Berdasarkan garis waktu yang ditetapkan, manusia-manusia yang dilahirkan ke dunia takkan lepas dari takdirnya masing-masing. Begitu pula dengan tanggung jawab yang kan mereka hadapi tak merubah apapun atas apa yang terjadi, meski beberapa diantaranya tidak senang atas apa yang sedang ia lalui. Serupa manusia penuh kejutan yang pernah kutemui selama periode tahun lalu, meski kedatangannya bersanding baik dengan keluh, kehadirannya cukup menghibur; sewaktu-waktu.
Ia merupakan gadis energik yang tidak pernah merasa lelah pada saat bercerita. Kegemarannya mengkonsumsi opini serta kemampuannya dalam berasumsi tak ayal membuatnya terlihat seperti pendongeng handal dari negeri seberang. Meskipun begitu, pada masa tertentu ada kalanya ia juga teramat sangat menjengkelkan.
Aku cukup lama tidak lagi menghubunginya. Terakhir kudengar ia sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang telah ia anggap spesial. Kendati demikian, kita tetap berteman seperti biasa. Walau, terkadang.. ia menyapaku hanya untuk meminta potret bulan purnama yang sering kubagikan dalam platform sosial media pribadiku. Mungkin baginya aku adalah album foto berjalan yang mengkoleksi begitu banyak potret objek pemandangan dalam berbagai bentuk dan juga versi. Kurasa ia berfikir seperti itu.
Satu hal yang cukup menggelitik adalah kehadirannya yang sangat mudah ditebak. Contohnya ketika kebiasaanku yang rutin membagikan berbagai objek yang sempat kuabadikan pada lensa kamera selagi melakukan perjalanan. Kemudian tak lama berselang, ia selalu datang mana kala aku memiliki gambar yang ia sukai. Bak seorang tersangka kasus dugaan pembunuhan, gerak gerikku seperti dipantau. Wajar saja bilamana kuanggap ia selalu muncul tatkala suasana hatinya sedang gembira.
"Ihh bunga mataharinya cantik mas, aku boleh minta gambarnya gak?", begitu ucapnya yang tertera melalui notifikasi WhatsApp yang belum terbaca dari layar handphoneku.
Memang kuakui ia merupakan gadis yang cukup menyenangkan, disamping rasa percaya dirinya yang terlalu tinggi, bagiku ia mampu memberi warna tersendiri ditengah hitam putihnya dunia.
Aku menyadari bahwasanya, pertemuan kita diawal tak memberikan kesan. Antar kita satu sama lain tidak memiliki kesamaan, ia yang terlalu sibuk bergelut dengan moodnya sendiri sangat jauh berbeda denganku yang lebih detail dalam memperhatikan sesuatu. Meskipun kuanggap gadis satu ini cukup unik. Untuk pertama kali, si penyuka bulan ini mematahkan stereotipe dari kelompok manusia pada umumnya; termasuk asumsiku sendiri.
Yaa jika saja waktu dapat berhenti, aku ingin lebih memperhatikan tingkah lakunya yang sedikit berbeda dari kebanyakan. Sikap yang ia tunjukkan cenderung mengagumkan, seakan kemampuan dan daya tarik manusia ini diatas rata-rata. Mungkin saja pada saat Tuhan menciptakan ia mengambil lebih banyak hak kepemilikan. Salah diantaranya adalah kedigdayaannya yang menyebalkan.
Namun seperti yang kukatakan, bertemu dan mengenal baik dirinya merupakan takdir yang tidak dapat kuhindari. Selagi tidak menciderai, aku cukup menikmati.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar