Beberapa bulan berlalu, banyak yang berubah..
Suatu hal yang tadinya terasa begitu manis, kini menjadi pahit.
Perahu layar yang sedang kita naiki kini berbeda tujuan, seakan memiliki dua arah mata angin yang saling berlawanan. Kita tidak bergerak sama sekali.
Jika kemarin kita bisa menjadi teman berbagi, mengapa tidak lagi dengan hari ini? Bukankah kita pernah saling melukai hati namun pada akhirnya kita (kembali) saling mencari.
Begitu banyak perbedaan yang kurasakan sekarang, aku seperti tidak lagi mengenalmu. Kau tampak seperti orang asing yang menawarkan segelas madu dengan harga murah, kemudian berkata terimakasih setelah aku membelinya.
Kenapa hanya aku yang
harus menerima keadaan, bahwa aku sudah kamu lupakan dan mungkin bukan lagi
orang yang kamu tuju dikemudian?
“Semudah itukah?”, pertanyaanku berulang.
“Kita hanya teman”, katamu.
Kini aku tidak begitu ingat betapa indah senja yang pernah kita bagi bersama, lalu kamu menatap kearahku seakan momen itu tidak ingin kamu hilangkan. Lantas kini kamu menguburnya begitu saja? Tanpa bertanya kepadaku?
Aku membiarkannya masuk, membukakan pintu yang semestinya tidak pernah kutawarkan untuknya. Mungkin menyediakan biskuit jahe dengan secangkir teh panas terasa lebih baik setelah mengingat apa yang telah ia perbuat terhadapku.
Pada akhirnya ia tetap meninggalkan, sebagaimana cerita baik yang diselesaikan walau tak pernah diciptakan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar