Sabtu, 21 Oktober 2023

take*shi


Kesendirian menjadi introduksi kala hujan mengajakku bermain nostalgia mengenang episode terindah kemarin. Menumpahkan sedih agar tak terlihat oleh dunia. Menipu diri seakan goresan luka silam telah tak bercela. Namun sebagaimana manusia pesimis pada umumnya, aku tidak dapat membohongi diri sendiri. Kenyataan bahwasanya aku belum bisa move on dari seseorang membuatku terlihat seperti pecundang. Manusia yang mempunyai akal normal pun takkan habis pikir. Bagaimana mungkin setelah berbulan lamanya menerima fakta menyakitkan, aku masih menyimpan perasaan.

Beberapa temanku pernah mencoba menghibur seraya mengatakan "Ahh kali aja karna kau tak mencari pengganti". Mungkin mereka ada benarnya, waktuku cukup sering dihabiskan untuk mengingat-ingat kisah lalu. Aku yang seorang penyendiri lebih banyak disibukkan mencari sisa-sisa serpihan dari cercahan hati. Tentunya berharap ada sebagian kecil dari mereka yang bisa aku selamatkan untuk kupungut kembali menjadi fondasi. Puing demi puing, bagian demi bagian, potongan demi potongan. Aku kumpulkan. Namun selayaknya benda mati yang telah hancur berkeping-keping, sesuatu yang telah rusak takkan berbentuk lagi.

Selagi kepalaku mengotak-atik isi memori, aku menatap diam pada sebuah bingkai foto yang telah lama kubeli dari bazar kerajinan tangan anak mahasiswa. Sejenak aku berfikir, untuk apa aku membeli barang itu dulu? Bukankah rumah yang sedang kuhuni saat ini tak terdapat hiasan sama sekali? Otakku mencoba mencerna situasi. Kemudian, aku teringat akan suatu kejadian. Dahulu kau memintaku untuk mengabadikan setiap momen bahagia. Tak ayal dalam setiap kesempatan yang ada, kau akan melancarkan rayuan manis padaku untuk menjadikanmu sebagai objek pemotretan. Sedikit informasi, boleh dikatakan aku merupakan seorang pemotret yang handal. Yaa walaupun pujian itu hanya datang dari dirimu, aku merasa telah menjadi yang terhebat. Maka pada tiap gambar yang kuambil, selalu ada dirimu sebagai mahligai karyaku. Tak mengherankan dari keseluruhan isi  pada kalimat kapasitas ruang penyimpanan anda hampir penuh, selalu ada dirimu.

Sial, aku semakin terlarut dalam nostalgia.

Bingkai foto itu merupakan hadiah yang akan kuberikan untuk merayakan pesta hari kelulusan. Katamu, sesuatu yang memiliki kenangan indah patut dirayakan. Melihat beberapa perjalanan dengan foto terkini, beberapanya perlu untuk dipilih. Tak terkecuali foto kita berdua yang memancarkan raut gembira. Membayangkan dua orang pasangan serasi memakai baju toga terpampang di dinding ruang tengah samping jendela terdengar menyenangkan. Setidaknya, itu yang kita pikirkan.

Ratusan foto yang membeku dalam galeri menjelma menjadi rindu. Sesuatu yang sangat tidak ingin kuharapkan, singgah diingatan. Aku pernah mencetak foto kita kala sedang merayakan wisuda. Katamu itu akan sangat indah bilamana diletakan diatas meja. Perlu waktu lama memberanikan diri melenyapkan foto itu. Nyatanya beberapa benda memang mampu berbicara, seakan mereka mempunyai nyawa yang tak berhak atas kematiannya. Dan aku, semakin terpojok dengan pertanyaan-pertanyaan tabu. Lantas membuat air mata ini kembali terjatuh. Mengingatkanku akan mimpi yang belum tercapai, dan cerita yang belum usai. Semua yang kulakukan menjadi sia-sia. Setiap hal yang kubangun sedemikian rupa telah hancur porak-poranda. Sebagaimana bingkai foto yang sedang kupegang, hal seperti ini tak pantas lagi tuk dikenang.

Mungkin sudah sewajarnya aku berfikir mencari pengganti. Paling tidak aku dapat menyibukkan diri dengan hal yang kusenangi. Menangkap potret kehidupan sebagaimana menjalani sebuah profesi. Hingga pada suatu saat nanti, bingkai foto itu dapat segera aku isi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...