Yang membuat hubungan tidak nyaman yaitu karna tidak sama-sama. Yang satu ingin komunikasi, yang satu terlalu sering pergi. Yang satu ingin dipedulikan, yang satu tak memperhatikan. Yang satu kerap menunggu, yang satu tak nampak butuh. Sehingga hubungan terasa begitu jauh.
Aku tidak perlu lagi hipotesis untuk melucuti kenyataan. Bukti yang kuperoleh sudah lebih dari cukup. Selama ini ternyata dibelakangku kau telah menyimpan banyak hati, bermain-main diatas bara api. Membuatku pada akhirnya menyadari; kau tak pernah serius dalam hubungan ini. Sialan! Dasar perempuan tak punya nurani. Manipulatif mungkin telah berteman denganmu sejak lama. Ketika aku sedang terombang-ambing dengan kecemasan yang kupunya, kau malah sibuk berkelana dengan orang lain menulis sebuah buku cerita. Biadab.
Kau pernah mengatakan bahwa perasaanmu takkan pernah berubah. Nyatanya perasaanmu berubah; tepat setelah ku kuras habis semua perasaanku tanpa sisa. Pada saat itu aku meringkas semua pertanyaan menjadi “Kenapa?”. Dahulu, kita selalu mengucap kata sayang di penghujung malam. Berbagi cerita masa kecil di telfon hingga berjam-jam. Meski semua hal itu menjadi ingatan yang ingin ku lupakan, aku tetap mengakui bahwa semua hal itu terasa menyenangkan. Tapi biarlah tiket bioskop baris ketujuh juga tiga eksemplar fotomu yang kian berdebu, menjadi benda-benda yang kehilangan nyawa. Semua hal itu tidak ingin aku kenang. Aku tidak ingin lagi semakin hari semakin mengharapkanmu. Tidak apa kisah ini tidak berujung dengan happy ending. Aku merasa bodoh jika harus memikirkan untuk takut kehilanganmu. Sangat tidak penting! Tak ada gunanya memaksakan penjelasan atau memalsukan perasaan. Rasa sakit ini sudah lebih dari yang dibayangkan. Hati dengan luka yang masih basah ini sudah lelah bertanya kenapa, kenapa, dan kenapa. Segala kejadian ini takkan pernah bisa dirubah. Untuk apa hubungan ini masih ada?
Ketidakpercayaan menjelma mercusuar yang membuatku semakin memantapkan diri untuk melangkah pergi. Aku tidak menyesal berjuang seorang diri, bagiku hidup adalah serangkaian repetisi. Patah hati ini tidak seharusnya membuatku takut untuk jatuh hati lagi. Tidak perlu tergesa-gesa dalam hubungan yang salah. Tidak perlu terburu-buru untuk kembali sembuh. Akan tiba masanya kita menertawakan rasa yang teramat sakit, atau menangisi rasa manis yang kini terasa pahit. Beberapa hal memang tercipta dibiarkan membeku dalam waktu bukan untuk terus mengalir bersama kau dan aku. Tuhan membentuk dua representasi dirimu dalam bentuk kenangan. Kenangan manis yang membuatku menghargai arti kehidupan, dan kenangan buruk yang mengajarkanku arti kekecewaan. Ketidakpastian ini harus segera dipastikan, kali ini aku memilih meninggalkan.
“Bukan aku yang kurang, kau saja yang merasa tidak cukup punya aku”, ucapku terakhir kali sebelum memblokir nomornya kala itu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar