Akhir-akhir ini kalimat "aku ingin sendiri" menjadi kicauan paling akrab diketik pada kolom obrolan kita. Baik aku ataupun kamu sama-sama tidak mengerti perihal konsep pembagian waktu. Kamu yang selalu merasa ingin aku ada 24/7, sedangkan aku adalah seseorang yang tak selalu datang tepat waktu.
Ketika orang lain melakukan sesuatu yang kamu sukai (dan kamu menginginkan hal yang sama) bukan berarti semua orang harus kamu paksa untuk mengerti. Tidak perlu menyeragamkan diri dengan orang lain atas dalih ingin 'lebih diperhatikan' seolah kamu adalah poros kehidupan.
Ingin sekali aku memecah dunia paralel kemudian menghadirkan sosok diriku yang lain untuk menemuimu sesaat, atau terlahir di kehidupan yang lebih hebat.
Kalau saja aku mampu, sudah ku kejar langkahmu agar kita berjalan berdampingan. Menghiasi semestamu dengan senyuman paling riak yang belum pernah kamu kenal sebelumnya sehingga kesepian tidak akan menyelimutimu setiap malam. Namun satu hal yang kamu lupa, hubungan ini. Istimewa.
Tidak seperti cerita pada negeri dongeng buku kanak-kanak dimana ada seorang pangeran tampan dengan kuda putihnya akan membawamu berpergian menuju pesta dansa di istana megahnya. Dan kau sudah bersiap memakai gaun paling cantik yang ada di lemarimu. Kita? tidak seperti itu.
Harus beberapa kali kukatakan, kita tidak seberuntung kisah kebanyakan. Aku selalu menganggap rela menunggu seseorang bukan berarti bodoh; tapi teguh pendirian. Hanya saja kamu juga harus sabar dengan hal itu. Aku juga manusia biasa, yang juga punya rasa lelah. Rasa ingin didengar, rasa ingin diperhatikan. Bukan setiap waktu yang harus mendengarkan ocehanmu merengek kesepian.
Aku berjuang atas nama kita, K-I-T-A.
Hubungan ini tidak akan beranjak dewasa apabila kita saling mempertahankan ego masing-masing. Berdiam diri ditengah jalan seperti empat orang anggota band asal Liverpool Inggris, sangat tidak terdengar menyenangkan.
Kamu tenggelam akan egomu, menjadikanmu sosok yang menakutkan. Lambat laun kusadari, kita tak lagi sejalan perihal hati. Aku yang dengan mati-matian berusaha mewujudkan wishlist impianmu, dengan mudahnya kau jadikan semu dengan berkata bahwa aku tidak lagi sayang. Susah dan senang, jatuh dan bangun, kecewa dan bahagia, aku selalu bersamamu. Ada ketulusan yang menyapamu setiap hari dari balik kain, kau saja yang memilih untuk menatap kearah lain.
Menyayangimu sangatlah mudah, aku bisa melakukannya berulang kali tanpa pernah merasa bosan; yang sulit itu cara menunjukkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar