Sabtu, 21 Juni 2025

los[h]er

Kupikir setelah ketenangan yang perlahan kunikmati sejak beberapa bulan lalu tidak akan ada lagi gangguan yang menggerogoti pikiranku dengan berbagai permasalahan pelik. Merupakan dering ponsel yang menderaikan perhatianku dari asiknya memandangi kumpulan terasering sawah yang membentang sepanjang jalan pedesaan yang ku sambangi saat ini.

Sebuah panggilan masuk dari nomor telepon yang tidak aku kenali membuatku terperangah. Terdapat angka (+62) yang menandakan bahwasanya nomor tersebut tidak pernah menghubungiku sama sekali atau mungkin memang tidak pernah tersimpan dalam daftar kontak tersimpanku. Sontak hal itu membuatku sedikit bergumam tanya, timbul sedikit keraguan untuk menjawab panggilan itu karna seringkali panggilan tiba-tiba seperti ini merupakan penipu yang kerap menawarkan asuransi. Maklum saja insting melindungi diri yang kumiliki sejak dini kerap berbunyi jika terdapat hal mencurigakan diluar intuisi. 

Setelah beberapa detik terdiam, kuputuskan untuk menjawab panggilan itu tanpa berfikir panjang sambil berkata halo dengan nada sapaan yang ramah. 

"Apa aku bisa bicara sama kamu?" ucap suara seorang perempuan yang membuka pembicaraan. 

Suara itu terdengar sangat familiar sekali. Nada bicara yang lazim merebak telingaku acapkali menghadirkan ketenangan yang selalu membantu syaraf-syaraf dalam otak memicu beberapa adegan-adegan indah sebelum malamku merambah dunia mimpi. Sejenak aku terpatung, diam dan membisu, menimbang apakah harus menjawabnya atau cukup diam tak beruara dan mengabaikannya saja. Pikirku.

"Aku tahu kamu nggak mungkin nerima aku lagi”, sambungnya sekali lagi.

"Jangan tanyakan padaku perihal sesuatu yang aku sendiri tidak tahu. Karena aku saja masih belum tahu. Aku ini kehilangan kamu atau kamu memang tidak pernah menjadi milikku sama sekali", sahutku. 

"Tapi aku sayang sama kamu, tolong berikan aku kesempatan sekali lagi", katanya dengan sedikit memaksa. 

"Apakah definisi kata sayang merupakan bagian dari penyesalanmu setelah kamu memilih pergi dan tidak bersedia kembali? Ataukah orang yang kamu pilih saat itu telah menelantarkanmu begitu saja sebagaimana yang kamu lakukan padaku? Aku kurang memahami maksud dari ucapanmu sekarang ini, karna kenyataannya apa yang kuterima sangatlah berbeda".

"Aku minta maaf", ujarnya pelan.

Untuk seseorang yang sudah menghabiskan seluruh batas toleransi dari logikaku, rasanya tidak masuk akal untuk membuka sejengkal inci ruas jendela hanya untuk memastikan apakah ia tidak beranjak pergi dari teras rumah. Menurutku puluhan kesempatan yang sudah kuberikan sangat lebih dari cukup untuk menilai seberapa pantas atau seberapa layakkah seseorang yang membersamaiku saat ini untuk diperjuangkan. Jika aku bukan lagi bagian dari tujuannya, maka sudah tidak ada lagi alasan bagiku mengemis belah kasihan. Sejak dari awal pun aku mengetahui, bahwa tupoksiku dalam hubungan sebelumnya hanya menemanimu dalam kesendirian.

Menyebalkan memang, tapi begitulah hidup. Kita tidak bisa memilih alur seperti apa yang akan kita dapat, berharap masa depan sesuai dengan prediksi yang digambarkan melalui khayalan yang menyebabkan kita terjebak dalam ilusi memabukkan, memang tak seperti yang diduga. Sebagaimana kepercayaanku yang binasa akibat terlalu mempercayaimu, sehingga dalam kemungkinan kali ini agaknya untuk mengulang perasaan yang sama nuraniku cukup sulit diyakinkan. Goresan luka itu masih membekas, dan kau tak pernah tahu seberapa banyak reruntuhan yang berusaha kukemas. 

"Sudah kumaafkan sejak lama, sekarang kumohon jangan pernah datang dihidupku lagi. Menjauhlah, dan asinglah selamanya", tegasku sambil mematikan panggilan dan memblokir akses nomor baru itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

2527

Apa tidak salah kudengar? Kau, menikah?  Hari itu adalah hari dimana hidupku berubah menjadi kelabu. Dalam sekejap seluruh semesta menjadi h...