Senin, 30 Juni 2025

Venus

Aku mulai lupa kapan terakhir kali duniaku menjadi cukup berwarna. Kalau saja bisa kuingat adalah ketika jemari tanganku menyematkan sebuah cincin pada jari manis mungil milik seseorang beberapa tahun silam. Ya, benar. Memori itu masih membekas. Ribuan peristiwa serta cuplikan adegan riang gembira tak satupun mampu menghilangkan ingatanku untuk tak lagi berbunga. Wajar saja bilamana terus kuingat, dahulu aku menjadikanmu sebagai pusat tata surya dari sumber kebahagiaanku. Lantas ketika kau tak lagi menemani, aku kehilangan kemampuan untuk terdistorsi. 

Suatu masa yang jauh kita pernah menjadi sejoli yang lupa waktu. Kala itu, angin berhembus dari ufuk timur menghadirkan kesejukan bak lanjutan puisi bernada rindu. Menghabiskan setiap rona ceria merekah ke seluruh penjuru dunia. Seraya dengan kepolosan kita yang mampu mengubah awan kota menjadi penuh canda tawa; memilihmu benar-benar diluar rencana. Kau berjalan seperti biasa; dan tak ada yang istimewa. Namun anehnya aku merasa waktu memperlambat senyumanmu. Dalam sepersekian detik, kurasakan ada hal sederhana dalam dirimu yang membuat hal-hal rumit dikepalaku mau tenang, mau diam, mau tinggal. 

Mendengarkan ceritamu sudah menjadi ritual wajib yang haram hukumnya ditinggalkan. Setiap malam kau selalu merangkum tiap detail keseharianmu menjadi tumpukan kisah dongeng yang menarik. Sebagaimana tokoh pewayangan yang memahami banyak alur cerita, kau mampu meramu berbagai kisah menjadi cerita indah bahkan untuk perihal yang tak kau suka. Perasaan kagumku padamu bertambah makin kuat, sampai-sampai isi otakku tak mampu tuk mencerna setiap kalimat kompleks yang dulu pernah kau buat. 

Dan bagi seseorang yang memiliki riwayat darah tinggi, menghabiskan 5 porsi sate kambing cukup hanya untuk dirinya sendiri merupakan sebuah prestasi yang patut diacungi. Meskipun kutahu sekarang kau tak lagi bersamaku, letak kagumku tak beranjak jauh. Hanya saja aku kebingungan bagaimana mengekspresikan diri selepas dirimu pergi. Setiap tahun aku begitu disibukkan dengan ajakan kencan dari berbagai teman yang perduli. Sayangnya aku tak terlalu menggebu mencari penggantimu. Kendati demikian sayup-sayup sudah kudengar suatu kabar kurang menyenangkan bahwasanya kau telah berhasil menemukan seseorang sebagai arah tujuan. Sedangkan aku? aku belum berani untuk lekas beranjak dari keterpurukan.

Walaupun kenangan manis bersamamu merupakan hal yang lebih indah dari mimpi, aku harus segera mawas diri. Tak cukup bagiku tetap diam disaat kau sedang melangkah jauh meniti kehidupan. Cepat atau lambat aku perlu menyusulmu melukis kepercayaan diri. Bukan untuk mengabaikan, namun untuk memastikan kakiku tetap melangkah kedepan. Agaknya perihal tentangmu harus sudah kututup rapat-rapat, agar perjalananku dalam melupakanmu tak menemui kata terhambat. 

Sabtu, 21 Juni 2025

los[h]er

Kupikir setelah ketenangan yang perlahan kunikmati sejak beberapa bulan lalu tidak akan ada lagi gangguan yang menggerogoti pikiranku dengan berbagai permasalahan pelik. Merupakan dering ponsel yang menderaikan perhatianku dari asiknya memandangi kumpulan terasering sawah yang membentang sepanjang jalan pedesaan yang ku sambangi saat ini.

