Minggu, 30 Juli 2023

Green Latte


Sore yang cukup melelahkan untuk sebuah rutinitas pekerjaan. Tak terasa hari berganti begitu cepat membuatku lebih mudah menghapus penat dalam ingat. Suara bising kendaraan lalu lalang menandakan akan segera tiba waktu petang. Dan perutku, sejak tadi pagi belum terisi penuh. Tak ayal lambung seperti mengaduh meminta segera dijamu.

Aku menghentikan laju motorku sejenak, melihat adakah tempat yang cukup nyaman untukku beristirahat seraya sebentar. Berselang kemudian aku memutuskan untuk singgah pada kedai coffeeshop yang bertuliskan kata 'Buka'. Tak jauh dari tempatku berhenti tadi. Namun seperti ada yang tidak asing dengan kedai ini. Romansanya membuatku devaju akan sesuatu. Dekorasi, tata letak, cahaya lampu, bahkan tanaman hias kecil diatas meja membuatku takjub hingga tanpa sadar; aku semakin lama berselancar dalam nalar. Lalu kemudian, ditengah lamunan, aku kembali mengingat kejadian. Entah kenapa vibes coffeeshop ini membawaku bergerilya pada momen saat pertamaku berjumpa dengan perempuan dari bumi utara. Aroma ini.. aroma matcha. Yaa masih dapat kuingat dengan jelas, selain coklat dan vanilla kamu juga menyukai matcha. Matcha merupakan rasa yang kurang familiar di lidahku. Sejumput rasa yang hampir mirip seperti ketidaksengajaanku memakan rumput semasa kelas 3 SD dulu, membuatku mengira bahwa rasa itu takkan pernah berubah. Namun kupikir rasa-rasanya untuk memesan secangkir minuman favoritmu terdengar tidak terlalu buruk.

Segelintir penyesalan datang kemudian selepas aku memesan minuman. Aku berjalan perlahan menuju bangku sembari menggerutu, apakah mungkin perpaduan rasa antara kopi dengan teh hijau khas jepang itu menghasilkan rasa yang enak? Kurasa mereka tidak akan bersimbiosis dengan tepat dalam mulutku. Ah sudahlah.. tidak ada salah mencoba.

Berada di kedai ini kembali membuatku mengetuk memori. Aku teringat kala aku dan kamu sedang kepanasan, lalu memutuskan untuk berteduh sembari memesan minuman di cafe seberang jalan. Kau datang memesan rasa favoritmu, sedang aku bereksperimen dengan mencari rasa yang belum pernah kutahu. Namun seperti kebanyakan, seorang laki-laki memang selalu beruntung saat percobaan.

"Aku boleh coba punyamu ga?" ia meminta sedikit minumanku.
"Ah lebih enak punyamu" sambungnya sambil tersenyum hambar.

Selepas percakapan ini aku telah menebak dalam hati, "Kau pasti akan menukar minumanmu dengan kepunyaanku" pikirku 

Selagi sedang asik berkutat dengan isi pikiranku, kau mengagetkanku dengan kembali menyodorkan minumanku ke arahku. Mengembalikannya tanpa meminta untuk menukar; tersenyum tanpa memasang muka datar. Suatu hal yang amat jarang terjadi. Disaat perempuan lain akan menukar minumannya dengan milik pasangannya, kau malah tetap ingin memilikinya dan membiarkanku menghabiskan minuman yang kupunya.

Ah sial, nostalgia ini harus segera dihentikan.

Latte berwarna hijau itupun datang. Sempat terjadi keraguan dalam benak terkait apakah rasa ini akan benar-benar enak. Setelah mencobanya, aku menarik semua ucapanku. Rupanya perpaduan rasa aneh ini menghasilkan sinergi bak hulu ledak nuklir yang menghancurkan semua persepsi tentang teh hijau khas jepang ini. Tak kusangka, aku mulai jatuh cinta. Pantas saja kau begitu gila dengan apapun yang berbau matcha. Kini aku mulai enjoy dengan rasa matcha, bertemankan secarik kisah lama yang mendobrak isi kepala juga lagu Sheila on 7 yang terputar tanpa sengaja. Kenangan bersamamu akan selalu menjadi ingatan indah selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...