Minggu, 30 Juli 2023

Green Latte


Sore yang cukup melelahkan untuk sebuah rutinitas pekerjaan. Tak terasa hari berganti begitu cepat membuatku lebih mudah menghapus penat dalam ingat. Suara bising kendaraan lalu lalang menandakan akan segera tiba waktu petang. Dan perutku, sejak tadi pagi belum terisi penuh. Tak ayal lambung seperti mengaduh meminta segera dijamu.

Aku menghentikan laju motorku sejenak, melihat adakah tempat yang cukup nyaman untukku beristirahat seraya sebentar. Berselang kemudian aku memutuskan untuk singgah pada kedai coffeeshop yang bertuliskan kata 'Buka'. Tak jauh dari tempatku berhenti tadi. Namun seperti ada yang tidak asing dengan kedai ini. Romansanya membuatku devaju akan sesuatu. Dekorasi, tata letak, cahaya lampu, bahkan tanaman hias kecil diatas meja membuatku takjub hingga tanpa sadar; aku semakin lama berselancar dalam nalar. Lalu kemudian, ditengah lamunan, aku kembali mengingat kejadian. Entah kenapa vibes coffeeshop ini membawaku bergerilya pada momen saat pertamaku berjumpa dengan perempuan dari bumi utara. Aroma ini.. aroma matcha. Yaa masih dapat kuingat dengan jelas, selain coklat dan vanilla kamu juga menyukai matcha. Matcha merupakan rasa yang kurang familiar di lidahku. Sejumput rasa yang hampir mirip seperti ketidaksengajaanku memakan rumput semasa kelas 3 SD dulu, membuatku mengira bahwa rasa itu takkan pernah berubah. Namun kupikir rasa-rasanya untuk memesan secangkir minuman favoritmu terdengar tidak terlalu buruk.

Segelintir penyesalan datang kemudian selepas aku memesan minuman. Aku berjalan perlahan menuju bangku sembari menggerutu, apakah mungkin perpaduan rasa antara kopi dengan teh hijau khas jepang itu menghasilkan rasa yang enak? Kurasa mereka tidak akan bersimbiosis dengan tepat dalam mulutku. Ah sudahlah.. tidak ada salah mencoba.

Berada di kedai ini kembali membuatku mengetuk memori. Aku teringat kala aku dan kamu sedang kepanasan, lalu memutuskan untuk berteduh sembari memesan minuman di cafe seberang jalan. Kau datang memesan rasa favoritmu, sedang aku bereksperimen dengan mencari rasa yang belum pernah kutahu. Namun seperti kebanyakan, seorang laki-laki memang selalu beruntung saat percobaan.

"Aku boleh coba punyamu ga?" ia meminta sedikit minumanku.
"Ah lebih enak punyamu" sambungnya sambil tersenyum hambar.

Selepas percakapan ini aku telah menebak dalam hati, "Kau pasti akan menukar minumanmu dengan kepunyaanku" pikirku 

Selagi sedang asik berkutat dengan isi pikiranku, kau mengagetkanku dengan kembali menyodorkan minumanku ke arahku. Mengembalikannya tanpa meminta untuk menukar; tersenyum tanpa memasang muka datar. Suatu hal yang amat jarang terjadi. Disaat perempuan lain akan menukar minumannya dengan milik pasangannya, kau malah tetap ingin memilikinya dan membiarkanku menghabiskan minuman yang kupunya.

Ah sial, nostalgia ini harus segera dihentikan.

Latte berwarna hijau itupun datang. Sempat terjadi keraguan dalam benak terkait apakah rasa ini akan benar-benar enak. Setelah mencobanya, aku menarik semua ucapanku. Rupanya perpaduan rasa aneh ini menghasilkan sinergi bak hulu ledak nuklir yang menghancurkan semua persepsi tentang teh hijau khas jepang ini. Tak kusangka, aku mulai jatuh cinta. Pantas saja kau begitu gila dengan apapun yang berbau matcha. Kini aku mulai enjoy dengan rasa matcha, bertemankan secarik kisah lama yang mendobrak isi kepala juga lagu Sheila on 7 yang terputar tanpa sengaja. Kenangan bersamamu akan selalu menjadi ingatan indah selamanya.

Selasa, 18 Juli 2023

ciao


Yang membuat hubungan tidak nyaman yaitu karna tidak sama-sama. Yang satu ingin komunikasi, yang satu terlalu sering pergi. Yang satu ingin dipedulikan, yang satu tak memperhatikan. Yang satu kerap menunggu, yang satu tak nampak butuh. Sehingga hubungan terasa begitu jauh.

Aku tidak perlu lagi hipotesis untuk melucuti kenyataan. Bukti yang kuperoleh sudah lebih dari cukup. Selama ini ternyata dibelakangku kau telah menyimpan banyak hati, bermain-main diatas bara api. Membuatku pada akhirnya menyadari; kau tak pernah serius dalam hubungan ini. Sialan! Dasar perempuan tak punya nurani. Manipulatif mungkin telah berteman denganmu sejak lama. Ketika aku sedang terombang-ambing dengan kecemasan yang kupunya, kau malah sibuk berkelana dengan orang lain menulis sebuah buku cerita. Biadab.

Kau pernah mengatakan bahwa perasaanmu takkan pernah berubah. Nyatanya perasaanmu berubah; tepat setelah ku kuras habis semua perasaanku tanpa sisa. Pada saat itu aku meringkas semua pertanyaan menjadi “Kenapa?”. Dahulu, kita selalu mengucap kata sayang di penghujung malam. Berbagi cerita masa kecil di telfon hingga berjam-jam. Meski semua hal itu menjadi ingatan yang ingin ku lupakan, aku tetap mengakui bahwa semua hal itu terasa menyenangkan. Tapi biarlah tiket bioskop baris ketujuh juga tiga eksemplar fotomu yang kian berdebu, menjadi benda-benda yang kehilangan nyawa. Semua hal itu tidak ingin aku kenang. Aku tidak ingin lagi semakin hari semakin mengharapkanmu. Tidak apa kisah ini tidak berujung dengan happy ending. Aku merasa bodoh jika harus memikirkan untuk takut kehilanganmu. Sangat tidak penting! Tak ada gunanya memaksakan penjelasan atau memalsukan perasaan. Rasa sakit ini sudah lebih dari yang dibayangkan. Hati dengan luka yang masih basah ini sudah lelah bertanya kenapa, kenapa, dan kenapa. Segala kejadian ini takkan pernah bisa dirubah. Untuk apa hubungan ini masih ada?

Ketidakpercayaan menjelma mercusuar yang membuatku semakin memantapkan diri untuk melangkah pergi. Aku tidak menyesal berjuang seorang diri, bagiku hidup adalah serangkaian repetisi. Patah hati ini tidak seharusnya membuatku takut untuk jatuh hati lagi. Tidak perlu tergesa-gesa dalam hubungan yang salah. Tidak perlu terburu-buru untuk kembali sembuh. Akan tiba masanya kita menertawakan rasa yang teramat sakit, atau menangisi rasa manis yang kini terasa pahit. Beberapa hal memang tercipta dibiarkan membeku dalam waktu bukan untuk terus mengalir bersama kau dan aku. Tuhan membentuk dua representasi dirimu dalam bentuk kenangan. Kenangan manis yang membuatku menghargai arti kehidupan, dan kenangan buruk yang mengajarkanku arti kekecewaan. Ketidakpastian ini harus segera dipastikan, kali ini aku memilih meninggalkan.

“Bukan aku yang kurang, kau saja yang merasa tidak cukup punya aku”, ucapku terakhir kali sebelum memblokir nomornya kala itu.

Selasa, 11 Juli 2023

"..in the name of God"


Apakah semua proses perjalanan cinta seseorang selalu hadir dengan ritme dan pola yang sama? Apakah Tuhan telah menggariskan setiap manusia mempunyai kisah yang hampir serupa? Sedikit banyak yang kuketahui tiap insan di muka bumi akan mengalami patah hati. Seperti halnya lirik dalam lagu atau bait pada puisi. Luka selalu menginspirasi. Bagiku tidak akan ada kebahagiaan tanpa pengorbanan. Entah itu nantinya akan berbuah manis, atau malah menjadi tragis.

Setiap hal yang kita lalui merupakan proses dalam menjalani hidup. Selalu ada makna tersirat dalam sepucuk surat. Tak ada manusia yang tak punya kisah pelik, karena dibalik ujian selalu ada pembelajaran yang dapat dipetik.

