Jumat, 24 November 2023

(flightless-angel)


Kudengar kau akan pergi jauh meninggalkan kota. Selepas dua kali pertemuan tak disengaja mungkin sebaiknya aku tak menatap wajahmu untuk berkian kalinya. Karena bagaimanapun, bertemu kembali denganmu bukanlah sebuah anugerah. Aku tak ingin membiarkan wajahmu bersemayam lama dimemori, kemudian terlarut dalam kenang yang menghadirkan delusi. Mengakibatkanku harus bekerja lebih ekstra menyapu semua ingatan itu kedalam tempat sampah yang akan segera kubuang. Selayaknya sebuah reuni akbar dengan perhelatan besar, hal yang kita lalui takkan berakhir manis sesuai dengan rencana. Rupanya semesta telah mempersiapkan situasi tak terduga, yang tadinya kuharapkan hal tersebut merupakan sebuah hadiah terindah, ternyata justru sebaliknya.

Aku telah mencintaimu selama semusim dan akan bertambah perkara jumlah waktu bermukim. Sementara kau pun pernah mencintaiku untuk waktu yang tidak pernah diketahui. Sebab ketika aku mencoba mencari tahu, aku malah semakin percaya, bahwa kita memang tidak ditakdirkan bersama. Kau dengan sikap otoritermu sedang aku dengan rasa empatiku merupakan dua senyawa yang tak akan menyatu dalam satu larutan yang sama. Ketika harap dalam langitmu mulai memutuskan untuk pergi, hanya kemungkinan kecil ia akan kembali. Sebagaimana derai hujan yang telah usai. Mempertahankanmu sulit dicapai.

Memang hukuman paling adil dan sebaik-baiknya keadaan adalah demikian. Walau tak luput dari sedikit penyesalan, hati kecil yang sudah kupelihara sejak masa remaja ini harus tetap teguh menerima kenyataan. Meskipun terkadang sikap positifme menghancurkannya perlahan dari dalam. Terkadang keputusan-keputusan tidak relevan berdampak sangat merugikan. Menciptakan ruang semu yang membelenggu suatu ingatan. Seperti halnya rindu yang tercipta untukmu, hal semacam itu tak seharusnya diperlihatkan.

Aku mengerti alasanmu menjauhi kota ini adalah untuk menghindari berbagai macam pertanyaan penuh spekulasi yang tiada henti dilontarkan oleh mereka-mereka yang penasaran. Maklum saja beberapa diantara mereka tak sengaja mengetahui perihal apa yang pernah kau lakukan. Akan tetapi sebagaimana tokoh dalam cerita dengan watak penuh tipu daya, kau bertingkah seolah-olah tiap kalimat itu adalah ucapan yang mengada-ada. Kepandaianmu dalam mengelak membuat mereka percaya bahwa kau tak sepenuhnya bersalah. Lantas tanpa menaruh curiga kau berbahagia bersama kekasih baru yang kau temui ditengah pesta. Tak mengapa. Lagipula sejak dulu kau tak pernah bersungguh-sungguh kepadaku.

Dapat dikatakan kemampuanku untuk bangkit saat ini telah habis. Aku tidak akan tertipu hawa nafsu dengan mengikuti jejakmu. Sesegera mungkin berkencan dengan seseorang yang baru kukenal terdengar sedikit menjengkelkan. Melibatkan orang lain untuk mengobati luka lama akibat permasalahan sendiri merupakan sifat dari seorang pengecut. Walau sesaat aku mengakui, aku tak dapat melalui ini (sendiri). Kesendirian mempercepat rasa sedih dalam hati berfluktuasi. Kehadiran orang lain memang cukup membantu tuk melupakan, sebagaimana yang kau lakukan. Kau dengan cepat memperoleh pengganti sedangkan aku secara alam bawah sadar masih mengharapkanmu kembali.

Terlalu naif memang ketika berfikir bahwa kepergian adalah hal biasa. Karena dalam cerita ini, meski kau menyakiti, aku tetap gagal membenci.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...