Aku mulai lupa kapan terakhir kali duniaku menjadi cukup berwarna. Kalau saja bisa kuingat adalah ketika jemari tanganku menyematkan sebuah cincin pada jari manis mungil milik seseorang beberapa tahun silam. Ya, benar. Memori itu masih membekas. Ribuan peristiwa serta cuplikan adegan riang gembira tak satupun mampu menghilangkan ingatanku untuk tak lagi berbunga. Wajar saja bilamana terus kuingat, dahulu aku menjadikanmu sebagai pusat tata surya dari sumber kebahagiaanku. Lantas ketika kau tak lagi menemani, aku kehilangan kemampuan untuk terdistorsi.
Suatu masa yang jauh kita pernah menjadi sejoli yang lupa waktu. Kala itu, angin berhembus dari ufuk timur menghadirkan kesejukan bak lanjutan puisi bernada rindu. Menghabiskan setiap rona ceria merekah ke seluruh penjuru dunia. Seraya dengan kepolosan kita yang mampu mengubah awan kota menjadi penuh canda tawa; memilihmu benar-benar diluar rencana. Kau berjalan seperti biasa; dan tak ada yang istimewa. Namun anehnya aku merasa waktu memperlambat senyumanmu. Dalam sepersekian detik, kurasakan ada hal sederhana dalam dirimu yang membuat hal-hal rumit dikepalaku mau tenang, mau diam, mau tinggal.
Mendengarkan ceritamu sudah menjadi ritual wajib yang haram hukumnya ditinggalkan. Setiap malam kau selalu merangkum tiap detail keseharianmu menjadi tumpukan kisah dongeng yang menarik. Sebagaimana tokoh pewayangan yang memahami banyak alur cerita, kau mampu meramu berbagai kisah menjadi cerita indah bahkan untuk perihal yang tak kau suka. Perasaan kagumku padamu bertambah makin kuat, sampai-sampai isi otakku tak mampu tuk mencerna setiap kalimat kompleks yang dulu pernah kau buat.
Dan bagi seseorang yang memiliki riwayat darah tinggi, menghabiskan 5 porsi sate kambing cukup hanya untuk dirinya sendiri merupakan sebuah prestasi yang patut diacungi. Meskipun kutahu sekarang kau tak lagi bersamaku, letak kagumku tak beranjak jauh. Hanya saja aku kebingungan bagaimana mengekspresikan diri selepas dirimu pergi. Setiap tahun aku begitu disibukkan dengan ajakan kencan dari berbagai teman yang perduli. Sayangnya aku tak terlalu menggebu mencari penggantimu. Kendati demikian sayup-sayup sudah kudengar suatu kabar kurang menyenangkan bahwasanya kau telah berhasil menemukan seseorang sebagai arah tujuan. Sedangkan aku? aku belum berani untuk lekas beranjak dari keterpurukan.
Walaupun kenangan manis bersamamu merupakan hal yang lebih indah dari mimpi, aku harus segera mawas diri. Tak cukup bagiku tetap diam disaat kau sedang melangkah jauh meniti kehidupan. Cepat atau lambat aku perlu menyusulmu melukis kepercayaan diri. Bukan untuk mengabaikan, namun untuk memastikan kakiku tetap melangkah kedepan. Agaknya perihal tentangmu harus sudah kututup rapat-rapat, agar perjalananku dalam melupakanmu tak menemui kata terhambat.

