Selasa, 19 Desember 2023

high quality of the best egg yolk


“Mungkin terlalu terlambat untuk bilang maaf, aku tahu kamu nggak mungkin nerima aku lagi”, katamu sambil termenung.

Awalnya kukira semua akan berjalan sesuai rencana. Kau sudah menyimpan konten tentang cara asuh anak yang baik. Sudah menentukan kota mana yang lebih seru untuk dijadikan tempat bermukim. Dan sudah berjanji kepada ibuku untuk segera menemui beliau.

Terdengar klise, memang. Pengakuanmu yang terlambat— yang baru kau lakukan, setelah berkali-kali kamu menutupinya. Setiap aku bertanya tentang bagaimana perasaanmu, kau terlihat sangat gusar. Menjawab pertanyaan dengan pernyataan yang tidak menjawab. Kalau saja aku tau isi hatimu bahwa kau masih tidak mengerti dengan sesuatu yang kau lakukan, aku akan memaafkan. Lagi pun siapa yang menyangka perasaan lam selalu bertahan dan tidak akan pernah memudar? Beberapa hal membosankan tentu dapat untuk memicunya, sedangkan kebiasaan yang kita lakukan tidak jauh dari itu. Wajar saja bilamana kuanggap kau akan berkata demikian; cepat atau lambat.

Kau merasa bersalah dalam mengambil keputusan; sebagai pasanganku. Terbayang wajah yang entah siapa. Menderai waktu yang entah dimana. Bahkan kau sempat berfikir untuk mengizinkanku bertemu dengan perempuan yang lain. Bukankah menjawab pertanyaanku jauh lebih mudah daripada berkata bahwa kita akan baik-baik saja. Padahal kau tahu bahwa kita, tidak?

"Tak ada kata terlambat untuk meminta maaf, tapi untuk kembali aku rasa tidak perlu", sahutku.

Rasanya setelah ini aku perlu mengasingkan diri. Menjauh sesaat sembari memperbaiki diri agar tak selalu salah menjalin hubungan. Maklum saja, untuk menghasilkan hidangan utama yang lezat tentu memerlukan bahan-bahan berkualitas. Oleh karenanya aku ingin fokus memperbaiki diriku. Bukan untuk merubah stimulus melainkan tuk mengganti silabus, terdapat bagian-bagian tak terpakai yang perlu ditanggalkan. Ada baiknya rehat sejenak dari irai bising yang meremukkan kepala. Kurasa.

Ketidakbijaksanaan mengakibatkanku tidak becus dalam berbagai hal. Salah diantaranya adalah terlalu lama bermain perihal cinta yang memuakkan. Betapa mudahnya kubiarkan luka datang dalam kurun waktu berdekatan.

"Sudah cukup, kita tidak perlu melanjutkannya lagi", ujarku sekali lagi.

Minggu, 17 Desember 2023

Erotomania


Tidak ada satupun ingatan yang dapat menggantikan ingatan yang lain. Terlalu gegabah jika aku berkesimpulan waktu akan membantu untuk melupakan sesuatu. Aku tidak akan lupa. Seperti manusia yang akan datang dalam hidupku pada hari ini, tidak akan menggantikan siapapun yang sudah datang terlebih dahulu. Tapi sayang sekali, pada akhirnya disinilah kita berhenti sekarang. Kembali menjadi asing yang yakin kalau kehidupan satu sama lain sudah tidak lagi penting.

Di titik ini walau penuh kekesalan, aku sedikit mengambil nafas lega. Meski sadar hatiku sekarang mengalami fase genting, aku tak ingin sedikitpun bergeming. Memang ternyata akulah yang telah melebih-lebihkan segalanya. Mengira kau adalah rumah, padahal bagimu aku hanyalah bahan uji coba. Akulah orang yang terlalu mudah terbang oleh delusiku sendiri, sebelum akhirnya terbanting ke tanah tanpa aba-aba; penuh luka-luka, bermandikan darah-darah. Momen-momen indah yang selama ini kuimpikan akhirnya jadi nyata tanpa adanya balasan. Aku yang terlalu berlebihan dengan lancang telah menuduhmu sudah memberi harapan tanpa serapahku. Pelukan hangat yang kau tawarkan waktu itu adalah murni sebuah pertolongan, bukan bermaksud menaruh perasaan, begitu katamu.

