Jumat, 08 Desember 2023

Sweet Corn ≤ Eggplant


Setelah perkenalan kita aku harap semuanya kembali normal. Kau menjalani aktivitasmu sedang aku dengan rutinitasku. Juga beberapa hal yang terbiasakan aku harap segera dilupakan. Karena padanya, sungguh, aku tak bermaksud menjadikanmu tujuan.

Bukan perkara hal yang mudah untuk kembali menulis cerita pada lembar yang telah lama ditanggalkan. Melainkan, aku hanya perlu memastikan bahwa kelak aku tidak salah dalam menentukan pilihan. Mungkin sebagian dari temanku telah menyetujui bahwasanya hidup tidaklah pasti. Ada beberapa bagian perjalanan yang memang bekerja sebagai batu loncatan. Tentu saja, menggantungkan sebujur asa dimasa depan pada seseorang yang baru dikenal seperti berjudi dengan taruhan paling sedikit. Resiko kalah itu pasti, menang pun tiada arti. Seakan semua itu dapat dilalui tanpa memperoleh pelajaran apapun dalam kehidupan. Begitu perkiraanku.

Mula-mulanya kau menengadahkan hatiku secara terbuka. Menabur benih setiap kali menambatkan langkah, mengatur irama, membagi rasa secara seksama. Tadinya kukira vas bunga yang kau berikan padaku merupakan sebuah cinderamata selepas kepulanganmu dari pulau Dewata. Rupanya kau bermaksud lain. Ada tujuan terselubung yang tidak kuketahui. Namun seiring dengan insting perasa yang sejak dulu makin terasa, kepekaanku kian sensitif. Aku mulai mengerti mengapa begitu sering kau memintaku untuk berkunjung ke pemukimanmu. Alih-alih menyanggah pernyataan, nampaknya ajakan tak biasa itu merupakan alibi agar sebagian dari kerabat dekatmu mengetahui keberadaanku.

Tetapi, tunggu!
Kau tidak bisa semena-mena seperti itu.

Kau luput dalam satu hal yakni, ketertarikanku. Aku tidak semudah itu untuk dimenangkan. Sekonyong-konyong membumi-hanguskan hatiku dengan cinta adalah perilaku yang konyol. Meski kau menarik dari berbagai aspek dan versi, tapi tetap saja ada ruang yang membatasi. Perkara yang sulit untuk dirubah ialah fakta bahwa kau terlalu muda. Untuk seorang sepertiku yang telah  menghabiskan waktunya mengagumi perempuan dewasa sebagai kriteria idaman, kau nampak kalah telak dalam penilaian. Bukan maksudku mendiskriminasikan. Namun sedari awal, aku tak tertarik untuk mengauli seseorang yang dibawah batas usiaku. Secara tidak langsung aku tidak ingin memiliki hubungan, beberapa stigma membenarkan jikalau fakta dilapangan memang berkata demikian. Bagiku untuk menanggapi hal serupa yang menghabiskan energi berkepanjangan tidak layak dipertaruhkan. Aku tidak cukup tenaga untuk membentengi diri dari banyolan-banyolan yang menuntut untuk dimengerti. Sudah, tidak lagi.

Rasanya cukup bagiku untuk merangkum isi kepala. Setelah berbagai macam stimulasi yang sudah dijalani, kenyataannya kau tidak berhasil membuat pintu hatiku terbuka. Walaupun alam bawah sadarku terpecah menjadi dua antar pikiran dan logikaku. Pikiranku percaya bahwa kau dapat menjadi pengganti untuk meredakan malam-malamku yang muram. Sedangkan logikaku berkata, bersamamu takkan mendapati hal-hal baik. Pada akhirnya logikaku berada dibarikade paling depan, menjaga para koleganya agar tak merasakan kepahitan. Meski tidak ada yang sempurna didunia ini, aku tidak berani berspekulasi. Diantara ragam opini yang memulai peperangan, ideologiku tentang kedewasaan masih menjadi pemenang dalam sayembara. Aku kurang memadai dalam menyediakan banyak waktu untuk menghadapi sisi manja yang menyebalkan. Sepertinya.

Barangkali membersamaimu cukuplah menjadi sebuah kenangan, yang perlahan ditelan waktu; menjadikannya kian pudar. Karena sekarang yang terpenting adalah mengatur siasat agar posisi kita kembali berimbang.

Tak peduli kau sejauh langit atau sedekat langit-langit. Aku tidak ingin terdistraksi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...