Ini menyedihkan. Kapal laut yang di rawat dengan sedemikian rupa untuk menjadikannya elok di masa depan harus hancur dari dalam. Terjadi banyak bentrokan yang mengakibatkan kebocoran pada tiap sisi. Meskipun kita telah menambal semua lubang dengan rapih, pada akhirnya ketersinggungan memecah sebuah retak mengakibatkan kapal tak lagi berfungsi.
Seperti halnya molekul yang berbeda pada satu larutan asset, tiap komponen akan perlahan berpecah kemudian terpisah. Sama halnya dengan sebuah perjanjian yang tidak menemui kesepakatan. Hubungan ini; berakhir.
"Kita masih bisa memperbaiki ini, tolong jangan nyerah" katamu, memohon.
"Aku pengen kita mulai semua dari awal, aku mau kita bareng-bareng lagi, aku mau berubah, aku pengen sama kamu", sambungmu, sedikit lantang.
Irak derai suara tangis mengema di telpon, terdengar jelas kau meluapkan semua ekspresi kesedihan. Memecah suara malam sehingga yang terdengar hanya isakan tangis ditengah gulita. Aku bisa merasakan bulir air matamu berbicara; berprotes pada dunia.
"Niat kita dari awal pengen berhasil loh, tolong kalo kamu sayang sama aku jangan kaya gini. Kita udah mau 2 tahun, itu bukan waktu yang sebentar. Tolong berjuang sekali lagi, jangan buat penantianku sia-sia"
Perlu kamu tahu, melepasmu adalah keraguan paling bising di kepala. Seluruh pernyataan valid menolak adanya interupsi pustaka. Sesungguhnya jarak hanya perihal angka, rasa sayangku takkan pernah bisa dihitung. Dipelukanmu aku rela mati hari ini. Namun tembok ini terbilang tinggi. Tidak satupun diantara kita yang cukup ahli menancapkan bendera di langit bumi.
Ada milyaran manusia yang hidup dimuka bumi ini, tapi mengapa Tuhan menjatuhkan hatiku padamu. Mengapa harus dirimu? Sosok perempuan yang dahulunya ku kagumi dari jauh, berhasil ku rengkuh. Lantas mengapa takdir berkata beda? Harapan yang awalnya perlahan berubah menjadi nyata, kini menjelma sebagai doa yang terdiam di sudut cakrawala. Nyatanya kita berada di titik ketidak-tahuan harus berkata apa, berbuat apa, bagaimana. Ketidaksamaan argumen antar kedua keluarga merupakan persoalan yang terlalu mahal untuk dibayar.
Satu-satunya hal yang teramat kubenci adalah fakta bahwa aku tidak dapat lagi menjagamu. Tuhan menciptakan akal pada setiap insan manusia, tak terkecuali keluarga kita. Begitu logika meramu jalan menemukan pintu keluar yang bernama ketidak-cocokan. Kita dipaksa bungkam.
Rasanya sedih mengingat perjuangan kita melabuhkan kapal. Kala itu aku dan kamu sekuat tenaga menahan terjangan badai menuju dermaga. Saat ini, kapal itu terdiam; membiarkannya karam. Menanggalkan semua mimpi dan asa yang pernah dirajut bersama; tenggelam begitu saja.
Berpetualanglah, carilah kapal yang lebih besar. Aku tidak akan menahanmu meski kamu meminta hal itu. Memikirkanmu sungguh abu-abu. Aku hampir tidak lagi bisa membedakan batasan antara sedih harus berpisah atau merelakanmu menemukan seseorang untuk bisa melukis bahagia sedang aku tidak bisa.
Percayalah bahwa aku menyayangimu secara keseluruhan, meskipun harus merusak beberapa benda disekitarku kemudian. Dunia memang tidak adil. Ironinya kita harus melalui itu. Kalau saja aku tahu waktu itu adalah kali terakhir aku melihatmu, aku akan mengucapkan hal yang lebih baik.
Senyawa gas mulia takkan bisa larut dalam air, begitu pula dengan madu. Segala hal
manis yang kita lalui telah menemui kata ujung, ujung yang tak
diharapkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar