Untuk seseorang yang telah lama tidak menjalani hubungan sepertiku tentu saja mempunyai impresi berbeda tentang sebuah perhatian kecil yang bagi sebagian besar manusia takkan menganggap itu hal yang luar biasa. Mengesalkan memang, namun tetap harus diakui bahwasanya saat ini aku merupakan orang yang paling lugu dalam menyimpulkan kebaikan hati dari orang lain.
Wajar saja jika aku tersipu, sebuah gelak tawa takkan terpicu bilamana syaraf otak tak mendapati rangsangan hal menyenangkan. Begitu pula dengan ukiran senyum yang meleburkan segala macam permasalahan dunia. Meski aku telah lama mengenalmu baru kali ini kau hadir dalam bentuk istimewa, kendati begitu aku belum mengerti maksud tujuanmu memberi pertanda. Jikasanya kau memilih berteduh dalam satu nauangan yang sama bersamaku, aku dapat menyediakan tempat. Demikian halnya proses sembuhku yang berangsur membaik, memperoleh partner bertualang terdengar cukup manis tuk diimpikan, setidaknya begitu.
Berada dalam posisi seperti ini sebenarnya membuatku sedikit dilema. Bagaimana jika salah satu diantara kita menjatuhkan perasaan? Bagaimana jika aku menaruh hati lebih dulu padamu? Atau bagaimana jika terjadi hal tak terduga diluar prediksi? Jujur saja aku belum siap dengan segala kemungkinan dengan probabilitas tak pasti seperti ini. Hatiku belum cukup tegar untuk menerima serangkaian agresi. Sungguh.
Aakhh sial. Rasanya ingin ku bumi-hanguskan seluruh isi semesta. Kehadiranmu bukan sama sekali sebuah ekspektasi yang kuharapkan. Maksud terselubung apa dibalik ini semua? Karna sebenarnya aku benar-benar tidak ingin kembali terdiktraksi pada kalimat "aku mengagumimu sejak lama". Tidak, aku tak ingin begitu.
Ada baiknya hubungan pertemanan ini tetap terfraksi sesuai dengan porsinya. Entah bagaimana caraku menanggulangi perasaanku, biarlah bersimbur dalam kesunyian. Sebab kita bukan orang awam tuk menjalani situasi seperti ini. Biarlah semua berjalan sesuai rencana, tanpa tersengah, tanpa tergesa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar