Senin, 27 November 2023

lakuna


Beberapa orang mengatakan, akan ada masa dimana detik-detik dalam hidupmu adalah momentum ketika semua kenangan kembali diputar satu persatu. Mungkin bagi sebagian besar manusia telah mengalami kejadian serupa. Dimana rasa sepi berimplikasi menjadi bagian puisi yang biasa disebut dengan rindu. Tentu saja, hal semacam itu tak luput untuk seorang sepertiku.

Sebuah notifikasi Google Drive membangunkanku dari bunga tidur. Sekilas sejumlah foto dengan tempat ikonik pada sebuah film yang berlatar tahun 1990 muncul diberanda paling atas. Aku mengamatinya. Dalam beberapa saat, diriku seolah mematung. Ingatan masa lalu menyusup seperti suara yang mengganggu. Teringat saat betapa lugunya aku tersipu malu ketika pertama kali mendapati pesan darinya. Tiba-tiba semua alasan itu tersebar memutar dikepala. Tentang apa yang membuatku menyukainya. Tentang bagaimana perasaanku mendadak bergerak tidak beraturan ketika sedang memikirkannya. Tentang dirinya yang masih sama padahal harusnya ia tampak berubah.

Aku masih ingat dengan suasana pagi saat kami berjalanan beriringan, pakaian yang ia kenakan, raut wajahnya ketika mengucap sapaan, bahkan aroma parfum yang ia pakai hari itu masih membekas dalam ingatan. Ya bilamana waktu bisa diulang lagi, aku akan tetap memilih untuk jatuh hati padanya, karena aku sungguh menyukai tahun itu.

Ia datang bersama bahasa baru yang membuatku takjub. Kemampuannya membalut hening dengan senyuman yang teduh; mampu membuatku luluh. Tutur katanya begitu manis. Hingga tanpa sadar aku semakin dalam mencintainya.

Dulu ia pernah bertanya, mengapa harus ia yang kujatuhi perasaan? Dan, aku pun tak pernah merasa memiliki jawaban. Aku beranggapan bahwasanya kita sendiri tidak dapat memilih hati kita jatuh untuk siapa. Kemanakah ia akan berlabuh? Dimanakah ia memutuskan tuk bertandang? Kesemuanya itu hadir tanpa alasan. Sebab, hal-hal seperti itu tidak dapat diprediksi atau ditentukan seenak jidat, karena pada dasarnya hati akan memilih bilamana ia telah terpilih. Ia pun bertanya kembali, sehebat itukah ia dimataku? Kurasa aku tak perlu menjawab pertanyaan itu. Lihat saja bagaimana ia selalu mampu membuatku tersenyum sebelum beranjak tidur.

Kita memang berasal dari dua suku yang berbeda. Lantas kala itu, aku pun sempat meragu. Apakah mungkin seorang prajurit biasa dari kerajaan Blambangan dapat merebut hati seorang tuan putri dari tanah Pasundan? Dimensi tentang kami saling berbenturan. Ia yang terbiasa menata barang secara perfeksionis berbanding terbalik denganku yang tergesa-gesa dalam melakukan banyak hal sekaligus. Namun saat pertama kali mata kami saling menatap, juga genggaman kami saling mengerat. Aku sadar saat itu kami dapat mengguncang dunia bersama. Ketika senja sedang menguning dijalanan, ikrar janji kami sedang dilantunkan.

Walau kini aku tak menemukan jejak dirinya dimanapun, nyatanya aku tetap bersyukur karna setidaknya ia telah menjadi seseorang yang pernah kusebut dengan rumah. Meskipun hanya sekedar mengira, aku tetap merasa beruntung karena pernah dibahagiakan olehnya sehebat itu. Biarpun secarik kata, kisah kami tak berakhir abadi. Perjalanan dengannya akan selalu menjadi cerita terhebat yang kan kusimpan diufuk cakrawala bersama dengan bagian menyenangkan pada tiap halaman dalam petualangan hidupku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...