Mendengar pernyataan bahwa manusia jauh lebih jahat dari pada iblis mungkin ada benarnya. Kau yang ku idam-idamkan sebagai permaisuri, tak kuduga menancapkan belati. Bagaimana mungkin kita yang sebentar lagi melangsungkan pernikahan, seketika kau berpindah haluan. Tak ayal hal itu membisingkan seluruh isi kepalaku. Sakit hati, sedih dan emosi, benar-benar diluar prediksi. Sejahat inikah manusia?
Kau berubah, menjadikanmu sosok berbeda.
"Aku beberapa kali sempat bertemu dengan mantanku tanpa kamu tahu, dan aku rasa aku masih mencintainya", ucapmu tanpa merasa bersalah.
Masa
lalumu masih jadi pemenang? Guyonan macam apa ini? Kita membangun bahtera
bersama-sama, mendirikan pelabuhan di sisi utara. Bersiap menunggu waktu berlayar menjelajahi benua yang belum ada dalam peta. Namun ketika pilar-pilar
telah tersusun dan kepercayaan mulai terbangun, kau membuat ku tertegun. Sebuah kalimat yang tak pernah terfikir olehku akan terucap dari bibirmu, membuatku diam membeku.
Lantas mengapa aku yang kau jadikan tujuan? Bukankah dulu kau sempat mengemis memintaku kembali padamu untuk menjalin suatu hubungan. Tidakkah ini aneh? Aku bingung sekaligus heran, rupanya rak buku dalam hatimu masih menyimpan masa lalu dalam bentuk kenangan. Orang lain kau jadikan proritas, sedang aku yang notabene adalah pasangan ikrarmu malah kau beri ruang batas. Kau sendiri yang tidak memintaku untuk bersaing dalam kompetisi, lalu menjadikanku seorang pemenang sebagai juara hati. Lalu mengapa tiba-tiba aku menjadi juara kedua? Kau memenangkan hatinya tanpa menghiraukan aku yang secara legal telah memilikimu seutuhnya. Kalah sebelum berperang adalah perasaan yang menyebalkan.
"Ini gamudah bagi aku, kenangan bersamanya tidak mudah dilupakan. Dan aku minta maaf, saat bersamanya aku kembali merasa nyaman", katamu sekali lagi.
Entah apa yang telah terjadi. Mungkin ini juga yang menjadi asalan mengapa berkali kau enggan kutemui. Saat aku ingin bercengkrama meminta temu tuk melepas rindu. Kau meramu dalih atas kebohongan yang kau sembunyikan. Aku yang kebingungan mencari jalan keluar dari labirin sedang kau malah menyuguhkan secangkir teh hangat pada pria lain.
Benar kata mereka, menaruh harapan pada manusia adalah
cikal bakal dari lahirnya sebuah kekecewaan. Ekspektasi yang terlalu tinggi dapat membuat terbang kemudian
jatuh menghantam bumi. Kebanyakan dari kita terlalu takut akan sesuatu
yang belum pasti, sehingga ideologi mencari titik terang dengan
menghadirkan delusi. Delusi sesaat memang membahagiakan, tapi semua itu
tidak berlaku dikemudian. Dan selepas kejadian ini aku memetik sebuah pembelajaran. Menjatuhkan hati padamu adalah suatu kekeliruan, tak kusangka ucapan manismu hanyalah sebuah kiasan.
Kau diamkan aku dalam kesendirian, tanpa penjelasan, tanpa jawaban.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar