Tidak ada satupun ingatan yang dapat menggantikan ingatan yang lain. Terlalu gegabah jika aku berkesimpulan waktu akan membantu untuk melupakan sesuatu. Aku tidak akan lupa. Seperti manusia yang akan datang dalam hidupku pada hari ini, tidak akan menggantikan siapapun yang sudah datang terlebih dahulu. Tapi sayang sekali, pada akhirnya disinilah kita berhenti sekarang. Kembali menjadi asing yang yakin kalau kehidupan satu sama lain sudah tidak lagi penting.
Di titik ini walau penuh kekesalan, aku sedikit mengambil nafas lega. Meski sadar hatiku sekarang mengalami fase genting, aku tak ingin sedikitpun bergeming. Memang ternyata akulah yang telah melebih-lebihkan segalanya. Mengira kau adalah rumah, padahal bagimu aku hanyalah bahan uji coba. Akulah orang yang terlalu mudah terbang oleh delusiku sendiri, sebelum akhirnya terbanting ke tanah tanpa aba-aba; penuh luka-luka, bermandikan darah-darah. Momen-momen indah yang selama ini kuimpikan akhirnya jadi nyata tanpa adanya balasan. Aku yang terlalu berlebihan dengan lancang telah menuduhmu sudah memberi harapan tanpa serapahku. Pelukan hangat yang kau tawarkan waktu itu adalah murni sebuah pertolongan, bukan bermaksud menaruh perasaan, begitu katamu.
Namun aku tidak semudah itu untuk dibohongi. Gelagat demi gelagat mencurigakan dari dirimu telah kupelajari sejak musim panas lalu. Apakah kau tau, setiap manusia memiliki kebiasaan aneh setiap kali berbohong? Selepas dengan berhasilnya misimu, kau memunculkan suatu sikap yang kurang menyenangkan, menyebabkan semua praduga yang kukaji selama ini dirasa benar.
Aku tak mengira bahwa kau telah merencanakan ini sejak awal. Tadinya, perselisihan kecil diantara kita hanyalah debat biasa. Permasalahan-permasalahan ringan yang dibesar-besarkan kuanggap sebagai keinginanmu untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersamaku. Ternyata aku salah. Penghianatan secara terang-terangan merupakan sesuatu yang sangat tidak aku tolerir. Aku mulai mengerti mengapa kau begitu mencemburuiku dan melarangku untuk meladeni orang baru, rupanya hal-hal yang pernah kau tuduhkan secara tak mendasar merupakan cerminan atas perlakuanmu sendiri. Dimana polemik kau ciptakan agar tak merasa bersalah dikemudian. Keterlaluan.
Bukan perpisahan yang disesali tapi mengapa kau memilihku seakan semua ini tak berarti. Atas dasar apa kau berani menjadikanku sebagai objek membalas dendam. Mengapa pula harus terjadi dalam lingkup waktu sesingkat ini? Aku sedang berusaha mencari presepsi, namun lagi dan lagi, aku tak menemukan bahwasanya kau benar-benar mencintaiku. Faktanya menang tidak pernah ada kata kita untuk saat ini dan juga nanti. Faktanya memang aku yang jatuh cinta sendiri.
Ternyata, selain harapku menuju ke arah yang salah, kau memang berniat menghancurkanku secara sengaja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar