Kala itu, pukul 2 dini hari. Aku sedang asik berselancar di Instagram untuk mencari informasi terkini tentang kehidupan. Maklum saja duniaku sedang disibukkan akan rutinitas untuk mengalihkan pikiranku sejenak dari ingar sebuah penyesalan. Kejadian memilukan kemarin masih belum dapat membuatku bangkit dari keterpurukan. Aku yang masih dalam proses penyembuhan ini masih saja merangkai bising pada kepala setiap hari.
Jemariku kian apik mengeser postingan demi postingan. Menjadikanku yang kian malam makin terbuai akan konten-konten jenaka yang menggelakkan tawa. Sampai akhirnya aku terhenti melihat notifikasi pada sebuah instastory. Ku bukalah isi cerita itu, tak lama kemudian; aku terpaku. Seseorang yang ku kagumi sejak dulu telah memutuskan untuk (kembali) menjalin ikatan dengan orang yang baru. Kudengar memang dia berkeinginan untuk menjalin hubungan yang mempunyai arah tujuan. Namun satu hal yang luput dari kronologi sebenarnya. Ia.. masih saja ku damba. Rupanya perasaan yang kusimpan selama bertahun tak memudar sedikitpun. Bahkan dihari setelah perpisahanku, aku masih berharap ia menoleh kebelakang untuk barang sejenak. Melihatku kembali; menunggu momen tuk menghampiri.
Kalau boleh diingat, aku merasa cukup beruntung lebih dekat mengenalnya melalui program kuliah kerja nyata. Membuat interaksiku yang sebelumnya tak pernah ada sama sekali, menjadi rutin bertukar kabar setiap hari. Aku yang tadinya hanya menatap dari jauh, menjadi seseorang yang sering membuatnya tersipu. Namun saat itu aku belum berani untuk mengungkapkan perasaan. Bagaimana mungkin seorang badut penghibur dari desa terpencil sepertiku mengharapkan cinta dari putri seorang ratu. Insecure.. mungkin adalah kata yang tepat untuk menggambarkan keadaanku masa itu.
Mungkin saja semesta berfikir, kita memang tak ditakdirkan untuk saling jatuh cinta. Meskipun dalam beberapa keadaan, aku berkesimpulan bahwa ia juga menaruh rasa kepadaku. Hanya saja kita saling menikmati momen berbagi tawa, memasrahkan waktu berjalan dengan cepat hingga Tuhan mempertemukan lagi di keesokan harinya. Aku tidak keberatan dengan hal itu. Bagiku menjadi salah seorang yang mengukir secarik senyum pada bibirnya merupakan sebuah prestasi yang sangat membanggakan. Dirinya yang lebih indah dari sinar mentari mampu memberi hangat ditengah situasi kelam menjadi terasa menyenangkan.
Namun setelah ku perhitungkan sambil memandangi instastory yang belum beranjak dari tatapan. Kenangan itu membuyar seiring dengan realita yang menampakkan kuasanya. Melihatnya memakai gaun putih bersama orang lain memang diluar prediksiku. Pada akhirnya seorang pria dewasa dari wilayah utara yang akan menemaninya menjelajahi samudra untuk kali kedua. Ia nampak senang karna seseorang telah berhasil memenangkan hatinya. Pipinya terlihat memerah, wajahnya pun kian sumringah. Hingga senyuman paling riak yang sangat ku kenal itu ia lihatkan kembali pada dunia. Seakan mengisyaratkan, bahwa kebahagiaan telah terlukis pada rias yang ia kenakan. Hal itu tentu menjadikanku harus sadar diri, bukan aku yang dia pilih.
Sangat tidak mudah untuk menerima kenyataan pahit untuk sekali lagi. Setelah aku gagal akan pilihanku sendiri.. Kini, aku harus melihatnya berbagi pelangi dengan orang lain. Aku tidak pernah mengerti cara semesta dalam membentuk alurnya. Apakah tiap sakit yang kurasakan akan terobati dikemudian, ataukah tiap tangis yang menyesakkan hati akan berganti tawa dilain hari. Sungguh, aku tabu akan semua itu. Andai saja aku mempunyai kesempatan untuk memutar waktu, aku akan lebih berani mengutarakan perasaanku. Untuk sejenak aku ingin berpaling dari muka bumi, kemudian membuka portal menuju dimensi lain, mencari tempat sunyi untukku berdiam diri. Kepalaku terlalu banyak memupuk penyesalan Menengadah fakta yang kurang menyenangkan memang merupakan hal yang kurang menyenangkan.
Yahh.. menarik nafas panjang memang sebuah alternatif pilihan, meskipun tidak menyembuhkan, setidaknya membantuku sadar bahwa inilah kenyataan. Memang memuakkan, tapi apa mau dikata; mengikhlaskannya pergi sudah jadi keharusan.
