Rabu, 16 Agustus 2023

Bulbasaurus


"Aku ingin bertanya sesuatu", ucapnya sembari meneguk susu rasa coklat dalam kemasan kotak. "Kalau saja semua jenis hewan dimuka bumi ini tidak dilarang untuk dipelihara. Kamu ingin memelihara hewan apa?"

"Pertanyaanmu aneh sekali", ujarku.

"Ayolah, aku ingin tahu, cepat katakan"

"Mungkin.. aku akan memelihara kupu-kupu"

"Kupu-kupu?", ia terheran.

"Iya. Aku membayangkan mempunyai rumah kaca dengan taman penuh bunga mawar ditengahnya, lalu pada tiap kelopak bunganya dihinggapi seekor kupu-kupu cantik yang sedang menghisap madu dari putik bunga itu"

"Terdengar menyenangkan, tapi tidak untukku hehe"

"Kalo kamu, ingin memelihara apa?"

"Aku ingin dinosaurus!"

"Dinosaurus?"

"Yups, dinosaurus dengan tinggi 15 meter dan juga leher panjang yang menjulang. Aku akan kasih nama dia Bulba."

"Kenapa harus Bulba", tanyaku

"Entahlah nama itu terdengar keren, terus juga bisa cocok dengan segala gender. Jantan bisa, betina pun bisa. Bulba.. nama yang bagus bukan?", ia tersenyum ringan seakan obrolan ini merupakan obrolan yang menyenangkan baginya.

Aku tidak mengerti mengapa ia harus menamai seekor dinosaurus dengan nama Bulba, yang kutahu Bulba merupakan singkatan tongkrongan semasa ku kecil. Bulba (Bulu Babi) begitu mereka menyebutnya. "Tapi kamu tahu kan kalau dinosaurus itu sudah punah dari muka bumi ini"

"Issh kamu mah membuyarkan kesenanganku, semua itu kan masih bisa direkayasa genetik dalam uji laboratorium. Siapa tahu ada yang benar-benar berhasil menghidupkan dinosaurus dan juga dapat dikembang-biakkan dengan baik bukankah itu suatu evolusi yang bagus bagi dunia ini? Maksudku.. bahwa tidak akan ada hewan yang akan benar-benar punah oleh teknologi dan ilmu sains"

"Kamu ini terlalu banyak menonton film", aku tertawa kecil.

"Ih kamu tuh emang gabisa ngeliat orang lain bahagia. Pokonya aku ingin melihara dinosaurus. Dannn, nama dia B-U-L-B-A. BULBA"

"Iya iyaa sang penjinak dinosaurus". Ia terdiam, memasang wajah murung dengan kerut alis diwajahnya.

Aku telah cukup lama mengenal manusia ini. Sering kali ia selalu menciptakan hal-hal luar biasa yang orang lain takkan pernah terfikir untuk melakukan hal yang sama. Ia selalu bisa menghadirkan bingar pada setiap tawa. Membuat hari-hariku yang kelabu kembali berwarna, seakan ia selalu berhasil menghibur alam semesta. Aku mengakui berada bersamanya cukup menyenangkan, disaat aku masih terpuruk dengan penghianatan seseorang dari masa lalu; untuk sejenak ia dapat membuatku lupa. Tingkah konyol dan hal menakjubkan yang sering ia lakukan cukup memberi daya magis untuk mengobati lukaku. Membantuku sembuh.

Namun aku belum dapat menentukan pilihan. Mengenai kedekatanku dengannya; aku rasa masih biasa saja. Meskipun ia sangat bisa menjadi sosok pengganti, namun aku tidak seterburu itu untuk menaruh hati. Yang ku ketahui.. seorang gadis penuh percaya diri yang sangat ingin memiliki dinosaurus sebagai hewan peliharaannya ini adalah orang yang baik. Semoga aku tidak menyakiti hatinya suatu saat nanti.

a song whose written by meghan trainor


Kali ini aku tidak dapat mengelak.. Aku tidak tahu sejak kapan perasaan ini mulai berlabuh, sejak kapan ia mulai menjatuhkan diri dari tepian nestapa untuk mengais sedikit harapan bernama cinta? Yang lebih mengherankan lagi, perasaan ini justru tumbuh pada seseorang yang tak pernah ku tuju. Memang, perihal cinta tidak ada yang tahu. Ia tak pernah bijak dalam menentukan pilihan.

Menyebalkan! Perasaan ini bagaikan imigran gelap yang harus selalu bersembunyi kala kita saling bercengkrama tentang nostalgia, seakan aku tidak ingin membuatnya terlihat. Karena sejauh ini yang kupikir, pertemanan bisa rusak apabila salah satu diantara keduanya memiliki perasaan lebih untuk memiliki. Dan saat ini, hal itu terjadi. Bagaimana mungkin dari kebiasaan kita bertegur sapa hingga saling bertukar cerita mengakibatkan bom waktu yang sejatinya tertidur, meledak menghacurkan pintu hati yang tak seharusnya terbuka pada teman sendiri. Sungguh ironis, sial sekali. Entah bagaimana caraku menanggulangi realita. Bahwa sebenar-benarnya aku telah jatuh cinta pada seseorang yang tak seharusnya ku cinta.

Lagi-lagi isi kepalaku kembali memberontak, tatkala dirimu menyemangatiku sebelum aku menaiki podium untuk mengikuti lomba debat antar universitas. Timbul suatu pertanyaan "Apakah kamu selama ini memiliki perasaan yang sama denganku?". Begitu besar harap ini untuk mengetahui jawaban, namun aku tidak berani menanyakan. Hal tersebut sangat bisa meniadakan semua hal menyenangkan antara kita; semasa dalam status teman.

Mungkin sebagian dari kawan seperjuangan kita menyadari, bahwa kita lebih dari ini.

Teman tidak melakukan hal seperti yang kita lakukan. Serupa kutipan lagu yang dinyanyikan Meghan Trainor. Semua orang telah berprasaka, kamu mencintaiku, dan aku mencintaimu. Sedang kita sibuk saling menyanggah satu sama lain. Opini demi opini yang kian menyeruak, dibantah sebelum menjadi riak. Kita berdua bersekukuh; kami tidak lebih dari itu.

Biarpun dalam benak aku mengiyakan segala hal yang mereka katakan, tentang perasaanku yang telah memilih kemana ia harus berlabuh. Tentang dirimu yang kujadikan tujuan setelah pulang meramu. Juga tentang kisah yang perlahan mulai menemukan titik temu.

Melalui cerita-ceritamu lah aku mulai menimbulkan rasa, rasa yang seharusnya bagiku tak pernah ada. Tidak etis rasanya mencintai teman sendiri, terlebih lagi setiap hari harus berbohong pada dunia bahwa aku tidak jatuh hati; sedang hatiku tak berkata demikian.

Sebuah studi psikologi dari Amerika juga ada benarnya, hubungan pertemanan yang terlalu intim sangat rawan dengan yang namanya jatuh cinta. Meski hati telah berhati-hati. Ada kalanya ia mendekap sunyi kemudian bertengger dalam sanubari. Mungkin sebaiknya tidak perlu aku ungkapkan, biarlah perasaan ini tumbuh seiring hubungan kita yang semakin jauh. Chapter demi chapter dari kisah ini akan selalu ku nikmati. Tiap percakapan antara kita akan selalu menjadi dongeng favoritku saat sebelum tidur. Aku tidak akan memaksakan perasaan ini, tak perlu. Bagiku, aku telah merasa cukup dengan status kita; alangkah baiknya memang tak harus ada yang berubah. Mengedepankan ego untuk menyatakan perasaan dengan resiko kehilangan merupakan harga yang terlalu mahal untuk ku korbankan. Biarlah perasaan ini begini adanya. Tak apa, aku menyukainya.

Mungkin suatu hari aku akan menemukan kekuatan tuk mengatakan "Kau lebih dari sekadar teman".

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...