Malam ini aku tak lagi menangisimu sepanjang hari. Berkutat dalam memori memutar kenang dalam delusi. Tidak.. tidak lagi. Aku hanya sedang berdamai dengan kehendak Tuhan, sebab kemarin aku terlalu memaksa memintamu kembali ke pangkuan. Kenyataannya hidup bukan hanya tentang kehendak kita saja, melainkan kehendak-Nya lah yang lebih utama. Mengetahui rencana Tuhan adalah yang terindah, meskipun menyakitkan; harus diterima. Aku tahu ini merupakan bagian dari perjalanan menuju pelaminan. Mitosnya menang banyak pasangan yang diberi cobaan terlebih dahulu untuk menguji kesetiaan. Mungkin sekarang tiba waktuku, kendati tahu kau masih menyimpan nama lain di ruang hatimu. Tak masalah bagiku sebab aku menyayangimu secara menyeluruh..

Aku menyadari kata-katamu kemarin adalah kebohongan. Suatu detonasi yang menjelma pagi menembus kegelapan. Tipu daya yang penuh kepalsuan menggiringku merapihkan halaman tuk menjatuhkan perasaan (lagi). Meski sempat terfikir kenapa harus aku mati-matian menjaga janji? Hatimu telah terbagi; membelah diri. Untuk apa aku mempertahankan hubungan ini setelah dikhianati. Bodoh jika tetap dilakukan. Membayangkan apa yang telah kamu lakukan membuatku muak. "tanpa perasaan", begitu bualku dalam lamunan.

Mereka bilang kepercayaan ibarat benang rajut dari bulu domba, yang sekali kusut takkan kembali ke bentuk semula. Katanya lebih baik sendiri tapi punya seseorang yang peduli, dari pada punya pasangan tapi merasa kesepian. Betapa saat ini aku berharap menemukan persimpangan jalan. Betapa aku sangat ingin merubah keadaan. Aku ingin kembali ke masa lalu mencegah dia datang kembali di kehidupanmu. Atau lebih bagusnya aku memutar waktu saat kita bertemu kemudian memutuskan untuk tak lagi menjatuhkan hati padamu.

Ini menyakitkan. Dan maaf, kata "maaf" tidak cukup menyembuhkan.

Kini aku pasrah akan pilihan Tuhan. Akan ku jalani tiap prosesnya sembari mengantungkan harapan. Meski luka telah menyayat hati, aku tidak dapat berbohong bahwa aku masih menyayanginya. Mencoba memulai kembali bersamanya dari awal terdengar tidak terlalu buruk. Biarlah garis takdir Tuhan yang pada akhirnya memberi jawaban. Urusan nanti apakah kita akan tinggal satu atap bersama, sekecil apapun peluangnya, itu lain cerita.

Senin, 10 Juli 2023

Lonelyness


Mendengar pernyataan bahwa manusia jauh lebih jahat dari pada iblis mungkin ada benarnya. Kau yang ku idam-idamkan sebagai permaisuri, tak kuduga menancapkan belati. Bagaimana mungkin kita yang sebentar lagi melangsungkan pernikahan, seketika kau berpindah haluan. Tak ayal hal itu membisingkan seluruh isi kepalaku. Sakit hati, sedih dan emosi, benar-benar diluar prediksi. Sejahat inikah manusia?

Kau berubah, menjadikanmu sosok berbeda.

"Aku beberapa kali sempat bertemu dengan mantanku tanpa kamu tahu, dan aku rasa aku masih mencintainya", ucapmu tanpa merasa bersalah.

Masa lalumu masih jadi pemenang? Guyonan macam apa ini? Kita membangun bahtera bersama-sama, mendirikan pelabuhan di sisi utara. Bersiap menunggu waktu berlayar menjelajahi benua yang belum ada dalam peta. Namun ketika pilar-pilar telah tersusun dan kepercayaan mulai terbangun, kau membuat ku tertegun. Sebuah kalimat yang tak pernah terfikir olehku akan terucap dari bibirmu, membuatku diam membeku.

Lantas mengapa aku yang kau jadikan tujuan? Bukankah dulu kau sempat mengemis memintaku kembali padamu untuk menjalin suatu hubungan. Tidakkah ini aneh? Aku bingung sekaligus heran, rupanya rak buku dalam hatimu masih menyimpan masa lalu dalam bentuk kenangan. Orang lain kau jadikan proritas, sedang aku yang notabene adalah pasangan ikrarmu malah kau beri ruang batas. Kau sendiri yang tidak memintaku untuk bersaing dalam kompetisi, lalu menjadikanku seorang pemenang sebagai juara hati. Lalu mengapa tiba-tiba aku menjadi juara kedua? Kau memenangkan hatinya tanpa menghiraukan aku yang secara legal telah memilikimu seutuhnya. Kalah sebelum berperang adalah perasaan yang menyebalkan.

"Ini gamudah bagi aku, kenangan bersamanya tidak mudah dilupakan. Dan aku minta maaf, saat bersamanya aku kembali merasa nyaman", katamu sekali lagi.

Entah apa yang telah terjadi. Mungkin ini juga yang menjadi asalan mengapa berkali kau enggan kutemui. Saat aku ingin bercengkrama meminta temu tuk melepas rindu. Kau meramu dalih atas kebohongan yang kau sembunyikan. Aku yang kebingungan mencari jalan keluar dari labirin sedang kau malah menyuguhkan secangkir teh hangat pada pria lain.

Benar kata mereka, menaruh harapan pada manusia adalah cikal bakal dari lahirnya sebuah kekecewaan. Ekspektasi yang terlalu tinggi dapat membuat terbang kemudian jatuh menghantam bumi. Kebanyakan dari kita terlalu takut akan sesuatu yang belum pasti, sehingga ideologi mencari titik terang dengan menghadirkan delusi. Delusi sesaat memang membahagiakan, tapi semua itu tidak berlaku dikemudian. Dan selepas kejadian ini aku memetik sebuah pembelajaran. Menjatuhkan hati padamu adalah suatu kekeliruan, tak kusangka ucapan manismu hanyalah sebuah kiasan.

Kau diamkan aku dalam kesendirian, tanpa penjelasan, tanpa jawaban.

Selasa, 04 Juli 2023

happy


Sebagian orang menyatakan, balikan dengan mantan sama halnya dengan mengulang sebuah buku yang pernah kamu baca; dimana endingnya takkan pernah berubah. Bagiku itu bukanlah suatu kebetulan. Bisa saja dari jutaan kasus balikan yang ada di dunia hanya sebagian kecil dari mereka yang dinyatakan berhasil. Namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar.

Faktanya, hampir 68% dari pasangan yang kembali bersama menilai bahwa pasangannya telah berubah menjadi lebih baik. Dan itu yang sedang ku alami sekarang.

Aku mengakui jatuh hati tidak dapat dibendung dengan cara apapun, perasaan tidak pernah dapat berbohong. Meskipun ia datang dengan tiba-tiba saat kesiapan dalam diri belum bisa menanggung akibat. Ia tak mau tahu.

Perasaan selalu bersemi pada tempat, waktu dan situasi yang tak terduga. Kala itu dengan pemikiran setengah sadar, aku belum dapat mencerna apa yang barusan kamu katakan. Kamu memintaku? Bukankah ini terbalik? Tidak salahkah? Aku belum paham tujuanmu memintaku datang ke tempat pertama kali kita bertemu kemudian berkata bahwa kamu sedang merindu. Maksudku untuk apa pertemuan ini tercipta, bukankah masing-masing dari kita pernah saling menghindar untuk tak lagi singgah. Lalu kali ini dengan sengaja kamu bilang ingin menjatuhkan hati sekali lagi. Omong kosong apalagi ini. Aku sedang kebingungan mencari hubungan diplomatik antara pertemuan dengan balikan. Apa kamu hanya bergurau bermaksud mencairkan suasana dikala obrolan kita yang semakin dingin, ataukah bukan?.

"Jangan memikat jika kamu tidak berniat mengikat", ucapku sedikit lirih.

"Yasudah, ikat saja"

"Maksudmu?"

"Menikah... Kamu dan aku, menikah" 

Dengan spontan aku menampar keras pipiku sendiri memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. "Jangan bercanda, kamu gamungkin serius kan?"

"Aku serius kok", ia mengeluarkan tangan dari balik hoodie kemudian beranjak meraih tanganku. "Sudah saatnya kita mulai segala hal yang baru, tentang kita", katamu meyakinkan.

Menyebalkan, pada akhirnya aku membiarkan hatiku bercengkrama denganmu sekali lagi. Membuka kembali pintu yang sebelumnya tertutup rapat, membiarkanmu mendekat. Biarlah hatiku berpesta pora terlebih dahulu. Mengisi nutrisi dengan rumus kebahagiaan untuk membantunya kembali sembuh. Ku rasa tidak ada salahnya kita mencoba; selagi kita saling mencinta.

Seminggu kemudian aku datang untuk melamar. Aku tidak menyangka akan tiba saatnya aku akan menaruh cincin di jari seseorang. Hari yang tidak aku kira akan datang secepat ini. Semua perasaan bercampur aduk porak-poranda bak asteroid yang menghujani bumi kemudian membumi-hanguskan segalanya tanpa sisa. Entahlah aku sendiri tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Mengapa kamu yang ditakdirkan? kataku didepan cermin sembari merapikan rambutku yang masih acak-acakan.

Semoga aku ataupun dia bisa saling menjaga rasa. Semoga saja.

Senin, 03 Juli 2023

Kromatografi

 

Ini menyedihkan. Kapal laut yang di rawat dengan sedemikian rupa untuk menjadikannya elok di masa depan harus hancur dari dalam. Terjadi banyak bentrokan yang mengakibatkan kebocoran pada tiap sisi. Meskipun kita telah menambal semua lubang dengan rapih, pada akhirnya ketersinggungan memecah sebuah retak mengakibatkan kapal tak lagi berfungsi.

Seperti halnya molekul yang berbeda pada satu larutan asset, tiap komponen akan perlahan berpecah kemudian terpisah. Sama halnya dengan sebuah perjanjian yang tidak menemui kesepakatan. Hubungan ini; berakhir.

"Kita masih bisa memperbaiki ini, tolong jangan nyerah" katamu, memohon.

"Aku pengen kita mulai semua dari awal, aku mau kita bareng-bareng lagi, aku mau berubah, aku pengen sama kamu", sambungmu, sedikit lantang.

Irak derai suara tangis mengema di telpon, terdengar jelas kau meluapkan semua ekspresi kesedihan. Memecah suara malam sehingga yang terdengar hanya isakan tangis ditengah gulita. Aku bisa merasakan bulir air matamu berbicara; berprotes pada dunia.

"Niat kita dari awal pengen berhasil loh, tolong kalo kamu sayang sama aku jangan kaya gini. Kita udah mau 2 tahun, itu bukan waktu yang sebentar. Tolong berjuang sekali lagi, jangan buat penantianku sia-sia"

Perlu kamu tahu, melepasmu adalah keraguan paling bising di kepala. Seluruh pernyataan valid menolak adanya interupsi pustaka. Sesungguhnya jarak hanya perihal angka, rasa sayangku takkan pernah bisa dihitung. Dipelukanmu aku rela mati hari ini. Namun tembok ini terbilang tinggi.  Tidak satupun diantara kita yang cukup ahli menancapkan bendera di langit bumi.

Ada milyaran manusia yang hidup dimuka bumi ini, tapi mengapa Tuhan menjatuhkan hatiku padamu. Mengapa harus dirimu? Sosok perempuan yang dahulunya ku kagumi dari jauh, berhasil ku rengkuh. Lantas mengapa takdir berkata beda? Harapan yang awalnya perlahan berubah menjadi nyata, kini menjelma sebagai doa yang terdiam di sudut cakrawala. Nyatanya kita berada di titik ketidak-tahuan harus berkata apa, berbuat apa, bagaimana. Ketidaksamaan argumen antar kedua keluarga merupakan persoalan yang terlalu mahal untuk dibayar.

Satu-satunya hal yang teramat kubenci adalah fakta bahwa aku tidak dapat lagi menjagamu. Tuhan menciptakan akal pada setiap insan manusia, tak terkecuali keluarga kita. Begitu logika meramu jalan menemukan pintu keluar yang bernama ketidak-cocokan. Kita dipaksa bungkam.

Rasanya sedih mengingat perjuangan kita melabuhkan kapal. Kala itu aku dan kamu sekuat tenaga menahan terjangan badai menuju dermaga. Saat ini, kapal itu terdiam; membiarkannya karam. Menanggalkan semua mimpi dan asa yang pernah dirajut bersama; tenggelam begitu saja.

Berpetualanglah, carilah kapal yang lebih besar. Aku tidak akan menahanmu meski kamu meminta hal itu. Memikirkanmu sungguh abu-abu. Aku hampir tidak lagi bisa membedakan batasan antara sedih harus berpisah atau merelakanmu menemukan seseorang untuk bisa melukis bahagia sedang aku tidak bisa.

Percayalah bahwa aku menyayangimu secara keseluruhan, meskipun harus merusak beberapa benda disekitarku kemudian. Dunia memang tidak adil. Ironinya kita harus melalui itu. Kalau saja aku tahu waktu itu adalah kali terakhir aku melihatmu, aku akan mengucapkan hal yang lebih baik.

Senyawa gas mulia takkan bisa larut dalam air, begitu pula dengan madu. Segala hal manis yang kita lalui telah menemui kata ujung, ujung yang tak diharapkan.

Minggu, 02 Juli 2023

The Beatles?

 

Akhir-akhir ini kalimat "aku ingin sendiri" menjadi kicauan paling akrab diketik pada kolom obrolan kita. Baik aku ataupun kamu sama-sama tidak mengerti perihal konsep pembagian waktu. Kamu yang selalu merasa ingin aku ada 24/7, sedangkan aku adalah seseorang yang tak selalu datang tepat waktu.

Ketika orang lain melakukan sesuatu yang kamu sukai (dan kamu menginginkan hal yang sama) bukan berarti semua orang harus kamu paksa untuk mengerti. Tidak perlu menyeragamkan diri dengan orang lain atas dalih ingin 'lebih diperhatikan' seolah kamu adalah poros kehidupan.

Ingin sekali aku memecah dunia paralel kemudian menghadirkan sosok diriku yang lain untuk menemuimu sesaat, atau terlahir di kehidupan yang lebih hebat.

Kalau saja aku mampu, sudah ku kejar langkahmu agar kita berjalan berdampingan. Menghiasi semestamu dengan senyuman paling riak yang belum pernah kamu kenal sebelumnya sehingga kesepian tidak akan menyelimutimu setiap malam. Namun satu hal yang kamu lupa, hubungan ini. Istimewa.

Tidak seperti cerita pada negeri dongeng buku kanak-kanak dimana ada seorang pangeran tampan dengan kuda putihnya akan membawamu berpergian menuju pesta dansa di istana megahnya. Dan kau sudah bersiap memakai gaun paling cantik yang ada di lemarimu. Kita? tidak seperti itu.

Harus beberapa kali kukatakan, kita tidak seberuntung kisah kebanyakan. Aku selalu menganggap rela menunggu seseorang bukan berarti bodoh; tapi teguh pendirian. Hanya saja kamu juga harus sabar dengan hal itu. Aku juga manusia biasa, yang juga punya rasa lelah. Rasa ingin didengar, rasa ingin diperhatikan. Bukan setiap waktu yang harus mendengarkan ocehanmu merengek kesepian.

Aku berjuang atas nama kita, K-I-T-A.

Hubungan ini tidak akan beranjak dewasa apabila kita saling mempertahankan ego masing-masing. Berdiam diri ditengah jalan seperti empat orang anggota band asal Liverpool Inggris, sangat tidak terdengar menyenangkan.

Kamu tenggelam akan egomu, menjadikanmu sosok yang menakutkan. Lambat laun kusadari, kita tak lagi sejalan perihal hati. Aku yang dengan mati-matian berusaha mewujudkan wishlist impianmu, dengan mudahnya kau jadikan semu dengan berkata bahwa aku tidak lagi sayang. Susah dan senang, jatuh dan bangun, kecewa dan bahagia, aku selalu bersamamu. Ada ketulusan yang menyapamu setiap hari dari balik kain, kau saja yang memilih untuk menatap kearah lain.

Menyayangimu sangatlah mudah, aku bisa melakukannya berulang kali tanpa pernah merasa bosan; yang sulit itu cara menunjukkan.

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...