Mudah saja untuk mengatakan aku adalah seseorang yang tak cukup punya kepercayaan. Mana mungkin aku berani mengabiskan sisa waktu kepunyaanku tanpa berkunjung ke rumahmu? Membiarkan impresi orang-orang menyetujui pernyataan bahwasanya kau tidak lagi bertemankan kesedihan. Wajar saja bilamana aku menggerutu, karna untuk kali ini aku tak setuju.
Risau memang rasanya meniadakan kebiasaan yang sudah menjadi rutinitas normal dikeseharian. Sebagaimana kedekatanku denganmu yang dianggap tidak wajar oleh sejumput kecil manusia, mereka terlalu serius menanggapinya. Memang benar pernah disuatu waktu ada masanya aku sempat menaruh sepucuk asa pada dirimu. Namun untuk membiarkannya bergejolak memerangi intuisi, apalagi memecah fraksi, aku memilih tak beraksi. Maka tak heran selama bertahun kita saling mengenal satu sama lain tapi tidak saling paham perasaan masing-masing. Dengan beberapa kali ajakan darimu tuk mengunjungi dimana tempat kamu tinggal, secara terus menerang aku urung mengiyakan dengan berbagai alasan. Bagiku biasa saja, namun bagi sebagian orang terdengar seperti kejanggalan.
Entah suatu kebetulan ataupun tidak, teman-teman disekitarmu bergantian datang memintaku satu-persatu. Mendesak selagi ada kesempatan aku diminta mencoba mendekatimu. Meskipun hal itu kerap kali membuatku merasa ringkih akan tetapi situasi kurang menyenangkan ini bisa saja menjadi kabar yang menggembirakan (bagi orang kebanyakan). Mereka berpendapat bahwa hanya aku yang mampu tuk meredam segala sedihmu, begitupun sebaliknya. Walau terkesan sedikit memaksa aku tak menampik hal itu benar adanya. Kendati begitu opini itu tak dapat membuat perasaanku kembali jatuh secara menyeluruh.
Aku pernah mendengar sebuah kutipan dari film terkemuka yang mengatakan; kekuatan besar mempunyai tanggung jawab yang juga sama besarnya. Begitu pula dengan menjatuhkan pilihan hati, terdapat sebuah komitmen besar yang perlu kita jaga sebagai bentuk dedikasi dalam kesungguhan menenggang perasaan. Aku rasa kamu mungkin setuju denganku, bahwa kita belum cukup siap merajut kalimat dari kata awal "kita".
Mungkin beberapa orang akan sedikit kecewa mendengarnya namun biarlah ocehan itu tetap ada. Aku tidak berkeinginan menjalin hubungan tanpa adanya progress positif; kecuali kamu sendiri yang meminta. Tergantung seperti apa sang pencipta melukiskan masa depan, dan diantara ujung penantianku berhenti pada namamu ataupun bukan. Aku sudah siap dengan segala kemungkinannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar