Bagi seseorang yang telah menggadaikan hampir separuh hidupnya sering kali berkata bahwa umur hanya angka. Namun kurasa pemikiranku sedikit berbeda.
Aku bercita-cita menikah pada usia muda, karena dalam pandanganku, menikah adalah suatu hal yang harus disegerakan. Diluar dengan kebiasaanku yang sangat menyukai anak kecil, tentu datangnya buah hati dapat menambah tingkat kegemasan pada hidup yang sedang dijalani. Memang begitulah tujuanku, keinginan yang cukup sederhana tetapi memerlukan proses yang sulit untuk memperolehnya. Dalam berbagai aspek saja contohnya dapat menciptakan kegagalan. Salah satunya adalah cerita kemarin, lebih dari dua kali aku telah mempersiapkan diri untuk melaju ke jenjang pernikahan, ternyata takdir berkali tak sepakat dengan itu. Bahkan aku sempat salah dalam memilih seseorang. Faktor yang justru sangat-sangat vital.
Menarik untuk dikata, beberapa dari kerabatku rupanya juga pernah mengalami kisah cinta yang hampir serupa. Bahwa mereka pernah merasakan tergelincir dalam nestapa. Maka tak heran jika aku mendapati giliranku kali ini. Semacam tongkat estafet yang ditukar secara berurutan. Berganti-gantian.
Akan tetapi ada sedikit pembelajaran yang dapat kupetik, bahwa hidup tak melulu soal percintaan. Ada kalanya periode waktu bisa merubah jalannya cerita. Bahkan terkadang semesta menunjukkan bahwa ia juga ikut andil dalam melukis kehidupan. Manusia bisa berspekulasi, namun semesta berhak memberi interupsi. Hal-hal bersifat fasis juga patut dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Terkadang sebagian besar manusia lupa akan hal tersebut, beberapa diantaranya pernah terjerumus akibat keegoisan, termasuk aku kala itu. Maklum saja, mimpi ditengah tidur siang sangat menyenangkan untuk dilanjutkan.
Saat ini aku tidak begitu menggebu mengerjar sesuatu. Meski tidak sedikit dari temanku yang perlahan telah menemukan orang baru menyarankan untuk aku segera menyegerakan. Ya walaupun mereka berpikir aku berhak untuk mendapati kebahagiaan. Akan tetapi bagiku yang jauh lebih mengetahui hidupku sendiri daripada orang lain sangat tidak berkeinginan untuk ikut berpartisipasi dalam perlombaan. Sebab, aku beranggapan masih banyak benda berserakan yang perlu dibereskan. Selama aku belum mampu sembuh sendiri, aku takkan berani membuka hati. Biarkan saja berlalu untuk waktu yang tak menentu.
Apabila suatu hari nanti aku mempunyai kekasih. Tidak menutup kemungkinan aku akan mengiyakan perkataan mereka. Karna cepat ataupun lambat. Aku perlu untuk menyusul. Mengejar ketertinggalanku yang telah tertunda berkian taun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar