“Mungkin terlalu terlambat untuk bilang maaf, aku tahu kamu nggak mungkin nerima aku lagi”, katamu sambil termenung.
Awalnya kukira semua akan berjalan sesuai rencana. Kau sudah menyimpan konten tentang cara asuh anak yang baik. Sudah menentukan kota mana yang lebih seru untuk dijadikan tempat bermukim. Dan sudah berjanji kepada ibuku untuk segera menemui beliau.
Terdengar klise, memang. Pengakuanmu yang terlambat— yang baru kau lakukan, setelah berkali-kali kamu menutupinya. Setiap aku bertanya tentang bagaimana perasaanmu, kau terlihat sangat gusar. Menjawab pertanyaan dengan pernyataan yang tidak menjawab. Kalau saja aku tau isi hatimu bahwa kau masih tidak mengerti dengan sesuatu yang kau lakukan, aku akan memaafkan. Lagi pun siapa yang menyangka perasaan lam selalu bertahan dan tidak akan pernah memudar? Beberapa hal membosankan tentu dapat untuk memicunya, sedangkan kebiasaan yang kita lakukan tidak jauh dari itu. Wajar saja bilamana kuanggap kau akan berkata demikian; cepat atau lambat.
Kau merasa bersalah dalam mengambil keputusan; sebagai pasanganku. Terbayang wajah yang entah siapa. Menderai waktu yang entah dimana. Bahkan kau sempat berfikir untuk mengizinkanku bertemu dengan perempuan yang lain. Bukankah menjawab pertanyaanku jauh lebih mudah daripada berkata bahwa kita akan baik-baik saja. Padahal kau tahu bahwa kita, tidak?
"Tak ada kata terlambat untuk meminta maaf, tapi untuk kembali aku rasa tidak perlu", sahutku.
Rasanya setelah ini aku perlu mengasingkan diri. Menjauh sesaat sembari memperbaiki diri agar tak selalu salah menjalin hubungan. Maklum saja, untuk menghasilkan hidangan utama yang lezat tentu memerlukan bahan-bahan berkualitas. Oleh karenanya aku ingin fokus memperbaiki diriku. Bukan untuk merubah stimulus melainkan tuk mengganti silabus, terdapat bagian-bagian tak terpakai yang perlu ditanggalkan. Ada baiknya rehat sejenak dari irai bising yang meremukkan kepala. Kurasa.
Ketidakbijaksanaan mengakibatkanku tidak becus dalam berbagai hal. Salah diantaranya adalah terlalu lama bermain perihal cinta yang memuakkan. Betapa mudahnya kubiarkan luka datang dalam kurun waktu berdekatan.
"Sudah cukup, kita tidak perlu melanjutkannya lagi", ujarku sekali lagi.




