Selasa, 11 Juli 2023

"..in the name of God"


Apakah semua proses perjalanan cinta seseorang selalu hadir dengan ritme dan pola yang sama? Apakah Tuhan telah menggariskan setiap manusia mempunyai kisah yang hampir serupa? Sedikit banyak yang kuketahui tiap insan di muka bumi akan mengalami patah hati. Seperti halnya lirik dalam lagu atau bait pada puisi. Luka selalu menginspirasi. Bagiku tidak akan ada kebahagiaan tanpa pengorbanan. Entah itu nantinya akan berbuah manis, atau malah menjadi tragis.

Setiap hal yang kita lalui merupakan proses dalam menjalani hidup. Selalu ada makna tersirat dalam sepucuk surat. Tak ada manusia yang tak punya kisah pelik, karena dibalik ujian selalu ada pembelajaran yang dapat dipetik.

Malam ini aku tak lagi menangisimu sepanjang hari. Berkutat dalam memori memutar kenang dalam delusi. Tidak.. tidak lagi. Aku hanya sedang berdamai dengan kehendak Tuhan, sebab kemarin aku terlalu memaksa memintamu kembali ke pangkuan. Kenyataannya hidup bukan hanya tentang kehendak kita saja, melainkan kehendak-Nya lah yang lebih utama. Mengetahui rencana Tuhan adalah yang terindah, meskipun menyakitkan; harus diterima. Aku tahu ini merupakan bagian dari perjalanan menuju pelaminan. Mitosnya menang banyak pasangan yang diberi cobaan terlebih dahulu untuk menguji kesetiaan. Mungkin sekarang tiba waktuku, kendati tahu kau masih menyimpan nama lain di ruang hatimu. Tak masalah bagiku sebab aku menyayangimu secara menyeluruh..

Aku menyadari kata-katamu kemarin adalah kebohongan. Suatu detonasi yang menjelma pagi menembus kegelapan. Tipu daya yang penuh kepalsuan menggiringku merapihkan halaman tuk menjatuhkan perasaan (lagi). Meski sempat terfikir kenapa harus aku mati-matian menjaga janji? Hatimu telah terbagi; membelah diri. Untuk apa aku mempertahankan hubungan ini setelah dikhianati. Bodoh jika tetap dilakukan. Membayangkan apa yang telah kamu lakukan membuatku muak. "tanpa perasaan", begitu bualku dalam lamunan.

Mereka bilang kepercayaan ibarat benang rajut dari bulu domba, yang sekali kusut takkan kembali ke bentuk semula. Katanya lebih baik sendiri tapi punya seseorang yang peduli, dari pada punya pasangan tapi merasa kesepian. Betapa saat ini aku berharap menemukan persimpangan jalan. Betapa aku sangat ingin merubah keadaan. Aku ingin kembali ke masa lalu mencegah dia datang kembali di kehidupanmu. Atau lebih bagusnya aku memutar waktu saat kita bertemu kemudian memutuskan untuk tak lagi menjatuhkan hati padamu.

Ini menyakitkan. Dan maaf, kata "maaf" tidak cukup menyembuhkan.

Kini aku pasrah akan pilihan Tuhan. Akan ku jalani tiap prosesnya sembari mengantungkan harapan. Meski luka telah menyayat hati, aku tidak dapat berbohong bahwa aku masih menyayanginya. Mencoba memulai kembali bersamanya dari awal terdengar tidak terlalu buruk. Biarlah garis takdir Tuhan yang pada akhirnya memberi jawaban. Urusan nanti apakah kita akan tinggal satu atap bersama, sekecil apapun peluangnya, itu lain cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...