Kali ini aku tidak dapat mengelak.. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini mulai berlabuh, sejak kapan ia mulai menjatuhkan diri dari tepian nestapa untuk mengais sedikit harapan bernama cinta? Yang lebih mengherankan lagi, perasaan ini justru tumbuh pada seseorang yang tak pernah ku tuju. Memang, perihal cinta tidak ada yang tahu. Ia tak pernah bijak dalam menentukan pilihan.
Menyebalkan! Perasaan ini bagaikan imigran gelap yang harus selalu bersembunyi kala kita saling bercengkrama tentang nostalgia, seakan aku tidak ingin membuatnya terlihat. Karena sejauh ini yang kupikir, pertemanan bisa rusak apabila salah satu diantara keduanya memiliki perasaan lebih untuk memiliki. Dan saat ini, hal itu terjadi. Bagaimana mungkin dari kebiasaan kita bertegur sapa hingga saling bertukar cerita mengakibatkan bom waktu yang sejatinya tertidur, meledak menghacurkan pintu hati yang tak seharusnya terbuka pada teman sendiri. Sungguh ironis, sial sekali. Entah bagaimana caraku menanggulangi realita. Bahwa sebenar-benarnya aku telah jatuh cinta pada seseorang yang tak seharusnya ku cinta.
Lagi-lagi isi kepalaku kembali memberontak, tatkala dirimu menyemangatiku sebelum aku menaiki podium untuk mengikuti lomba debat antar universitas. Timbul suatu pertanyaan "Apakah kamu selama ini memiliki perasaan yang sama denganku?". Begitu besar harap ini untuk mengetahui jawaban, namun aku tidak berani menanyakan. Hal tersebut sangat bisa meniadakan semua hal menyenangkan antara kita; semasa dalam status teman.
Mungkin sebagian dari kawan seperjuangan kita menyadari, bahwa kita lebih dari ini.
Teman tidak melakukan hal seperti yang kita lakukan. Serupa kutipan lagu yang dinyanyikan Meghan Trainor. Semua orang telah berprasaka, kamu mencintaiku, dan aku mencintaimu. Sedang kita sibuk saling menyanggah satu sama lain. Opini demi opini yang kian menyeruak, dibantah sebelum menjadi riak. Kita berdua bersekukuh; kami tidak lebih dari itu.
Biarpun dalam benak aku mengiyakan segala hal yang mereka katakan, tentang perasaanku yang telah memilih kemana ia harus berlabuh. Tentang dirimu yang kujadikan tujuan setelah pulang meramu. Juga tentang kisah yang perlahan mulai menemukan titik temu.
Melalui cerita-ceritamu lah aku mulai menimbulkan rasa, rasa yang seharusnya bagiku tak pernah ada. Tidak etis rasanya mencintai teman sendiri, terlebih lagi setiap hari harus berbohong pada dunia bahwa aku tidak jatuh hati; sedang hatiku tak berkata demikian.
Sebuah studi psikologi dari Amerika juga ada benarnya, hubungan pertemanan yang terlalu intim sangat rawan dengan yang namanya jatuh cinta. Meski hati telah berhati-hati. Ada kalanya ia mendekap sunyi kemudian bertengger dalam sanubari. Mungkin sebaiknya tidak perlu aku ungkapkan, biarlah perasaan ini tumbuh seiring hubungan kita yang semakin jauh. Chapter demi chapter dari kisah ini akan selalu ku nikmati. Tiap percakapan antara kita akan selalu menjadi dongeng favoritku saat sebelum tidur. Aku tidak akan memaksakan perasaan ini, tak perlu. Bagiku, aku telah merasa cukup dengan status kita; alangkah baiknya memang tak harus ada yang berubah. Mengedepankan ego untuk menyatakan perasaan dengan resiko kehilangan merupakan harga yang terlalu mahal untuk ku korbankan. Biarlah perasaan ini begini adanya. Tak apa, aku menyukainya.
Mungkin suatu hari aku akan menemukan kekuatan tuk mengatakan "Kau lebih dari sekadar teman".

Tidak ada komentar:
Posting Komentar