Namun aku tidak semudah itu untuk dibohongi. Gelagat demi gelagat mencurigakan dari dirimu telah kupelajari sejak musim panas lalu. Apakah kau tau, setiap manusia memiliki kebiasaan aneh setiap kali berbohong? Selepas dengan berhasilnya misimu, kau memunculkan suatu sikap yang kurang menyenangkan, menyebabkan semua praduga yang kukaji selama ini dirasa benar.

Aku tak mengira bahwa kau telah merencanakan ini sejak awal. Tadinya, perselisihan kecil diantara kita hanyalah debat biasa. Permasalahan-permasalahan ringan yang dibesar-besarkan kuanggap sebagai keinginanmu untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersamaku. Ternyata aku salah. Penghianatan secara terang-terangan merupakan sesuatu yang sangat tidak aku tolerir. Aku mulai mengerti mengapa kau begitu mencemburuiku dan melarangku untuk meladeni orang baru, rupanya hal-hal yang pernah kau tuduhkan secara tak mendasar merupakan cerminan atas perlakuanmu sendiri. Dimana polemik kau ciptakan agar tak merasa bersalah dikemudian. Keterlaluan.

Bukan perpisahan yang disesali tapi mengapa kau memilihku seakan semua ini tak berarti. Atas dasar apa kau berani menjadikanku sebagai objek membalas dendam. Mengapa pula harus terjadi dalam lingkup waktu sesingkat ini? Aku sedang berusaha mencari presepsi, namun lagi dan lagi, aku tak menemukan bahwasanya kau benar-benar mencintaiku. Faktanya menang tidak pernah ada kata kita untuk saat ini dan juga nanti. Faktanya memang aku yang jatuh cinta sendiri.

Ternyata, selain harapku menuju ke arah yang salah, kau memang berniat menghancurkanku secara sengaja.

Rabu, 13 Desember 2023

www.idx.co.id


Tidak, tidak, tidak.
Tidak lagi, tidak mungkin terjadi lagi. Apa ini? Sebuah penghinaan.

Bagaimana bisa aku dimanfaatkan dengan begitu mudahnya tanpa disadari. Sebuah konspirasi dimana aku tak mengira dapat dipermainkan, dengan bodohnya tertipu akan bualan yang kukira sungguhan. Memalukan.

Luar biasa, memang!

Manusia sangat penuh dengan tipu daya, tak heran jika berbagai persepsi yang dinyatakan berbanding terbalik dengan watak yang disembunyikan. Seperti halnya data intern perusahaan yang tersebar diberbagai platform sosial media. File-file penting tidak akan disebar-luaskan, yang mana pernyataan-pernyataan tertentu merupakan sebuah informasi yang tidaklah valid. Persis seperti perkataanmu sewaktu lalu, penuh omong kosong.

Seharusnya sedari awal aku menyadari bahwa menjatuhkan hati pada seorang manipulator yang tak pernah melegalkan janji dalam kamusnya merupakan suatu kebodohan. Aku mengira rangkaian kisah dari kita berdua dapat dinikmati sebagai satu-kesatuan. Agaknya belum cukup waktuku untuk membalas segala aduanmu. Lantas jika bagimu tadinya aku adalah seorang pemenang, pada akhirnya malah orang lain yang kau ajak berpesta dengan riang, padahal ia tidak ikut andil dalam berperang. Dasar penipu.

Aku takkan memikirkan ini secara berlarut. Walau bagiku kau begitu menyebalkan, akan kusimpan peristiwa ini sebagai bentuk dendam. Biarpun ingin kutumpahkan secangkir teh panas agar wajahmu melepuh. Akan tetapi, tidak mungkin aku melakukan itu. Waktuku terlalu berharga untuk menemui dirimu yang begitu rendah.

"Selamat", kataku.

