Sebagian orang menyatakan, balikan dengan mantan sama halnya dengan mengulang sebuah buku yang pernah kamu baca; dimana endingnya takkan pernah berubah. Bagiku itu bukanlah suatu kebetulan. Bisa saja dari jutaan kasus balikan yang ada di dunia hanya sebagian kecil dari mereka yang dinyatakan berhasil. Namun tidak dapat dipungkiri pula bahwa pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar.
Faktanya, hampir 68% dari pasangan yang kembali bersama menilai bahwa pasangannya telah berubah menjadi lebih baik. Dan itu yang sedang ku alami sekarang.
Aku
mengakui jatuh hati tidak dapat dibendung dengan cara apapun, perasaan tidak pernah dapat berbohong. Meskipun ia datang dengan tiba-tiba saat kesiapan dalam diri belum bisa
menanggung akibat. Ia tak mau tahu.
Perasaan selalu bersemi pada tempat, waktu dan situasi yang tak terduga. Kala itu dengan pemikiran setengah sadar, aku belum dapat mencerna apa yang barusan kamu katakan. Kamu memintaku? Bukankah ini terbalik? Tidak salahkah? Aku belum paham tujuanmu memintaku datang ke tempat pertama kali kita bertemu kemudian berkata bahwa kamu sedang merindu. Maksudku untuk apa pertemuan ini tercipta, bukankah masing-masing dari kita pernah saling menghindar untuk tak lagi singgah. Lalu kali ini dengan sengaja kamu bilang ingin menjatuhkan hati sekali lagi. Omong kosong apalagi ini. Aku sedang kebingungan mencari hubungan diplomatik antara pertemuan dengan balikan. Apa kamu hanya bergurau bermaksud mencairkan suasana dikala obrolan kita yang semakin dingin, ataukah bukan?.
"Jangan memikat jika kamu tidak berniat mengikat", ucapku sedikit lirih.
"Yasudah, ikat saja"
"Maksudmu?"
"Menikah... Kamu dan aku, menikah"
Dengan spontan aku menampar keras pipiku sendiri memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. "Jangan bercanda, kamu gamungkin serius kan?"
"Aku serius kok", ia mengeluarkan tangan dari balik hoodie kemudian beranjak meraih tanganku. "Sudah saatnya kita mulai segala hal yang baru, tentang kita", katamu meyakinkan.
Menyebalkan, pada akhirnya aku membiarkan hatiku bercengkrama denganmu sekali lagi. Membuka kembali pintu yang sebelumnya tertutup rapat, membiarkanmu mendekat. Biarlah hatiku berpesta pora terlebih dahulu. Mengisi nutrisi dengan rumus kebahagiaan untuk membantunya kembali sembuh. Ku rasa tidak ada salahnya kita mencoba; selagi kita saling mencinta.
Seminggu kemudian aku datang untuk melamar. Aku tidak menyangka akan tiba saatnya aku akan menaruh cincin di jari seseorang. Hari yang tidak aku kira akan datang secepat ini. Semua perasaan bercampur aduk porak-poranda bak asteroid yang menghujani bumi kemudian membumi-hanguskan segalanya tanpa sisa. Entahlah aku sendiri tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya. Mengapa kamu yang ditakdirkan? kataku didepan cermin sembari merapikan rambutku yang masih acak-acakan.
Semoga aku ataupun dia bisa saling menjaga rasa. Semoga saja.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar