Senin, 17 Maret 2025

Gomawo, Mi-daa


Diantara bunyi gemericik air hujan yang sedang berjatuhan aku memberanikan diri mengungkapkan perasaan melalui ruang obrolan yang disediakan aplikasi bernama WhatsApp. Entah pikiran apa yang sedang merasuki kepalaku, rasanya kepercayaan diriku muncul seketika bak bintang jatuh yang melintasi langit bumi, membuat jari-jemariku bereaksi sehingga mereka mulai lihai dalam merangkai kata berima puisi. Aku cukup takjub dibuatnya, darimana kepercayaan ini berasal?

Seorang perempuan lugu yang baru saja kukenal selama kurang lebih tiga minggu ini berhasil meruntuhkan tembok keegoisan yang berdiri kokoh sejak beberapa tahun terakhir. Kesan pertama mengenalnya pun aku sudah memprediksi bahwasanya akan ada ketidakberesan yang menyinggapi hatiku. Benar saja bilamana waktu itu seketika tiba, entah aku yang membeku tersipu malu karna cukup lama tidak bercengkrama dengan perempuan sebaya atau aku yang terlambat sadar telah menyukainya sejak kesan pertama. Getaran tak biasa ini membuatku garis bibirku merekah ke pipi memunculkan rona kemerah-merahan.

Beberapa hari berselang setelah perayaan kecil dengan suasana hati ceria, aku dan dirinya mulai membangun fondasi kuat dengan pilar penyangga pada tiap sisinya. Bertemu untuk kali pertama, berdedikasi saling menjaga, berbagi tawa juga cerita. Mendapati kembali arti kebahagiaan yang lama tertimbun dibalik duka. Kesendirian yang selama ini dibalut sepi menjelma menjadi hulu ledak yang menyalakan setiap aspek penuh tangis dalam jiwa yang meronta. Maklum saja, ketiadaan penyemangat hidup pada rutinitas harian menjadikan setiap hal dalam hidupku tak jauh dari kata membosankan. Menemukan seseorang yang bisa kujadikan kembali sebagai tempat dan arah tujuan rasanya cukup menyenangkan. Berhubung ini adalah kali pertamaku kembali menjatuhkan hati, harapanku cukup tinggi untuk mengembalikan elemen kesenangan terhitung mulai dari detik ini.

Aku berjanji untuk tetap membersamainya dalam berbagai situasi. Mengesampingkan kepayahanku dengan sensitivitas kepekaan yang terasa menurun, aku tetap ingin mengimbanginya dari segi manapun. Tak peduli ujung kisah ini membawaku kemana, yang jelas untuk tumbuh dan memikirkan kelanjutan hidupku ditemani namanya yang terukir disetiap langkah; aku senang menjalaninya. Karena itulah kebahagiaannya diatas kepentingan dunia sekalipun. Meski ia pernah mempertanyakan mengapa ia tak seberuntung orang kebanyakan, aku akan menjadi orang pertama yang memunculkan faktor pengecualian. Dikesempatan ini, akan kubuat hidupnya penuh arti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...