Sekarang kusiapkan perasaanku tuk memudar. Aku kan memperkecilnya untuk mencintai diriku sendiri, sewajarnya saja. Rasa mencintai yang terlalu besar membuatku kehilangan hal-hal indah disekitarku, termasuk empati pada orang lain sepertimu. Darimu aku belajar bahwa yang selalu bersama belum tentu diajak selamanya. Setiap memori indah harus siap dilepaskan begitu saja. Selaksana bunga mawar yang telah layu meninggalkan duri, kau merupakan kenang yang tidak ingin kuulang kembali. Setiap orang memiliki masanya, dan setiap masa memiliki akhir cerita.

Selasa, 12 Desember 2023

25+


Bagi seseorang yang telah menggadaikan hampir separuh hidupnya sering kali berkata bahwa umur hanya angka. Namun kurasa pemikiranku sedikit berbeda.

Aku bercita-cita menikah pada usia muda, karena dalam pandanganku, menikah adalah suatu hal yang harus disegerakan. Diluar dengan kebiasaanku yang sangat menyukai anak kecil, tentu datangnya buah hati dapat menambah tingkat kegemasan pada hidup yang sedang dijalani. Memang begitulah tujuanku, keinginan yang cukup sederhana tetapi memerlukan proses yang sulit untuk memperolehnya. Dalam berbagai aspek saja contohnya dapat menciptakan kegagalan. Salah satunya adalah cerita kemarin, lebih dari dua kali aku telah mempersiapkan diri untuk melaju ke jenjang pernikahan, ternyata takdir berkali tak sepakat dengan itu. Bahkan aku sempat salah dalam memilih seseorang. Faktor yang justru sangat-sangat vital.

Menarik untuk dikata, beberapa dari kerabatku rupanya juga pernah mengalami kisah cinta yang hampir serupa. Bahwa mereka pernah merasakan tergelincir dalam nestapa. Maka tak heran jika aku mendapati giliranku kali ini. Semacam tongkat estafet yang ditukar secara berurutan. Berganti-gantian.

Akan tetapi ada sedikit pembelajaran yang dapat kupetik, bahwa hidup tak melulu soal percintaan. Ada kalanya periode waktu bisa merubah jalannya cerita. Bahkan terkadang semesta menunjukkan bahwa ia juga ikut andil dalam melukis kehidupan. Manusia bisa berspekulasi, namun semesta berhak memberi interupsi. Hal-hal bersifat fasis juga patut dipertimbangkan sebelum mengambil keputusan. Terkadang sebagian besar manusia lupa akan hal tersebut, beberapa diantaranya pernah terjerumus akibat keegoisan, termasuk aku kala itu. Maklum saja, mimpi ditengah tidur siang sangat menyenangkan untuk dilanjutkan.

Saat ini aku tidak begitu menggebu mengerjar sesuatu. Meski tidak sedikit dari temanku yang perlahan telah menemukan orang baru menyarankan untuk aku segera menyegerakan. Ya walaupun mereka berpikir aku berhak untuk mendapati kebahagiaan. Akan tetapi bagiku yang jauh lebih mengetahui hidupku sendiri daripada orang lain sangat tidak berkeinginan untuk ikut berpartisipasi dalam perlombaan. Sebab, aku beranggapan masih banyak benda berserakan yang perlu dibereskan. Selama aku belum mampu sembuh sendiri, aku takkan berani membuka hati. Biarkan saja berlalu untuk waktu yang tak menentu.

Apabila suatu hari nanti aku mempunyai kekasih. Tidak menutup kemungkinan aku akan mengiyakan perkataan mereka. Karna cepat ataupun lambat. Aku perlu untuk menyusul. Mengejar ketertinggalanku yang telah tertunda berkian taun.

Jumat, 08 Desember 2023

Sweet Corn ≤ Eggplant


Setelah perkenalan kita aku harap semuanya kembali normal. Kau menjalani aktivitasmu sedang aku dengan rutinitasku. Juga beberapa hal yang terbiasakan aku harap segera dilupakan. Karena padanya, sungguh, aku tak bermaksud menjadikanmu tujuan.

