Tidak ada orang lain yang mengenalmu sebaik diriku, dan tidak ada pula orang lain yang mengenalku sebaik dirimu. Namun bilamana diharuskan salah satu diantara kita mengungkap perasaan, kita takkan sejalan.
Hari demi hari opini itu terus mencuat. Tak heran jika beberapa teman memberikan tanggapan agar kita bisa kembali mempertimbangkan, bahwa menyatukan hati dari sebuah hubungan yang bermula dari kata teman tidak terlalu buruk untuk dicoba. Tapi seperti halnya batu karang keras di seberang lautan, masing-masing dari kita memiliki presepsi terbaik dengan pemikirannya. Baik aku ataupun kau, sama-sama mempunyai alasan jelas mengapa hubungan ini sebaiknya tak beranjak lebih.
Katamu
aku memang adalah seorang yang paling menyenangkan. Bagimu pula aku adalah
sebagian dari duniamu. Lalu apakah pantas aku disejajarkan dengan
berbagai macam pilihan yang sedang kau bimbangkan saat ini? Sekiranya
jika aku harus ikut dalam sebuah perlombaan, mungkin aku akan menyerah
pada fase pertama. Sejak awal aku tak memiliki optimisme berlebih untuk
mendapatkanmu. Kau tahu itu kan?
"Apa benar begitu?" tanya seorang teman, menyeletuk.
Memang benar, manusia penuh rencana sepertimu tidak layak untuk tidak diperjuangkan. Mungkin dari 10 tingkat cerminan baik dari sifat seorang perempuan didunia, kau mendapati salah 9 diantaranya. Kendati begitu aku tidak terlalu bernafsu membersamaimu membangun koneksi. Meskipun beberapa kali dewi fortuna menggelitik cercah harapannya pada binar bola matamu, aku tak bergeming. Bagiku kita sudah cukup seperti ini, seperti ini.
Aku sangat dipenuhi dengan ketidak-keyakinan, mengetahui banyaknya pesaing diluar sana yang saling menunggu giliran untuk mencoba masuk dalam ruang hatimu mungkin cukup menjadi alasan. Rasa pesimisku berjalan beriring dengan realitas bahwasanya tidak akan mungkin kau kan menjatuhkan hati padaku. Sekiranya kesempatan itu datang, maka aku akan cenderung menghindarinya. Untuk apa aku mencoba sesuatu yang bahkan aku sendiri belum tahu apakah kau akan setuju.
Sesiapapun diantara seorang pangeran, kesatria gagah ataupun badut penghibur serupaku yang berhasil mencuri hatimu pasti adalah manusia yang paling beruntung. Hanya saja jika diperkenankan aku tidak ingin ikut berpartisipasi dalam kompetisi ini, aku terlalu lemah untuk percaya diri. Entah seperti apa halnya nanti, bagiku kita sudah cukup seperti ini. Terlepas apakah nanti kau kan memilihku, ku pertaruhkan semua pasrahku pada waktu. Seimbang ataukah tidak semoga Tuhan menunjukkan jalannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar