Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?
Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi hancur lebur tak menentu. Benteng penghalang yang senantiasa melindungiku dari petaka sial juga ikut lenyap tanpa sisa. Aku pun kehilangan konsentrasi menyelesaikan tupoksi kerjaku kali ini. Pekerjaan rumit yang sedari pagi dieksplorasi, terbuyarkan dengan berita aktual yang tidak ingin kudengar sama sekali. Kendati matahari telah mengalami pergeseran titik orbit hingga merubah warna rona langit menjadi lebih jingga; membuatku terlupa pada suasana. Menyadari bahwa kabar yang tak seharusnya kutahu itu telah tiba mengetuk pintu rumahku, menjadikan alasan mengapa otakku kini serasa beku. Berbagai isi pesan mulai kuterima dari beberapa rekan yang menanyakan keadaan atau hanya sekadar membagi apa yang mereka temukan. Secara tiba-tiba notifikasiku dipenuhi dengan aduan laporan yang berisi tentang sebuah isu yang sama. Kau, menikah.
Rasanya ingin sekali ada seseorang berjalan menghampiriku, menepuk pundak, kemudian berbisik ditelinga seraya berkata bahwasanya kabar ini hanyalah lelucon belaka. Karna aku sangat memahami, sejak dulu kau memang kerap menjadi model penata rias pengantin. Barangkali kupikir, ini hanyalah satu dari banyaknya aktivitas yang sudah sering kau lakukan. Bahkan jika ada seseorang yang membercandaiku dengan kata 'April Mob' pada penghujung bulan ini akan lebih menyenangkan hati kecilku untuk menerima dan mempercayainya. Namun kenyataan yang terjadi saat ini, berbanding terbalik dengan realitas yang lebih buruk dari mimpi.
Bahkan dengan segala luka yang merobek dada, aku tak pernah mampu menunjukmu sebagai penyebabnya. Kau masih terlihat indah diantara banyak suara yang memintaku berhenti mencintai luka. Gila juga ya? Betapa manusia bisa begitu keras kepala bertahan pada hal-hal yang sebenarnya tak pernah menjadi miliknya.
Hujan dimataku menolak reda. Akupun tak yakin untuk siapa isak tangis ini? Untukmu ataukah untuk diriku sendiri. Karna kebenaran yang terjadi saat ini bukanlah sesuatu yang tak bisa diprediksi. Pada dasarnya diusiaku yang kini mulai menginjak seperempat abad, menjadi masuk akal bagimu yang berada 4 musim lebih jauh dari rentang usiaku memiliki kerentanan dengan putusan menikah. Malah seharusnya aku dapat mentolerir hal itu tanpa pola. Lebih-lebih selama periode waktu yang terhabiskan tanpamu sudah sepatutnya aku perlu menyadari bahwa memang telah sejak lama posisiku terganti.
Selamat!
Padahal baru sepertiga jalan ditahun ini aku sudah harus menyiapkan kembali apa-apa yang perlu dikemasi tuk menghadapi keadaan diluar kendali. Beberapa orang mungkin akan memilih menyerah, tapi tidak denganku. Aku akan terus berjalan meski diiringi dengan ketakutan. Bagaimanapun kau adalah seorang pertama yang mengajarkanku apa arti keberanian. Jika di kehidupan yang hanya sekali ini aku tidak dapat bersamamu; maka tak mengapa. Lagipula jauh sebelum itu aku pernah berkata kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Kendati hantaran kabar ini cukup memberikan luka yang menyayat, maka biarkanku tenggelam dengan lukaku untuk sesaat. Semoga momen hilangmu kali ini dapat segera kuterima dengan sukarela. Dan 'meskipun terlambat' selamat menjalani kehidupan sempurna yang dulu sangat kuimpikan kita bisa berdiri disana.