Bukan perkara hal yang mudah untuk kembali menulis cerita pada lembar yang telah lama ditanggalkan. Melainkan, aku hanya perlu memastikan bahwa kelak aku tidak salah dalam menentukan pilihan. Mungkin sebagian dari temanku telah menyetujui bahwasanya hidup tidaklah pasti. Ada beberapa bagian perjalanan yang memang bekerja sebagai batu loncatan. Tentu saja, menggantungkan sebujur asa dimasa depan pada seseorang yang baru dikenal seperti berjudi dengan taruhan paling sedikit. Resiko kalah itu pasti, menang pun tiada arti. Seakan semua itu dapat dilalui tanpa memperoleh pelajaran apapun dalam kehidupan. Begitu perkiraanku.

Mula-mulanya kau menengadahkan hatiku secara terbuka. Menabur benih setiap kali menambatkan langkah, mengatur irama, membagi rasa secara seksama. Tadinya kukira vas bunga yang kau berikan padaku merupakan sebuah cinderamata selepas kepulanganmu dari pulau Dewata. Rupanya kau bermaksud lain. Ada tujuan terselubung yang tidak kuketahui. Namun seiring dengan insting perasa yang sejak dulu makin terasa, kepekaanku kian sensitif. Aku mulai mengerti mengapa begitu sering kau memintaku untuk berkunjung ke pemukimanmu. Alih-alih menyanggah pernyataan, nampaknya ajakan tak biasa itu merupakan alibi agar sebagian dari kerabat dekatmu mengetahui keberadaanku.

Tetapi, tunggu!
Kau tidak bisa semena-mena seperti itu.

Kau luput dalam satu hal yakni, ketertarikanku. Aku tidak semudah itu untuk dimenangkan. Sekonyong-konyong membumi-hanguskan hatiku dengan cinta adalah perilaku yang konyol. Meski kau menarik dari berbagai aspek dan versi, tapi tetap saja ada ruang yang membatasi. Perkara yang sulit untuk dirubah ialah fakta bahwa kau terlalu muda. Untuk seorang sepertiku yang telah  menghabiskan waktunya mengagumi perempuan dewasa sebagai kriteria idaman, kau nampak kalah telak dalam penilaian. Bukan maksudku mendiskriminasikan. Namun sedari awal, aku tak tertarik untuk mengauli seseorang yang dibawah batas usiaku. Secara tidak langsung aku tidak ingin memiliki hubungan, beberapa stigma membenarkan jikalau fakta dilapangan memang berkata demikian. Bagiku untuk menanggapi hal serupa yang menghabiskan energi berkepanjangan tidak layak dipertaruhkan. Aku tidak cukup tenaga untuk membentengi diri dari banyolan-banyolan yang menuntut untuk dimengerti. Sudah, tidak lagi.

Rasanya cukup bagiku untuk merangkum isi kepala. Setelah berbagai macam stimulasi yang sudah dijalani, kenyataannya kau tidak berhasil membuat pintu hatiku terbuka. Walaupun alam bawah sadarku terpecah menjadi dua antar pikiran dan logikaku. Pikiranku percaya bahwa kau dapat menjadi pengganti untuk meredakan malam-malamku yang muram. Sedangkan logikaku berkata, bersamamu takkan mendapati hal-hal baik. Pada akhirnya logikaku berada dibarikade paling depan, menjaga para koleganya agar tak merasakan kepahitan. Meski tidak ada yang sempurna didunia ini, aku tidak berani berspekulasi. Diantara ragam opini yang memulai peperangan, ideologiku tentang kedewasaan masih menjadi pemenang dalam sayembara. Aku kurang memadai dalam menyediakan banyak waktu untuk menghadapi sisi manja yang menyebalkan. Sepertinya.

Barangkali membersamaimu cukuplah menjadi sebuah kenangan, yang perlahan ditelan waktu; menjadikannya kian pudar. Karena sekarang yang terpenting adalah mengatur siasat agar posisi kita kembali berimbang.

Tak peduli kau sejauh langit atau sedekat langit-langit. Aku tidak ingin terdistraksi.

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...