Minggu, 17 Agustus 2025

2527


Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah? 

Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi hancur lebur tak menentu. Benteng penghalang yang senantiasa melindungiku dari petaka sial juga ikut lenyap tanpa sisa. Aku pun kehilangan konsentrasi menyelesaikan tupoksi kerjaku kali ini. Pekerjaan rumit yang sedari pagi dieksplorasi, terbuyarkan dengan berita aktual yang tidak ingin kudengar sama sekali. Kendati matahari telah mengalami pergeseran titik orbit hingga merubah warna rona langit menjadi lebih jingga; membuatku terlupa pada suasana. Menyadari bahwa kabar yang tak seharusnya kutahu itu telah tiba mengetuk pintu rumahku, menjadikan alasan mengapa otakku kini serasa beku. Berbagai isi pesan mulai kuterima dari beberapa rekan yang menanyakan keadaan atau hanya sekadar membagi apa yang mereka temukan. Secara tiba-tiba notifikasiku dipenuhi dengan aduan laporan yang berisi tentang sebuah isu yang sama. Kau, menikah. 

Rasanya ingin sekali ada seseorang berjalan menghampiriku, menepuk pundak, kemudian berbisik ditelinga seraya berkata bahwasanya kabar ini hanyalah lelucon belaka. Karna aku sangat memahami, sejak dulu kau memang kerap menjadi model penata rias pengantin. Barangkali kupikir, ini hanyalah satu dari banyaknya aktivitas yang sudah sering kau lakukan. Bahkan jika ada seseorang yang membercandaiku dengan kata 'April Mob' pada penghujung bulan ini akan lebih menyenangkan hati kecilku untuk menerima dan mempercayainya. Namun kenyataan yang terjadi saat ini, berbanding terbalik dengan realitas yang lebih buruk dari mimpi.

Bahkan dengan segala luka yang merobek dada, aku tak pernah mampu menunjukmu sebagai penyebabnya. Kau masih terlihat indah diantara banyak suara yang memintaku berhenti mencintai luka. Gila juga ya? Betapa manusia bisa begitu keras kepala bertahan pada hal-hal yang sebenarnya tak pernah menjadi miliknya.

Hujan dimataku menolak reda. Akupun tak yakin untuk siapa isak tangis ini? Untukmu ataukah untuk diriku sendiri. Karna kebenaran yang terjadi saat ini bukanlah sesuatu yang tak bisa diprediksi. Pada dasarnya diusiaku yang kini mulai menginjak seperempat abad, menjadi masuk akal bagimu yang berada 4 musim lebih jauh dari rentang usiaku memiliki kerentanan dengan putusan menikah. Malah seharusnya aku dapat mentolerir hal itu tanpa pola. Lebih-lebih selama periode waktu yang terhabiskan tanpamu sudah sepatutnya aku perlu menyadari bahwa memang telah sejak lama posisiku terganti. 

Selamat! 

Padahal baru sepertiga jalan ditahun ini aku sudah harus menyiapkan kembali apa-apa yang perlu dikemasi tuk menghadapi keadaan diluar kendali. Beberapa orang mungkin akan memilih menyerah, tapi tidak denganku. Aku akan terus berjalan meski diiringi dengan ketakutan. Bagaimanapun kau adalah seorang pertama yang mengajarkanku apa arti keberanian. Jika di kehidupan yang hanya sekali ini aku tidak dapat bersamamu; maka tak mengapa. Lagipula jauh sebelum itu aku pernah berkata kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku juga. Kendati hantaran kabar ini cukup memberikan luka yang menyayat, maka biarkanku tenggelam dengan lukaku untuk sesaat. Semoga momen hilangmu kali ini dapat segera kuterima dengan sukarela. Dan 'meskipun terlambat' selamat menjalani kehidupan sempurna yang dulu sangat kuimpikan kita bisa berdiri disana. 

Senin, 30 Juni 2025

Venus

Aku mulai lupa kapan terakhir kali duniaku menjadi cukup berwarna. Kalau saja bisa kuingat adalah ketika jemari tanganku menyematkan sebuah cincin pada jari manis mungil milik seseorang beberapa tahun silam. Ya, benar. Memori itu masih membekas. Ribuan peristiwa serta cuplikan adegan riang gembira tak satupun mampu menghilangkan ingatanku untuk tak lagi berbunga. Wajar saja bilamana terus kuingat, dahulu aku menjadikanmu sebagai pusat tata surya dari sumber kebahagiaanku. Lantas ketika kau tak lagi menemani, aku kehilangan kemampuan untuk terdistorsi. 

Suatu masa yang jauh kita pernah menjadi sejoli yang lupa waktu. Kala itu, angin berhembus dari ufuk timur menghadirkan kesejukan bak lanjutan puisi bernada rindu. Menghabiskan setiap rona ceria merekah ke seluruh penjuru dunia. Seraya dengan kepolosan kita yang mampu mengubah awan kota menjadi penuh canda tawa; memilihmu benar-benar diluar rencana. Kau berjalan seperti biasa; dan tak ada yang istimewa. Namun anehnya aku merasa waktu memperlambat senyumanmu. Dalam sepersekian detik, kurasakan ada hal sederhana dalam dirimu yang membuat hal-hal rumit dikepalaku mau tenang, mau diam, mau tinggal. 

Mendengarkan ceritamu sudah menjadi ritual wajib yang haram hukumnya ditinggalkan. Setiap malam kau selalu merangkum tiap detail keseharianmu menjadi tumpukan kisah dongeng yang menarik. Sebagaimana tokoh pewayangan yang memahami banyak alur cerita, kau mampu meramu berbagai kisah menjadi cerita indah bahkan untuk perihal yang tak kau suka. Perasaan kagumku padamu bertambah makin kuat, sampai-sampai isi otakku tak mampu tuk mencerna setiap kalimat kompleks yang dulu pernah kau buat. 

Dan bagi seseorang yang memiliki riwayat darah tinggi, menghabiskan 5 porsi sate kambing cukup hanya untuk dirinya sendiri merupakan sebuah prestasi yang patut diacungi. Meskipun kutahu sekarang kau tak lagi bersamaku, letak kagumku tak beranjak jauh. Hanya saja aku kebingungan bagaimana mengekspresikan diri selepas dirimu pergi. Setiap tahun aku begitu disibukkan dengan ajakan kencan dari berbagai teman yang perduli. Sayangnya aku tak terlalu menggebu mencari penggantimu. Kendati demikian sayup-sayup sudah kudengar suatu kabar kurang menyenangkan bahwasanya kau telah berhasil menemukan seseorang sebagai arah tujuan. Sedangkan aku? aku belum berani untuk lekas beranjak dari keterpurukan.

Walaupun kenangan manis bersamamu merupakan hal yang lebih indah dari mimpi, aku harus segera mawas diri. Tak cukup bagiku tetap diam disaat kau sedang melangkah jauh meniti kehidupan. Cepat atau lambat aku perlu menyusulmu melukis kepercayaan diri. Bukan untuk mengabaikan, namun untuk memastikan kakiku tetap melangkah kedepan. Agaknya perihal tentangmu harus sudah kututup rapat-rapat, agar perjalananku dalam melupakanmu tak menemui kata terhambat. 

Sabtu, 21 Juni 2025

los[h]er

Kupikir setelah ketenangan yang perlahan kunikmati sejak beberapa bulan lalu tidak akan ada lagi gangguan yang menggerogoti pikiranku dengan berbagai permasalahan pelik. Merupakan dering ponsel yang menderaikan perhatianku dari asiknya memandangi kumpulan terasering sawah yang membentang sepanjang jalan pedesaan yang ku sambangi saat ini.

Sebuah panggilan masuk dari nomor telepon yang tidak aku kenali membuatku terperangah. Terdapat angka (+62) yang menandakan bahwasanya nomor tersebut tidak pernah menghubungiku sama sekali atau mungkin memang tidak pernah tersimpan dalam daftar kontak tersimpanku. Sontak hal itu membuatku sedikit bergumam tanya, timbul sedikit keraguan untuk menjawab panggilan itu karna seringkali panggilan tiba-tiba seperti ini merupakan penipu yang kerap menawarkan asuransi. Maklum saja insting melindungi diri yang kumiliki sejak dini kerap berbunyi jika terdapat hal mencurigakan diluar intuisi. 

Setelah beberapa detik terdiam, kuputuskan untuk menjawab panggilan itu tanpa berfikir panjang sambil berkata halo dengan nada sapaan yang ramah. 

"Apa aku bisa bicara sama kamu?" ucap suara seorang perempuan yang membuka pembicaraan. 

Suara itu terdengar sangat familiar sekali. Nada bicara yang lazim merebak telingaku acapkali menghadirkan ketenangan yang selalu membantu syaraf-syaraf dalam otak memicu beberapa adegan-adegan indah sebelum malamku merambah dunia mimpi. Sejenak aku terpatung, diam dan membisu, menimbang apakah harus menjawabnya atau cukup diam tak beruara dan mengabaikannya saja. Pikirku.

"Aku tahu kamu nggak mungkin nerima aku lagi”, sambungnya sekali lagi.

"Jangan tanyakan padaku perihal sesuatu yang aku sendiri tidak tahu. Karena aku saja masih belum tahu. Aku ini kehilangan kamu atau kamu memang tidak pernah menjadi milikku sama sekali", sahutku. 

"Tapi aku sayang sama kamu, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi", katanya dengan sedikit memaksa. 

"Apakah definisi kata sayang merupakan bagian dari penyesalanmu setelah kamu memilih pergi dan tidak bersedia kembali? Ataukah orang yang kamu pilih saat itu telah menelantarkanmu begitu saja sebagaimana yang kamu lakukan padaku? Aku kurang memahami maksud dari ucapanmu sekarang ini, karna kenyataannya apa yang kuterima sangatlah berbeda".

"Aku minta maaf", ujarnya pelan.

Untuk seseorang yang sudah menghabiskan seluruh batas toleransi dari logikaku, rasanya tidak masuk akal untuk membuka sejengkal inci ruas jendela hanya untuk memastikan apakah ia tidak beranjak pergi dari teras rumah. Menurutku puluhan kesempatan yang sudah kuberikan sangat lebih dari cukup untuk menilai seberapa pantas atau seberapa layakkah seseorang yang membersamaiku saat ini untuk diperjuangkan. Jika aku bukan lagi bagian dari tujuannya, maka sudah tidak ada lagi alasan bagiku mengemis belah kasihan. Sejak dari awal pun aku mengetahui, bahwa tupoksiku dalam hubungan sebelumnya hanya menemanimu dalam kesendirian.

Menyebalkan memang, tapi begitulah hidup. Kita tidak bisa memilih alur seperti apa yang akan kita dapat, berharap masa depan sesuai dengan prediksi yang digambarkan melalui khayalan yang menyebabkan kita terjebak dalam ilusi memabukkan, memang tak seperti yang diduga. Sebagaimana kepercayaanku yang binasa akibat terlalu mempercayaimu, sehingga dalam kemungkinan kali ini agaknya untuk mengulang perasaan yang sama nuraniku cukup sulit diyakinkan. Goresan luka itu masih membekas, dan kau tak pernah tahu seberapa banyak reruntuhan yang berusaha kukemas. 

"Sudah kumaafkan sejak lama, sekarang kumohon jangan pernah datang dihidupku lagi. Menjauhlah, dan asinglah selamanya", tegasku sambil mematikan panggilan dan memblokir akses nomor baru itu.

Senin, 31 Maret 2025

ARSENAL

Dari sekian banyak kisah asmara dan patah hati yang aku rahasiakan, mungkin ini adalah satu yang berhasil membuatku hancur berantakan.

Aku tidak mengerti bagaimana cara kerja sebuah pola pikir yang dilandasi pernyataan bahwa tidak mengapa bertuai sapa dengan masa lalu hanya karna perasaan yang kini sedang tumbuh belum merekah secara utuh. Apa itu sebuah pembelaan atau pembenaran? Yang jelas aku tidak menemukan titik terbaik yang bisa memecah akal sehat dan logikaku. Setahuku itu merupakan tindakan kurang tepat karna dapat memicu perselingkuhan. Kebohongan yang dipupuk sedikit demi sedikit juga akan menimbulkan kecurigaan. Tapi mengapa aku yang dipaksa mengerti perihal sesuatu yang sewajarnya sudah ku pertanyakan; sungguh ajaib sekali.

Ada banyak jumlah permainan tradisional didunia dan segelintir diantaranya bisa kau mainkan untuk sekadar menghilangkan rasa bosan. Lalu mengapa perasaanku yang kau pilih? Bagaimana mungkin dapat kupercaya bahwa solusi terbaik dari sebuah pengkhianatan adalah pertemuan kembali untuk mengucapkan kata selamat tinggal. Kurang luaskah toleransiku selama ini? Tidakkah kau berfikir sehebat apa perdebatan kita kala itu? Hanya karna aku memaafkanmu bukan berarti itu menjadikanmu benar. Aku memang mengalah karna kupikir hal ini dapat diperbaiki selagi aku memberi ruang untuk batas-batas tertentu agar tidak memicu kau mengulanginya lagi. Lantas mengapa itu tidak membuatmu merasa cukup tuk tetap bersandar padaku? Serapuh itukah loyalitasmu atau memang sedari awal bukan akulah orang yang kau pilih.

