Hari ini aku memutuskan untuk mengunjungi tempat dimana kita sering bercengkrama menghabiskan waktu sehabis mengelilingi kota; pada suatu ekowisata lokal kita pernah membagi cerita.
Ditempat duduk ini semua terasa dingin, entah karena aroma hujan yang menyengat atau aku yang datang terlalu pagi membuat suasana terasa lebih sedikit menabuh peluk.
Seperti biasa tempat ini mengingatkanku akan aroma bakaran ikan pada malam tahun baru. Maklum, sebagian besar penduduk lokal disini berprofesi sebagai nelayan yang mayoritas diantara mereka juga memiliki kedai dan restoran yang menjual aneka masakan. Untuk beberapa kesempatan, kau selalu membujukku berhenti di tepian, menikmati air kelapa muda ditemani suara desiran ombak yang saling bersambutan. Ahh menyebalkan rasanya mengingatmu dalam sepucuk rindu.
Tidakkah semua kenang ini sedikit terlintas dalam benakmu? Beberapa hal yang terlampau manis dari perjalanan kita berdua sangat jelas terlukis pada tiap ruas jalan selama ku menapaki langkah demi langkah menyusur tempat ini. Bukankah kita pernah berjanji untuk tidak saling menyakiti? Seingatku kau begitu bahagia bersamaku. Setiap lembar halaman cerita yang kita lewati selalu gemilang dengan luar biasa. Ditempat ini, aku sama sekali tidak lupa bagaimana kau menabur senyum dengan sumringah, merajut waktu dengan penuh kebahagiaan, memeluk sedih agar tak kembali berlarut. Dunia seakan berhenti manakala kau tiada henti melempar kejutan. Kau selalu berhasil menjadikan hal-hal kecil terasa lebih berkesan, menjadikan semua ingatan itu tak mudah tuk dilupakan.
Aku kembali menyambung langkahku. Pada momen ini, relung hatiku benar-benar terasa seperti sedang dilanda gundah-gulana. Jikalau tidak terjadi hal menyebalkan yang menimpa hubungan kita, mungkin pada detik ini; kita saling bertukar tawa. Betapa indahnya impian dulu yang seharusnya kita bangun kala itu. Andai kejadian tak elok itu bisa kucegah; mungkin kita telah bersama. Mungkin.
Sial. Begitu sesal rasanya mendapati semua yang terjadi tak bisa lagi dirubah. Aku hanya berharap suatu saat Tuhan mengetuk hatimu tuk kembali padaku. Kita pernah seindah itu; dulu. Apa kau tidak merindukan masa dimana setiap hiruk piruk dunia dikikis dengan gelak tawa seperti halnya yang pernah kita bagi bersama, karna aku pun merasa begitu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar