Kamis, 30 November 2023

Tic Take Two

 

Seperti halnya sebuah romansa klasik telenovela, jatuh cinta pada seseorang yang tak terduga adalah suatu perjudian.

Entah karna terlalu terlena atau aku yang tak pandai membaca rambu-rambu. Sesekali selipan senyum tipis pada tawamu membuat hormon oksitosin dalam tubuhku berpencar ke segala penjuru. Memaksa jantungku tuk berdetak lebih cepat, memacu adrenalin kembali mencuat. Aku berani bertaruh bahwa sesiapapun dari 7 milyar manusia yang ada di dunia takkan sanggup bertahan 5 detik menatap wajahmu. Karna sungguh, aku pun begitu. Menyadari bahwa kau memiliki daya pikat yang begitu magis sampai kiranya mampu tuk menghipnotis seluruh penghuni alam semesta. Mereka bilang, langit malam dengan ribuan bintangnya mengakui bahwa kau tak kalah indah. Begitu katanya.

Padamu lah aku berani berlabuh. Meski sewaktu-waktu ombakmu yang keras itu dapat membentum secara sporadis, aku tetap mendaratkan jangkar. Bagiku, tak peduli jika harus membayar mahal untuk kehilangan sebuah kapal. Harga yang cukup pantas mengingat apa yang bisa kau tawarkan dan sajikan sebagai obrolan ditengah santap malam. Sebuah perjudian dengan taruhan yang cukup besar adalah suatu kewajaran. Sebab, nadamu sanggup membeli bahagia. Sedang tawamu mampu membuatku hidup berkecukupan.

Aku tidak ingin menjadi sebuah paragraf kecil dari bagian cerita pendek yang kan berlalu dan terbuang. Melainkan aku ingin dirimu tuk selalu mengingat bahwa ada seorang laki-laki yang siap menjemputmu kapan pun kamu mau, dengan tulus, bagaimana pun resikonya, tanpa batas, juga tanpa banyak harapan. Laki-laki yang bahkan menyukai rasa itu, sebuah perasaan suka tanpa harus memilikimu.

Biarpun akan ada banyak persepsi-presepsi tidak menyenangkan yang kan bermunculan. Tentu tak mengherankan jikalau aku meminta kau kembali bersiap membangun rumah. Memperbaiki bagian-bagian yang hampir usang agar nampak seperti baru. Beberapa hal yang terdapat disudut ruangan diantaranya perlu tuk diganti. Terus terang aku tidak ikhlas membiarkan sepasang bola matamu yang sangat indah itu memandangi hal-hal yang mempunyai sifat keburukan.

"Kamu benar-benar yakin?", tanyamu.

Tenang saja, aku takkan terburu menderai sesuatu. Hiduplah seperti biasanya dan sebagaimana mestinya. Biarkan kilas balik yang terjadi belakangan ini sebagai pembelajaran untuk mensiasati waktu. Siapa tahu, mungkin di massa selanjutnya. Kita berbagi cerita.

Senin, 27 November 2023

lakuna


Beberapa orang mengatakan, akan ada masa dimana detik-detik dalam hidupmu adalah momentum ketika semua kenangan kembali diputar satu persatu. Mungkin bagi sebagian besar manusia telah mengalami kejadian serupa. Dimana rasa sepi berimplikasi menjadi bagian puisi yang biasa disebut dengan rindu. Tentu saja, hal semacam itu tak luput untuk seorang sepertiku.

Sebuah notifikasi Google Drive membangunkanku dari bunga tidur. Sekilas sejumlah foto dengan tempat ikonik pada sebuah film yang berlatar tahun 1990 muncul diberanda paling atas. Aku mengamatinya. Dalam beberapa saat, diriku seolah mematung. Ingatan masa lalu menyusup seperti suara yang mengganggu. Teringat saat betapa lugunya aku tersipu malu ketika pertama kali mendapati pesan darinya. Tiba-tiba semua alasan itu tersebar memutar dikepala. Tentang apa yang membuatku menyukainya. Tentang bagaimana perasaanku mendadak bergerak tidak beraturan ketika sedang memikirkannya. Tentang dirinya yang masih sama padahal harusnya ia tampak berubah.

Aku masih ingat dengan suasana pagi saat kami berjalanan beriringan, pakaian yang ia kenakan, raut wajahnya ketika mengucap sapaan, bahkan aroma parfum yang ia pakai hari itu masih membekas dalam ingatan. Ya bilamana waktu bisa diulang lagi, aku akan tetap memilih untuk jatuh hati padanya, karena aku sungguh menyukai tahun itu.

Ia datang bersama bahasa baru yang membuatku takjub. Kemampuannya membalut hening dengan senyuman yang teduh; mampu membuatku luluh. Tutur katanya begitu manis. Hingga tanpa sadar aku semakin dalam mencintainya.

Dulu ia pernah bertanya, mengapa harus ia yang kujatuhi perasaan? Dan, aku pun tak pernah merasa memiliki jawaban. Aku beranggapan bahwasanya kita sendiri tidak dapat memilih hati kita jatuh untuk siapa. Kemanakah ia akan berlabuh? Dimanakah ia memutuskan tuk bertandang? Kesemuanya itu hadir tanpa alasan. Sebab, hal-hal seperti itu tidak dapat diprediksi atau ditentukan seenak jidat, karena pada dasarnya hati akan memilih bilamana ia telah terpilih. Ia pun bertanya kembali, sehebat itukah ia dimataku? Kurasa aku tak perlu menjawab pertanyaan itu. Lihat saja bagaimana ia selalu mampu membuatku tersenyum sebelum beranjak tidur.

Kita memang berasal dari dua suku yang berbeda. Lantas kala itu, aku pun sempat meragu. Apakah mungkin seorang prajurit biasa dari kerajaan Blambangan dapat merebut hati seorang tuan putri dari tanah Pasundan? Dimensi tentang kami saling berbenturan. Ia yang terbiasa menata barang secara perfeksionis berbanding terbalik denganku yang tergesa-gesa dalam melakukan banyak hal sekaligus. Namun saat pertama kali mata kami saling menatap, juga genggaman kami saling mengerat. Aku sadar saat itu kami dapat mengguncang dunia bersama. Ketika senja sedang menguning dijalanan, ikrar janji kami sedang dilantunkan.

Walau kini aku tak menemukan jejak dirinya dimanapun, nyatanya aku tetap bersyukur karna setidaknya ia telah menjadi seseorang yang pernah kusebut dengan rumah. Meskipun hanya sekedar mengira, aku tetap merasa beruntung karena pernah dibahagiakan olehnya sehebat itu. Biarpun secarik kata, kisah kami tak berakhir abadi. Perjalanan dengannya akan selalu menjadi cerita terhebat yang kan kusimpan diufuk cakrawala bersama dengan bagian menyenangkan pada tiap halaman dalam petualangan hidupku.

Jumat, 24 November 2023

(flightless-angel)


Kudengar kau akan pergi jauh meninggalkan kota. Selepas dua kali pertemuan tak disengaja mungkin sebaiknya aku tak menatap wajahmu untuk berkian kalinya. Karena bagaimanapun, bertemu kembali denganmu bukanlah sebuah anugerah. Aku tak ingin membiarkan wajahmu bersemayam lama dimemori, kemudian terlarut dalam kenang yang menghadirkan delusi. Mengakibatkanku harus bekerja lebih ekstra menyapu semua ingatan itu kedalam tempat sampah yang akan segera kubuang. Selayaknya sebuah reuni akbar dengan perhelatan besar, hal yang kita lalui takkan berakhir manis sesuai dengan rencana. Rupanya semesta telah mempersiapkan situasi tak terduga, yang tadinya kuharapkan hal tersebut merupakan sebuah hadiah terindah, ternyata justru sebaliknya.

Aku telah mencintaimu selama semusim dan akan bertambah perkara jumlah waktu bermukim. Sementara kau pun pernah mencintaiku untuk waktu yang tidak pernah diketahui. Sebab ketika aku mencoba mencari tahu, aku malah semakin percaya, bahwa kita memang tidak ditakdirkan bersama. Kau dengan sikap otoritermu sedang aku dengan rasa empatiku merupakan dua senyawa yang tak akan menyatu dalam satu larutan yang sama. Ketika harap dalam langitmu mulai memutuskan untuk pergi, hanya kemungkinan kecil ia akan kembali. Sebagaimana derai hujan yang telah usai. Mempertahankanmu sulit dicapai.

Memang hukuman paling adil dan sebaik-baiknya keadaan adalah demikian. Walau tak luput dari sedikit penyesalan, hati kecil yang sudah kupelihara sejak masa remaja ini harus tetap teguh menerima kenyataan. Meskipun terkadang sikap positifme menghancurkannya perlahan dari dalam. Terkadang keputusan-keputusan tidak relevan berdampak sangat merugikan. Menciptakan ruang semu yang membelenggu suatu ingatan. Seperti halnya rindu yang tercipta untukmu, hal semacam itu tak seharusnya diperlihatkan.

Aku mengerti alasanmu menjauhi kota ini adalah untuk menghindari berbagai macam pertanyaan penuh spekulasi yang tiada henti dilontarkan oleh mereka-mereka yang penasaran. Maklum saja beberapa diantara mereka tak sengaja mengetahui perihal apa yang pernah kau lakukan. Akan tetapi sebagaimana tokoh dalam cerita dengan watak penuh tipu daya, kau bertingkah seolah-olah tiap kalimat itu adalah ucapan yang mengada-ada. Kepandaianmu dalam mengelak membuat mereka percaya bahwa kau tak sepenuhnya bersalah. Lantas tanpa menaruh curiga kau berbahagia bersama kekasih baru yang kau temui ditengah pesta. Tak mengapa. Lagipula sejak dulu kau tak pernah bersungguh-sungguh kepadaku.

Dapat dikatakan kemampuanku untuk bangkit saat ini telah habis. Aku tidak akan tertipu hawa nafsu dengan mengikuti jejakmu. Sesegera mungkin berkencan dengan seseorang yang baru kukenal terdengar sedikit menjengkelkan. Melibatkan orang lain untuk mengobati luka lama akibat permasalahan sendiri merupakan sifat dari seorang pengecut. Walau sesaat aku mengakui, aku tak dapat melalui ini (sendiri). Kesendirian mempercepat rasa sedih dalam hati berfluktuasi. Kehadiran orang lain memang cukup membantu tuk melupakan, sebagaimana yang kau lakukan. Kau dengan cepat memperoleh pengganti sedangkan aku secara alam bawah sadar masih mengharapkanmu kembali.

Terlalu naif memang ketika berfikir bahwa kepergian adalah hal biasa. Karena dalam cerita ini, meski kau menyakiti, aku tetap gagal membenci.

Selasa, 14 November 2023

a song whose written by meghan trainor part 2


"Kalau saja kita tidak berteman sejak dulu mungkin aku sudah menaruh rasa ke kamu". Kalimat itu merupakan kalimat yang tak sengaja terlontar dari mulutmu kala aku sedang menemanimu membeli cappuccino dingin pada hari yang cukup terik di kota ini.

Untuk sejenak aku tertegun, apa karena itu selama ini kau tidak mau untuk menjalani hubungan lebih denganku sekalipun aku telah meminta? Apa karena itulah yang tidak menjadikan kita menjadi kata, kita. Semua orang telah mengetahui bahwa tidak ada seseorang yang jauh menyayangimu lebih dari aku. Hanya saja karna situasi menyebalkan ini. Kita terperangkap bak aliran air yang tak tau kearah mana ia harus bermuara.

"Seandainya memang begitu mengapa tidak mencoba saja?", ujarku demikian. Aku sama sekali tidak keberatan kalau kita menjalin suatu hubungan. Terlebih lagi itu merupakan suatu keuntungan bagiku dimana aku tak harus memulai kisah dengan seseorang yang baru.

"Sejujurnya untuk saat ini.. Kamu udah ngasih semuanya buat aku, kamu udah jadi apa yang aku mau, apa yang aku butuhkan. Terlepas dari status kita yang hanya sekadar teman tapi aku mengerti bahwa perlakuanmu tidak seperti itu. Aku pun turut menyadari bahwa apa yang sedang kita lakukan saat ini bukanlah suatu kegiatan yang sering dilakukan oleh beberapa manusia dalam hubungan pertemanan. Aku tahu kita lebih dari itu. Akan tetapi untuk berandai-andai hubungan kita berjalan lebih dari ini terus terang sangat mengkhawatirkan. Aku rasa aneh tuk menjalaninya. Mengetahui bahwa nanti aku akan terlalu mencemburuimu, juga kamu yang akan memarahiku atas ketidaksukaanmu terhadap apa kuperbuat, itu terlalu berlebihan. Berucap kata sayang satu sama lain tidak menggelikan kah bagimu?".