"Kelak suatu saat nanti kau akan tahu betapa sulitnya bangkit setelah dibuat jatuh oleh seseorang yang kepadanya harapan terakhirmu kau habiskan".

Tidak ada yang bisa dimenangkan jika hanya berjuang sendirian, tidak ada yang bisa diharapkan dari seseorang yang membuatku merasa terbuang. Membersamaimu hanya akan menjadikanku seperti pecundang tak beruntung karna berhasil ditipu berkian kali. Dalam skala prioritasmu pun aku sudah kalah, memaksamu kembali pun tiada gunanya. Kau sama saja seperti orang-orang yang tak pernah puas dan hanya ingin dimengerti bak seorang ratu penguasa. Konsepmu dalam berfikir kurasa tidak normal. Membantai habis perasaanku dengan ribuan desing peluru dan tembakan meriam menghancurkan pilar kepercayaan berserta isinya telah sukses meniadakan hasratku menjalin hubungan.

Akan ku nikmati semua trauma ini sendiri, silahkan pergi.

Senin, 24 Maret 2025

pathological liar!


Aku pernah mendengar sebuah kutipan yang berbunyi "satu kebohongan sudah cukup untuk mempertanyakan semua kebenaran". Sebagaimana peribahasa seekor tupai yang tidak selamanya pandai melompat, kali ini argumenku terpatahkan dengan kuat.

Dulu aku mengira kau adalah seseorang yang layak mendapat kepercayaanku setelah beberapa kurun waktu yang kita lalui selama fase perkenalan. Kau pun pernah berjanji untuk tidak menyakitiku dikemudian, lantas semudah itukah dirimu mematahkan ikrar yang dulu pernah kau ucapkan? Kala itu kau berani berbicara dengan lantang bahwa dirimu bukanlah seseorang yang sama seperti masa laluku. Dengan tegas menyangga jika aku perlu berfikir ulang untuk hal yang sebaliknya. Kalau memang pernyataan itu dilandasi perkataan serius tanpa perlu berteman dengan kekhawatiran, mengapa semua ketakutanku benar-benar kau visualisasikan? Kejadian sekarang ini sangat berbanding terbaik dari bait puisi bernada harapan selepas pertemuan kita sore hari itu.

Aku tidak pernah melarangmu dalam segala hal, mentaatimu bak seorang babu kepada majikan, mengedepankanmu dalam prioritas terdepan, bahkan menuruti keinginanmu disaat aku tak merasa nyaman. Bagiku membuka komunikasi kembali dengan mantan bukanlah sesuatu hal yang baik tuk dilakukan. Akupun tak sebodoh itu untuk tidak menaruh kecurigaan, namun bagimu pernyataanku hanyalah rasa kekhawatiran yang berlebih-lebihan. Lalu sekarang siapa yang harus disalahkan? Mengapa kamu melakukan satu-satunya kejadian yang tidak pernah aku inginkan. Sialan.

Mungkin beberapa aktor kelas dunia akan memujimu karna kau pandai dalam memanipulasi emosi. Kau pun bersikap seolah salahmu tak seberapa, menjadikan dirimu benar dikarenakan ketidakpekaanku dalam menderai sesuatu. Alibi demi alibi kau lantunkan untuk membuatku percaya bahwa kejadian itu hanya satu dan terakhir kalinya. Sayangnya semesta lebih memilih berpihak padaku. Tiada henti sepanjang waktu aku menemukan bukti satu-persatu. Jika ini merupakan sebuah kasus pembunuhan yang belum terpecahkan selama puluhan tahun maka aku akan bersorak kegirangan sebagai bentuk kemenangan. Kenyataannya ini hanya goreskan luka yang berhasil kau titipkan.

Senin, 17 Maret 2025

Gomawo, Mi-daa


Diantara bunyi gemericik air hujan yang sedang berjatuhan aku memberanikan diri mengungkapkan perasaan melalui ruang obrolan yang disediakan aplikasi bernama WhatsApp. Entah pikiran apa yang sedang merasuki kepalaku, rasanya kepercayaan diriku muncul seketika bak bintang jatuh yang melintasi langit bumi, membuat jari-jemariku bereaksi sehingga mereka mulai lihai dalam merangkai kata berima puisi. Aku cukup takjub dibuatnya, darimana kepercayaan ini berasal?

Seorang perempuan lugu yang baru saja kukenal selama kurang lebih tiga minggu ini berhasil meruntuhkan tembok keegoisan yang berdiri kokoh sejak beberapa tahun terakhir. Kesan pertama mengenalnya pun aku sudah memprediksi bahwasanya akan ada ketidakberesan yang menyinggapi hatiku. Benar saja bilamana waktu itu seketika tiba, entah aku yang membeku tersipu malu karna cukup lama tidak bercengkrama dengan perempuan sebaya atau aku yang terlambat sadar telah menyukainya sejak kesan pertama. Getaran tak biasa ini membuatku garis bibirku merekah ke pipi memunculkan rona kemerah-merahan.

Beberapa hari berselang setelah perayaan kecil dengan suasana hati ceria, aku dan dirinya mulai membangun fondasi kuat dengan pilar penyangga pada tiap sisinya. Bertemu untuk kali pertama, berdedikasi saling menjaga, berbagi tawa juga cerita. Mendapati kembali arti kebahagiaan yang lama tertimbun dibalik duka. Kesendirian yang selama ini dibalut sepi menjelma menjadi hulu ledak yang menyalakan setiap aspek penuh tangis dalam jiwa yang meronta. Maklum saja, ketiadaan penyemangat hidup pada rutinitas harian menjadikan setiap hal dalam hidupku tak jauh dari kata membosankan. Menemukan seseorang yang bisa kujadikan kembali sebagai tempat dan arah tujuan rasanya cukup menyenangkan. Berhubung ini adalah kali pertamaku kembali menjatuhkan hati, harapanku cukup tinggi untuk mengembalikan elemen kesenangan terhitung mulai dari detik ini.

Aku berjanji untuk tetap membersamainya dalam berbagai situasi. Mengesampingkan kepayahanku dengan sensitivitas kepekaan yang terasa menurun, aku tetap ingin mengimbanginya dari segi manapun. Tak peduli ujung kisah ini membawaku kemana, yang jelas untuk tumbuh dan memikirkan kelanjutan hidupku ditemani namanya yang terukir disetiap langkah; aku senang menjalaninya. Karena itulah kebahagiaannya diatas kepentingan dunia sekalipun. Meski ia pernah mempertanyakan mengapa ia tak seberuntung orang kebanyakan, aku akan menjadi orang pertama yang memunculkan faktor pengecualian. Dikesempatan ini, akan kubuat hidupnya penuh arti.

Kamis, 06 Maret 2025

Uncle Ben's words were actually true


Mudah saja untuk mengatakan aku adalah seseorang yang tak cukup punya kepercayaan. Mana mungkin aku berani mengabiskan sisa waktu kepunyaanku tanpa berkunjung ke rumahmu? Membiarkan impresi orang-orang menyetujui pernyataan bahwasanya kau tidak lagi bertemankan kesedihan. Wajar saja bilamana aku menggerutu, karna untuk kali ini aku tak setuju.

Risau memang rasanya meniadakan kebiasaan yang sudah menjadi rutinitas normal dikeseharian. Sebagaimana kedekatanku denganmu yang dianggap tidak wajar oleh sejumput kecil manusia, mereka terlalu serius menanggapinya. Memang benar pernah disuatu waktu ada masanya aku sempat menaruh sepucuk asa pada dirimu. Namun untuk membiarkannya bergejolak memerangi intuisi, apalagi memecah fraksi, aku memilih tak beraksi. Maka tak heran selama bertahun kita saling mengenal satu sama lain tapi tidak saling paham perasaan masing-masing. Dengan beberapa kali ajakan darimu tuk mengunjungi dimana tempat kamu tinggal, secara terus menerang aku urung mengiyakan dengan berbagai alasan. Bagiku biasa saja, namun bagi sebagian orang terdengar seperti kejanggalan.

Entah suatu kebetulan ataupun tidak, teman-teman disekitarmu bergantian datang memintaku satu-persatu. Mendesak selagi ada kesempatan aku diminta mencoba mendekatimu. Meskipun hal itu kerap kali membuatku merasa ringkih akan tetapi situasi kurang menyenangkan ini bisa saja menjadi kabar yang menggembirakan (bagi orang kebanyakan). Mereka berpendapat bahwa hanya aku yang mampu tuk meredam segala sedihmu, begitupun sebaliknya. Walau terkesan sedikit memaksa aku tak menampik hal itu benar adanya. Kendati begitu opini itu tak dapat membuat perasaanku kembali jatuh secara menyeluruh.

Aku pernah mendengar sebuah kutipan dari film terkemuka yang mengatakan; kekuatan besar mempunyai tanggung jawab yang juga sama besarnya. Begitu pula dengan menjatuhkan pilihan hati, terdapat sebuah komitmen besar yang perlu kita jaga sebagai bentuk dedikasi dalam kesungguhan menenggang perasaan. Aku rasa kamu mungkin setuju denganku, bahwa kita belum cukup siap merajut kalimat dari kata awal "kita".

Mungkin beberapa orang akan sedikit kecewa mendengarnya namun biarlah ocehan itu tetap ada. Aku tidak berkeinginan menjalin hubungan tanpa adanya progress positif; kecuali kamu sendiri yang meminta. Tergantung seperti apa sang pencipta melukiskan masa depan, dan diantara ujung penantianku berhenti pada namamu ataupun bukan. Aku sudah siap dengan segala kemungkinannya.

Minggu, 02 Maret 2025

sal,


Mengapa tidak ada yang memberitahuku bahwa fase paling tidak menyenangkan dari putus cinta adalah kehilangan kendali atas diri sendiri?

Dulu aku mengira kehilangan merupakan ketakutan terbesar akan masa depan, tenyata untuk saat ini apa yang sedang ku alami menepis semua kekhawatiran yang menjadi mimpi burukku saat itu. Nyatanya hal yang paling menakutkan adalah menyadari bahwa aku tak dapat lagi membuka hati untuk orang lain setelah pernah merasakan kehilangan. Seolah semua celah sudah tertutup, pintu beserta jendela telah terkunci. Tiada satupun yang mampu membuka ataupun mendobraknya.

Setaun lebih lamanya aku menambali semua luka-lukaku demi mencari sembuh. Puluhan tempat wisata sudah aku datangi, berbagai macam makanan khas pernah aku pesan untuk merasakan cita rasa berbeda, tempat-tempat yang belum pernah aku singgahi sebelumnya mulai ku kunjungi satu persatu. Banyak hal baru telah kucoba namun tak satupun berhasil menggantikan rasa senang yang dulu pernah aku dapatkan saat berada di dekatmu kala itu.

Aku tidak ingin membenarkan perkataan semua orang bahwasanya laki-laki hanya mencintai satu orang perempuan semasa hidupnya, kendati begitu aku tak menampik perasaan yang teramat sangat ingin ku tiadakan ini belum kunjung memudar seiring periode. Bagiku dia masih menjadi momen terindah dalam hidup, satu-satunya hal yang dapat mengalahkannya dalam perebutan kenang isi kepalaku adalah keegoisanku tuk meraih sesuatu. Namun kini aku tak menggebu mengejar impian, bak sebuah pilar yang akar penyangganya mulai retak; aku tak bersemangat.

Seorang teman menyadarkanku kalau tidak sebaiknya aku berada pada titik terendah seperti saat ini. Dahulu aku adalah pribadi yang periang, sejak ia menghilang dari dekapanku senyumku mulai mengikis raut kebahagiaan. Pada titik paling miris ini aku merasa menjadi manusia paling gagal. Bagaimana mungkin aku tetap memikirkan seseorang yang bahkan saat ini sudah mengukir kisah cinta barunya bersama orang lain? Bukankah sudah seharusnya perasaanku mengurang? Apakah ini yang dinamakan fase paling menyebalkan setelah kepergian? Sungguh menyesakkan, cukup sakit rasanya.

Sulit sekali membendung potensi ancaman besar bernama kerinduan. Jika timbul pertanyaan mengapa ia tumbuh dan datang begitu saja akupun tak memiliki jawaban pasti yang penuh keyakinan. Mungkin setiap manusia memang perlu melaluinya. Sebagaimana konsep alamiah  dalam kehidupan, proses demi proses perlu ditingkatkan untuk menaikkan level. Seperti halnya sebuah tahap dalam ujian ada yang berhasil dan ada pula sebagian yang tidak. Entah aku berada di posisi yang mana semoga itu yang terbaik.

Aku masih selalu mencarimu dimanapun aku berada, berharap rumah ternyaman yang pernah kujadikan tempat pulang itu dapat kembali padaku sebagai pemilik lamanya. Andai aku bisa lebih lama menyelam dalam lautan mimpi, bertemu denganmu sekali lagi, melihat sepasang mata itu lagi.

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...