Sebuah panggilan masuk dari nomor telepon yang tidak aku kenali membuatku terperangah. Terdapat angka (+62) yang menandakan bahwasanya nomor tersebut tidak pernah menghubungiku sama sekali atau mungkin memang tidak pernah tersimpan dalam daftar kontak tersimpanku. Sontak hal itu membuatku sedikit bergumam tanya, timbul sedikit keraguan untuk menjawab panggilan itu karna seringkali panggilan tiba-tiba seperti ini merupakan penipu yang kerap menawarkan asuransi. Maklum saja insting melindungi diri yang kumiliki sejak dini kerap berbunyi jika terdapat hal mencurigakan diluar intuisi. 

Setelah beberapa detik terdiam, kuputuskan untuk menjawab panggilan itu tanpa berfikir panjang sambil berkata halo dengan nada sapaan yang ramah. 

"Apa aku bisa bicara sama kamu?" ucap suara seorang perempuan yang membuka pembicaraan. 

Suara itu terdengar sangat familiar sekali. Nada bicara yang lazim merebak telingaku acapkali menghadirkan ketenangan yang selalu membantu syaraf-syaraf dalam otak memicu beberapa adegan-adegan indah sebelum malamku merambah dunia mimpi. Sejenak aku terpatung, diam dan membisu, menimbang apakah harus menjawabnya atau cukup diam tak beruara dan mengabaikannya saja. Pikirku.

"Aku tahu kamu nggak mungkin nerima aku lagi”, sambungnya sekali lagi.

"Jangan tanyakan padaku perihal sesuatu yang aku sendiri tidak tahu. Karena aku saja masih belum tahu. Aku ini kehilangan kamu atau kamu memang tidak pernah menjadi milikku sama sekali", sahutku. 

"Tapi aku sayang sama kamu, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi", katanya dengan sedikit memaksa. 

"Apakah definisi kata sayang merupakan bagian dari penyesalanmu setelah kamu memilih pergi dan tidak bersedia kembali? Ataukah orang yang kamu pilih saat itu telah menelantarkanmu begitu saja sebagaimana yang kamu lakukan padaku? Aku kurang memahami maksud dari ucapanmu sekarang ini, karna kenyataannya apa yang kuterima sangatlah berbeda".

"Aku minta maaf", ujarnya pelan.

Untuk seseorang yang sudah menghabiskan seluruh batas toleransi dari logikaku, rasanya tidak masuk akal untuk membuka sejengkal inci ruas jendela hanya untuk memastikan apakah ia tidak beranjak pergi dari teras rumah. Menurutku puluhan kesempatan yang sudah kuberikan sangat lebih dari cukup untuk menilai seberapa pantas atau seberapa layakkah seseorang yang membersamaiku saat ini untuk diperjuangkan. Jika aku bukan lagi bagian dari tujuannya, maka sudah tidak ada lagi alasan bagiku mengemis belah kasihan. Sejak dari awal pun aku mengetahui, bahwa tupoksiku dalam hubungan sebelumnya hanya menemanimu dalam kesendirian.

Menyebalkan memang, tapi begitulah hidup. Kita tidak bisa memilih alur seperti apa yang akan kita dapat, berharap masa depan sesuai dengan prediksi yang digambarkan melalui khayalan yang menyebabkan kita terjebak dalam ilusi memabukkan, memang tak seperti yang diduga. Sebagaimana kepercayaanku yang binasa akibat terlalu mempercayaimu, sehingga dalam kemungkinan kali ini agaknya untuk mengulang perasaan yang sama nuraniku cukup sulit diyakinkan. Goresan luka itu masih membekas, dan kau tak pernah tahu seberapa banyak reruntuhan yang berusaha kukemas. 

"Sudah kumaafkan sejak lama, sekarang kumohon jangan pernah datang dihidupku lagi. Menjauhlah, dan asinglah selamanya", tegasku sambil mematikan panggilan dan memblokir akses nomor baru itu.

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...