Sial. Kabar mengejutkan datang bertamu ke teras rumah.
Yang benar saja si penghianat itu menemukan bahagianya lebih dulu? Sungguh tidak adil. Kenyataan bahwa ia telah menyakitiku masih belum selesai. Kemana keadilan itu pergi? Kapan karma akan datang? Bukankah sudah seharusnya iblis dihukum atas perbuatan yang telah ia lakukan. Aku semakin membenci situasi ini.
Selayaknya bara api yang melahap suatu lahan tanpa redam, hatiku penuh akan dendam. Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa ia berbagi tawa bersama pria lain dengan begitu cepat? Apa tidak pernah sedikitpun rasa menyesal terbesit dalam dirinya? Keterlaluan. Dasar manusia biadab. Untuk kali ini rasa ingin melenyapkanmu dari bumi semakin tinggi. Sebagaimana pembunuh berdarah dingin yang ketenangannya telah direnggut, kau akan bersiap menghadapi sisi tergelap dari jiwa seseorang. Andai saja perbuatan keji didunia tidak dilarang aku akan sangat menikmatinya. Membayangkan diriku adalah sosok pemburu bayaran dari abad ke 20, membunuhmu merupakan tugas termuliaku.
Jika seandainya negara ini tak memiliki dasar hukum, aku akan mencarimu ke segala penjuru dunia. Bermodalkan pistol glock model terbaru, aku siap tuk memburu. Tenang saja aku takkan menyakitimu secara membabi buta. Akan kuhabisi nyawamu dengan cara yang lebih istimewa. Kau tidak akan menyangka kala dirimu sedang asik menghapus rias make up pada wajahmu, aku telah bersiap menunggu. Bersembunyi dibalik kegelapan, mendekatimu secara perlahan. Lalu membunuhmu dari belakang tanpa mengeluarkan suara kegaduhan. Memastikan peluru dari senapanku menembus tubuhmu agar kau merasa kesakitan. Kejam? tentu saja. Aku bercita-cita membunuhmu secara sporadis, membuatmu merasakan sakit yang sama seperti yang kuderita. Lalu aku akan tertawa merayakan atas luka yang telah kuberikan. Seperti halnya dirimu yang tengah berbahagia bersama pria baru itu. Kau berhak tuk dibunuh.
Aku semakin membencimu kali ini.
Siapapun yang menggores luka padaku layak menderita sakit yang sama. Aku belum rela kalau kau tidak juga menderita. Ingin sekali kudengar bahwa hatimu telah hancur berkeping-keping. Setelahnya akan datang seseorang yang berpura-pura tuk mengobati, kemudian bergegas meninggalkanmu pergi. Aku tidak terima kau masih menikmati hidup tanpa terbalut sepi. Sedangkan aku tersungkur seorang diri bak hidup diatas peti mati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar