, seseorang yang selama ini mati-matian berusaha untuk ku lupakan malah hadir pada waktu dan tempat yang terduga. Aku sama sekali tak menginginkan mimpi ini, terlepas dari bagaimana pola tidurku yang akhir-akhir ini memang kurang sehat, tidur nyenyak dengan adegan mimpi yang menyenangkan sangat ingin aku harapkan. Tentunya.
Pagi ini aku memutuskan untuk membeli segelas kopi latte tanpa krim dengan kadar gula yang tak terlalu banyak, demi memperbaiki suasana hati yang cukup tidak mengenakkan setelah mimpi berbau nostalgia itu. Ingatan akan adegan percakapan itu masih berbekas. Aku masih dapat mengingat jelas bagaimana gerak bibirnya dalam merangkai kata menjadi kalimat, bahkan kedua bola mata berwarna coklat tua yang sedikit sayu tergambar jelas dalam pikiranku. Ini terasa aneh. Seakan semesta memberikan kode bahwasanya sedang tidak terjadi hal yang beres pada dunia ini.
Lamunanku seketika buyar tatkala ku mendengar panggilan suara yang menyebut namaku dengan lantang dari arah kasir. Seketika itu pula aku beranjak untuk bangun mengambil pesanan kopiku yang sudah dibuat. Namun tak lama berselang langkah kakiku terhenti mendapati handphoneku yang sedang bergetar, menandakan ada pesan masuk. Kucoba meraihnya dari saku kanan celanaku kemudian membacanya melalui notifikasi.
"Halo" tulis pesan itu. Aku tidak mengenali siapa pengirim pesan itu. Sebuah nomor baru dengan profil kosong didalamnya membuatku bingung dan mengira-ngira siapakah dalang dibalik keisengan dari pesan ini. Aku kembali melanjutkan langkah.
Suara hatiku mulai menggerutu. "Ah mungkin saja hanya seorang kawan lama yang nomornya telah usang kemudian berganti dan mulai mengirim pesan siaran untuk menambah jumlah kontak pada handphonenya". Terlepas dari hal itu, aku memang tidak begitu menyukai membuka pesan dari seseorang yang belum kukenal. Acap kali kejadian serupa datang bergantian seiring waktu, beberapa kawan lama kerap mengirimi pesan untuk memberi kabar kalau ia telah memakai nomor baru. Biasanya aku hanya sekedar membaca lalu menghiraukan sambil langsung menyimpan nomornya, tanpa basa-basi, tanpa respon berarti.
"Kamu apa kabar?" sambung pesan itu. Tepat dimeja kasir aku kembali terhenti.
"Siapa ini?" tanyaku bergumam. Selain bertanya-tanya siapa yang mengirimi pesan sapaan itu kepadaku, aku terdiam melihat foto profil dari nomor tersebut. Mengherankan! foto profil yang tadinya kosong sekarang berganti dengan wajah seseorang yang sangat aku kenali.
Aku diam terpaku, bahkan kopi latte yang sedari tadi berada diatas meja tidak segera kuambil, sampai pada akhirnya seorang kasir menegurku untuk memastikan apakah aku sedang baik-baik saja. Ini menyebalkan, tidak seharusnya hal ini terjadi. Aku membencinya, namun sialnya rasa benciku tidak sebesar perasaanku yang lama tertinggal.