Mendengar hal itu aku sedikit pesimis dengan situasi yang terjadi. Memang benar aku berharap bahwa hubungan bisa disiasati untuk beranjak lebih. Karna mau sehebat apapun ia bersikeras dalam menyanggah, aku tetap tahu bahwa sebenarnya ia juga mencintaiku.

"Lalu apa kamu dapat memastikan suatu saat nanti kita takkan berpisah?", sambungmu.

"Sudah terlalu lama kita bicara hingga aku lupa bahwa kita pernah membicarakan tentang rasa. Sejujurnya aku tidak tahu saat ini hatimu milik siapa, tapi kamu selalu bilang bahwasanya kamu selalu merasa nyaman saat bersamaku. Kita ini apa? Kita sedang melakukan apa? Tidak bisakah seluruh yang kita jalani ini memiliki arti dan sebuah nama? Aku tidak siap jika harus kehilangan", ujarku.

Sejenak ia terdiam, menarik nafas panjang kemudian menatap kearah depan. Aku mulai berfikir, mungkin sebentar lagi ia akan melontarkan kata-kata tak pantas dengan sedikit nada tinggi. Namun selama beberapa saat berselang ia tak mengucap sepatah kata, dan tanpa sadar air matanya menetes perlahan kala ia mulai bersuara.

"Kamu tidak mengerti seberapa khawatirnya aku jika hal itu terjadi. Apa kamu pikir hanya kamu saja yang takut kehilangan? Itu salah besar!  Kamu tau apa alasanku menolakmu saat kamu menyatakan perasaan tuk pertama kalinya. Berkali-kali kamu selalu bertanya dan jawabanku tetap sama. Aku pikir kamu akan mengerti, tapi sepertinya kamu tak sepintar yang kukira. Kalau kamu bertanya hatiku milik siapa, sudah jelas sedari awal itu memang milikmu", ujarnya dengan lantang.

Jantungku berdegup kencang mendengar pernyataan yang sangat tidak terduga itu. Kendati begitu aku mulai menyadari maksud dibalik perkataannya. Jawaban atas mengapa ia menolak tuk kali pertama adalah keterikatanku dengannya yang terlalu kuat. Kita sama-sama telah tau. Baik masing-masing dari kita tak ada yang benar-benar sembuh. Lantas itulah yang menjadi kekhawatirannya selama ini, bahwa diantara kita berdua akan sama-sama saling menyakiti.

"Mungkin terdengar naif apabila aku terus memaksamu dalam keadaan ini. Aku mengerti bahwa hubungan kita tak cukup istimewa. Kamu lebih bangga memilikiku sebagai temanmu, tak mengapa. Aku paham, kamu tidak ingin menyakitiku bukan? Kebisingan, pertikaian, perdebatan, bukanlah sesuatu yang kamu sukai. Lantas karna itu pula kamu tidak ingin menyaksikan proyeksi itu bersamaku. Namun sedikit yang bisa kusanggahi atas semua yang telah terjadi. Aku tetap mencintaimu, terlepas dari suatu saat nanti kamu akan menjadi kekasihku atau tidak, itu bukan urusanku". Aku berkata demikian karna telah menemukan jawaban, memang jalan terbaik adalah memilih opsi paling sederhana. Tidak salah satunya, tidak diantara keduanya.

"Aku lebih menyukaimu sebagai temanku", air matanya kian mengalir dengan deras. Hal ini menandakan bahwa betapa besar ketakutannya akan kehilanganku. Menjalin hubungan lebih akan semakin memperbesar peluang tuk tersakiti, ia tidak ingin mengalaminya, juga ia tidak ingin membuatku terluka.

"Sudah, tidak apa. Maaf telah merepotkan perasaanmu", memang alangkah baiknya kita tidak beranjak atas apa yang telah kita pijak. Semestinya.

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...