Minggu, 02 Maret 2025

sal,


Mengapa tidak ada yang memberitahuku bahwa fase paling tidak menyenangkan dari putus cinta adalah kehilangan kendali atas diri sendiri?

Dulu aku mengira kehilangan merupakan ketakutan terbesar akan masa depan, tenyata untuk saat ini apa yang sedang ku alami menepis semua kekhawatiran yang menjadi mimpi burukku saat itu. Nyatanya hal yang paling menakutkan adalah menyadari bahwa aku tak dapat lagi membuka hati untuk orang lain setelah pernah merasakan kehilangan. Seolah semua celah sudah tertutup, pintu beserta jendela telah terkunci. Tiada satupun yang mampu membuka ataupun mendobraknya.

Setaun lebih lamanya aku menambali semua luka-lukaku demi mencari sembuh. Puluhan tempat wisata sudah aku datangi, berbagai macam makanan khas pernah aku pesan untuk merasakan cita rasa berbeda, tempat-tempat yang belum pernah aku singgahi sebelumnya mulai ku kunjungi satu persatu. Banyak hal baru telah kucoba namun tak satupun berhasil menggantikan rasa senang yang dulu pernah aku dapatkan saat berada di dekatmu kala itu.

Aku tidak ingin membenarkan perkataan semua orang bahwasanya laki-laki hanya mencintai satu orang perempuan semasa hidupnya, kendati begitu aku tak menampik perasaan yang teramat sangat ingin ku tiadakan ini belum kunjung memudar seiring periode. Bagiku dia masih menjadi momen terindah dalam hidup, satu-satunya hal yang dapat mengalahkannya dalam perebutan kenang isi kepalaku adalah keegoisanku tuk meraih sesuatu. Namun kini aku tak menggebu mengejar impian, bak sebuah pilar yang akar penyangganya mulai retak; aku tak bersemangat.

Seorang teman menyadarkanku kalau tidak sebaiknya aku berada pada titik terendah seperti saat ini. Dahulu aku adalah pribadi yang periang, sejak ia menghilang dari dekapanku senyumku mulai mengikis raut kebahagiaan. Pada titik paling miris ini aku merasa menjadi manusia paling gagal. Bagaimana mungkin aku tetap memikirkan seseorang yang bahkan saat ini sudah mengukir kisah cinta barunya bersama orang lain? Bukankah sudah seharusnya perasaanku mengurang? Apakah ini yang dinamakan fase paling menyebalkan setelah kepergian? Sungguh menyesakkan, cukup sakit rasanya.

Sulit sekali membendung potensi ancaman besar bernama kerinduan. Jika timbul pertanyaan mengapa ia tumbuh dan datang begitu saja akupun tak memiliki jawaban pasti yang penuh keyakinan. Mungkin setiap manusia memang perlu melaluinya. Sebagaimana konsep alamiah  dalam kehidupan, proses demi proses perlu ditingkatkan untuk menaikkan level. Seperti halnya sebuah tahap dalam ujian ada yang berhasil dan ada pula sebagian yang tidak. Entah aku berada di posisi yang mana semoga itu yang terbaik.

Aku masih selalu mencarimu dimanapun aku berada, berharap rumah ternyaman yang pernah kujadikan tempat pulang itu dapat kembali padaku sebagai pemilik lamanya. Andai aku bisa lebih lama menyelam dalam lautan mimpi, bertemu denganmu sekali lagi, melihat sepasang mata itu lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...